Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Luapan Hati Kiran Part 2


__ADS_3

Tubuh Pandu menegang. Desiran - desiran halus, mulai merayap di hatinya. Mata Pandu memanas, rasa rindu yang begitu membuncah kepada Lesti, kini seolah terobati. Namun, di sisi lain Pandu belum bisa percaya sepenuhnya.


"Jangan bercanda, Arya!"


"Saya tidak bercanda. Dia Kiran, anak pertama dari Lesti,"


Pandu memejamkan mata, gelora rindu yang sejak dulu ia coba padamkan, kini membuncah ruah.


"Kenapa kamu tega meninggalkan Ibu, apakah harta jauh lebih berharga di bandingkan sebuah keluarga?"


Kiran menatap sinis ke arah Pandu. Tidak ada pancaran rindu atau pun bahagia yang di tunjukkan oleh Kiran. Hatinya seolah mati ketika melihat sosok pria yang di depannya.


Sementara itu, setelah mendengar ucapan Kiran, Pandu kembali merasa bersalah.


"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sungguh tidak bermaksud meninggalkan kalian. Ayah ha...."


"Ayah? Siapa yang kamu sebut sebagai Ayah? Sampai kapan pun aku tak tidak akan pernah menganggapmu sebagai seorang Ayah?!" Tukas Kiran. Napasnya memburu karena emosi yang menggebu - gebu di hatinya.


"Kamu pasti sangat marah. Tapi tolong mengertilah, Nak! Ayahmu pergi karena ingin memperbaiki ekonominya," kata Lesti yang berusaha ingin menenangkan Kiran.


Namun, alih - alih tenang, Kiran justru semakin murka. Ia terkekeh sumbang sambil menatap tajam ke arah Lesti.


"Memperbaiki ekonomi? Lalu, setelah ia berhasil, kamu dengan bangganya mendekati dia?" tanya Kiran.


"Bukan begitu, ceritanya sangat panjang, Nak. Sekarang kamu tenang dulu! Biar Ayah jelaskan semuanya padamu," ucap Pandu, ia mendekati Kiran dengan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Apa yang ingin kamu jelaskan lagi?! Bukankah semuanya sudah jelas? Kamu meninggalkan Ibu dan menelantarkan kami semua. Apa kamu pernah berpikir sebelumnya? Bagaimana rasanya menjadi kami?" Air mata Kiran membuncah seketika. Ia tidak mampu menahan sesak yang sedari tadi memenuhi relung hatinya.


Pandu tidak mampu berbicara, ia bergegas langsung menarik Kiran dan memeluknya. Pandu menangis, bahkan untuk pertama kalinya ia rela meruntuhkan harga dirinya di depan banyak orang demi Kiran.


"M...Maafkan, Ayah, Nak. Ayah sungguh menyesal karena tidak pernah mengunjungi kalian. Tapi sungguh, Ayah selalu merindukan Ibumu dan yang lainnya."

__ADS_1


"Apa kata maaf bisa mengembalikan Ibu? A...Andai kamu tidak pergi Ibu tidak perlu bekerja keras seperti dulu. Ibu sangat menderita melihatmu dengan wanita lain," lirih Kiran sembari mencengkram kuat jas yang di pakai oleh Pandu.


Pandu semakin mengeratkan pelukannya. "Nak Ay...."


"Ibu rela bekerja keras demi kedua anaknya dan juga Ibumu. Tapi kenapa kamu begitu tega meninggalkannya? Apa karena Ibu tidak cantik?" tanya Kiran sambil mendorong tubuh Pandu.


"Tidak. Bukan begitu, sampai saat ini pun Ayah juga masih menyayangi Ibumu, Nak."


"Lalu kenapa kamu tidak pernah kembali? Kenapa kamu membuat Ibu dan Nenek menderita?" jerita Kiran. ia menunduk sembari mencengkram kuat rambutnya.


"Maaf, Ayah pikir kalian sudah terbiasa tanpa Ayah. Jadi...., Ayah memutuskan untuk tidak kembali. Ayah......"


"Terbiasa katamu? Demi Tuhan! Setiap hari Nenek selalu menanyakanmu. Bahkan Ibu selalu menangis hanya karena melihat fotomu!" Tukas Kiran. Suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.


"Nak...."


"Bahkan Adikku Bagas harus pergi secepat itu. Dia mati - matian menggantikan posisimu meski masih sangat muda. Tanggung jawab yang di embannya begitu besar dan akhirnya dia menyerah. Dia pergi meninggalkan aku sendirian," ujar Kiran. Ia terisak sambil melihat Pandu penuh luka.


