Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Luka Seorang Istri.


__ADS_3

Darren terdiam sembari menatap sendu ke arah Kiran. "Sayang, aku....."


" Pergilah, Kekasihmu sudah memanggil," ujar Kiran setelah samar - samar ia mendengar suara Shelvi memanggil Darren.


Darren menghembuskan napas panjang. ia beranjak berdiri dan menatap lekat ke arah Kiran. " Aku sudah minta maaf dan merasa menyesal. Tapi kenapa kamu tidak mau memaafkanku?"


Kiran tidak menjawab ia lebih memilih diam dan menatap foto keluarganya. Darren menyugar rambutnya ke belakang.


"Kamu sangat egois, Ran. Aku hanya berbicara seperti itu, tapi kenapa kamu tidak mau memaafkanku? Bahkan aku sejak tadi sudah mengemis minta maaf padamu,"


"Aku...." Belum sempat Kiran melanjutkan ucapannya. Seseorang datang membuka pintu kamar Kiran.


Kiran menghela napas lelah. perasaannya semakin tidak karuan saat melihat siapa yang saat ini sedang berada di ambang pintu.


"Darren...." ucap Shelvi kemudian beralih menatap ke arah kiran dan berkata " Ran, Apa kamu memarahi Darren karena aku berada disini?" tanya Shelvi. Matanya tampak begitu sendu ketika beradu pandang dengan Kiran.


"Aku rasa kamu tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam kehidupan rumah tanggaku. Jadi silahkan kamu keluar dari kamar ini," jawab Kiran ia menatap tegas ke arah Shelvi.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa aku salah jika meminta tolong pada Darren, Ran? Kamu keterlaluna," ujar Shelvi. Raut wajahnya berubah, Matanya pun terlihat berkaca - kaca.


"Keterlaluan? Apa maksudmu? Bukankah kamu yang sudah keterlaluan?" tanya Kiran lagi. Kali ini ia berdiri sembari menatap datar pada wajah Shelvi. Tatapan Kiran begitu tajam dan menusuk.


"Kenapa aku yang keterlaluan? Sungguh, Kalau kamu memang tidak suka padaku, katakan saja, Ran! Kamu tidak perlu marah dengan Darren. Dia hanya berniat membantuku saja," jawab Shelvi sembari menatap ke arah Kiran.


Kiran menghembuskan napas panjang. ia memejamkan mata sejenak lalu betakata, "Ya. Aku memang sangat tidak suka kamu berada di sini. Seharusnya kamu sadar diri, Shelvi!" sentak Kiran suaranya sedikit meninggi hingga membuat Shelvi pun beringsut mundur dan pura - pura ketakutan.


" Zivanna Kirannia! Pelankan suaramu. Apa pantas seorang wanita berbicara kasar begitu, hm?" tanya Darren ia menatap Kiran marah.

__ADS_1


"Kamu berbicara kata 'Pantas' Tuan? Kalau begitu apa pantas seorang suami membawa dan membela wanita lain di depan istrinya sendiri?" tanya Kiran balik. Rasa marahnya semakin memuncak ia benar - benar tidak menyangka jika Darren akan secepat itu berubah padanya.


"Kiran, Harus berapa kali lagi aku katakan padamu? Aku hanya....."


"Oke, Terserah! Percuma aku berbicara dengan orang yang tidak memiliki pendirian sepertimu. Silahkan bersenang - senang, aku tidak akan menganggu kalian lagi," ujar Kiran. suaranya parau dan sedikit bergetar. Kali ini Kiran pasrah dan enggan berdebat lagi dengan Darren.


"Bersenang - senang apa maksudmu, Ran? Ku mohon jangan membuatku semakin marah dengan semua kata - katamu," balas Darren ia mencekal pergelangan tangan Kiran yang hampir berjalan melewatinya.


Kiran tidak menjawab. ia memilih menatap lekat ke dua manik mata Darren. Kiran tersenyum tipis kemudian berkata "Lepaskan aku, Tuan."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi, Ran!" Darren berteriak sambil menatap nyalang ke arah Kiran. Tapi Kiran sama sekali tak peduli. ia memberontak dan menghempasakan tangan Darren.


"Lalu aku harus meamanggilmu apa?"