Pandu tidak mampu menahan tangisnya.Bahunya bergetar hebat dadanya pun bergemuruh menahan sesak sekaligus penyesalan.


"Kalau begi...." Ucapan Kiran terhenti. Ia mengernyit ketika merasakan pening yang teramat sangat. Kiran meringis sembari menyentuh kepalanya.


Kiran mencoba menatap Pandu. Namun, sayangnya matanya justru berkunang - kunang. Kiran semakin meringis, hingga perlahan - lahan matanya pun mulai tertutup dan....


Bruk!


Kiran!


Kiran terduduk di lantai dengan mata yang terpejam. Tangannya tampak mencengkram kuat gaun berwarna putih yang ia kenakan. Sesekali, dari bibirnya terdengar suara rintihan pelan.


"Sayang, jangan memaksakan diri," ujar Darren yang kini sudah berada di samping Kiran. Ia berjongkok sembari mengusap lembut bahu Kiran yang tengah bergetar pelan.

__ADS_1


"Aku tidak memaksakan diri, Mas. Aku hanya sedang kecewa dengannya. Bertahun - tahun aku dan Ibu hidup menderita. Tapi apa ini? Dia bahkan tidak merasa bersalah sama sekali!" Kata Kiran. Suaranya yang meninggi dengan tatapan tertuju pada Pandu.


"Iya aku tahu kamu sedang marah dan juga kecewa. Tapi jangan begini! Kita teruskan semuanya nanti. Kita bisa menyelesaikannya dengan baik - baik.


"Tidak bisa, Mas! Bahkan rasanya aku ingin sekali melihatnya menderita," tukas Kiran. Suaranya semakin parau, begitu juga dengan tubuhnya yang semakin gemetar.


Mendengar ucapan Kiran, semua yang ada di ruang tamu pun tekejut. Mereka tidak menyangka jika Kiran akan berbicara cukup kasar. Namun, siapa yang berani menyalahkan? Toh semua ini Pandu lah yang bersalah. Ia yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan Kiran murka.


Kiran marah, ia ingin melampiaskan semuanya. Namun, di sisi lain diam - diam dia juga rindu dengan sosok seorang Ayah.


"Zivanna..." Pandu berusaha mendekat. Bahkan ia hampir berjongkok di dekat Kiran. Pandu mengulurkan tangannya, ia berharap Kiran bersedia menerima uluran tangannya.


Namun, alih - alih menerima. Kiran justru menghempaskan tangan Pandu dengan kasar. Tatapan matanya pun begitu tajam, seolah - olah ia enggan duduk di dekat Pandu.


"Jangan menyentuhku! Jangan mendekat! Dan jangan kau berpura - pura peduli denganku!" Ujar Kiran air matanya semakin banyak membasahi pipi.


"Nak, Ayah memang peduli padamu.


Ayah sudah sangat menyesal karena sudah meninggalkan kalian. Ayah...."


"Peduli? Setelah semua yang sudah terjadi, kamu baru mengatakan peduli? Kalau kamu memang peduli, sudah seharusnya sejak lama kamu mencari keberadaanku," balas Kiran.


Matanya menatap nanar ke arah Pandu yang kini juga sedang memejamkan mata. Kiran terluka, bahkan rasanya jauh lebih menyakitkan dari pada di abaikan oleh Darren dulu.


Memang siapa yang tidak terluka? Setelah ribuan luka dan air mata, kini Pandu justru bersikap seolah - olah dirinya juga ikut terluka. Padahal, sudah jelas - jelas selama ini ia hidup bahagia dengan keluarga barunya.


"Katakan Kiran! Apa yang harus Ayah lakukan agar kamu mau memaafkan Ayah?" tanya Pandu lagi. Ia duduk bersimpuh di depan Kiran.


"Kalau kamu bisa mengembalikan Ibu, maka aku akan memaafkanmu," jawab Kiran dengan suara yang begitu datar.


Pandu membelalakan matanya. Ia tidak mungkin membawa Larasati yang sudah meninggal kembali ke dunia. Maka, artinya ia pun tidak akan mendapatkan maaf dari Kiran. Akan tetapi, Pandu tidak akan menyerah begitu saja. Tekadnya sudah bulat.

__ADS_1


Pandu ingin mendapatkan maaf dari Kiran. Ia juga berharap agar hidupnya menjadi lebih tenang setelah Kiran memaafkannya.


Jangan lupa, like komen, dan vote.


__ADS_2