"Keterlaluan sekali kamu, Ran! Apa begitu caramu bersikap kepada suamimu? Astaga, aku pikir kamu wanita baik - baik. Tapi ternyata..."


"Diam!! Kamu tidak berhak bicara disini, Shelvi! Pergilah! Aku sudah muak melihat wajahmu!" bentak Kiran sembari melirik ke arah Shelvi.


"Darren, Lihatlah apa kamu mendengarnya? Sepertinya istrimu sangat tidak suka jika aku berada disini. Kalau begitu biarkan aku pergi," kata Shelvi. ia menunduk sembari mencekal baju bagian belakang Darren.


Kiran tersenyum sinis melihat Shelvi yang berpura - pura tersiksa. "Bagus! Kamu memang tidak layak berada di sini. Pergilah! dan jangan pernah kembali ke sini. Sia....."


PLAK!


Kiran membulatkan matanya. Deru napasanya semakin menderita ketika merasakan tamparan dari pipi kanannya. Dengan tangan gemetar ia menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih.


Kiran menatap lurus kearah Darren yang baru saja menamparnya. Alih - alih marah, Kiran justru tersenyum begitu manis, Meski air matanya semakin membasahi pipinya.

__ADS_1


"Sepertinya aku sudah tidak di butuhkan lagi di sini. Terima kasih ya karena beberapa hari ini, Tuan sudah bersedia mencintaiku," Kata Kiran hatinya semakin perih dan tidak mampu lagi menahan semuanya.


Sementara itu, Darren justru tertegun. Tangannya bergetar hebat dan matanya pun mulai memanas. Darren benar - benar tidak begitu sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


"Maafkan aku. Sungguh aku tidak sengaja melakukan itu, Ran" kata Darren sambil menarik Kiran kedalam pelukannya.


"Sekarang rasa percayaku padamu, benar - benar telah sirna, Tuan. Aku tidak bisa berada lagi di sini. Aku tidak sanggup menahan ini lebih lama lagi. Jadi ayo, Kita berpisah saja!" ajak Kiran sembari mendorong tubuh Darren agar menjauh darinya.


"Tidak, Sayang! Jangan pernah berkata seperti itu! Aku tidak mau berpisah darimu lagi. Aku sangat mencintaimu," ucap Darren. ia berlutut di depan Kiran sambil mendongak dan meneteskan air mata.


"Untuk apa kita meneruskan pernikahan ini? Kamu saja lebih memilih membela wanita lain dari pada istrimu sendiri,"


"Aku minta maaf. Aku khilaf, Ran. Aku...., Aku hanya tidak suka mendengarmu berbicara kasar seperti itu," ucap Darren. Kali ini hatinya benar - benar dilanda penyesalan.


Kiran tidak membalas uacapan Darren. ia memilih berjalan pergi meninggalkan kedua manusia yang sudah membuatnya terluka. Sekuat tenaga, Kiran menahan tangisnya sembari berjalan menuju ke arah taman belakang.


"Sudahlah, Darren! Biarkan istrimu itu tenang dulu. Lagi pula untuk apa kamu meminta maaf sampai berlutut begitu?"


Darren tidak membalas ucapan Shelvi. ia menunduk sembari menatap tangannya yang baru saja menampar Kiran. Darren memejamkan mata erat ketika ia kembali teringat dengan semua janji - janji yang ia berikan kepada Kiran.


"Kiran maafkan aku," lirih Darren parau.


"Istrimu sudah keterlaluan, Darren. Kalau dia memang tidak suka padaku, seharusnya dia tidak begini. Tapi ah ya sudahlah, aku tidak berhak untuk ikut campur," ucap Shelvi sembari meniggalkan Darren.


"Ya tuhan, apa yang aku lakukan?" gumam Darren pilu.


Kiran duduk termenung di taman belakang. Meski cuaca semakin dingin karena hari sudah cukup larut malam, tapi Kiran tidak memiliki niatan untuk masuk. Hatinya tengah gundah memikirkan semua persoalan yang ia hadapi.

__ADS_1


"Apa aku harus pergi agar dia bersikap baik lagi padaku," lirih Kiran ia memejamkan mata sembari menikmati hembusan angin malam.


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2