Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Menyusun Rencana


__ADS_3

"Sepertinya Shelvi sedang dalam bahaya, Ken. Perasaanku tidak enak. Tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa sekarang," ujar Bara ia mengusap wajahnya pelan, lalu bersandar pada sandaran sofa.


Kenzo mengernyitkan dahi, setelah itu ia pun kembali duduk. Kenzo bersedekap sementara matanya terus tertuju pada Bara.


"Dalam bahaya bagaimana maksudmu, Bara? Memangnya sekarang Shelvi ada dimana? Saya tidak melihtanya lagi semenjak dia pergi dari rumah saya," kata Kenzo.


"Shelvi tergila - gila dengan Kevin, Ken. Dia berubah menjadi gadis yang pembangkang. Bahkan, dia memutuskan pergi dari rumah dan tinggal bersama Kevin."


"Jadi, saat ini Shelvi bersama Kevin?" tanya Kenzo.


Bara mengangguk pelan. Ia kembali frustasi saat mengingat tentang Shelvi. Ia begitu sangat menyayangi Shelvi. Namun, di sisi lain ia juga marah pada Shelvi karena Shelvi selalu mengabaikan ucapannya.


"Kalau begitu kamu khawatir? Shelvi mungkin sedang baik - baik saja. Ah, atau mungkin saja dia sedang ikut merencanakan sesuatu untuk melawan saya," ujar Kenzo sembari tersenyum miring.


Mendengar ucapan Kenzo. Bara menundukkan kepalanya karena merasa malu. Setelah itu, ia pun berkata, "Ken, aku minta maaf karena ulah putriku rumah tangga Darren dan Kiran hampir putus. Aku....."


"Untuk apa kamu minta maaf, Bara? Itu sudah berlalu jadi abaikan saja. Sekarang, kalau kamu memang ingin memastikan kondisi Shelvi, pergilah!"


Bara terkejut hingga reflek menatap Kenzo. Bara tidak menyangka jika Kenzo akan mengijinkannya untuk mencari tahu keberadaan Shelvi saat ini. Ia pikir Kenzo sangat membenci Shelvi. Namun, ternyata Kenzo masih memiliki belas kasihan kepada putrinya itu.


"Ken, kamu serius? Kamu tidak marah kalau misalkan aku membawa kembali Shelvi?" tanya Bara sambil menatap penuh harap ke arah Kenzo.


"Untuk apa saya marah? Saya juga mempunyai seorang keponakan perempuan. Jadi saya tahu betul bagaimana perasaanmu saat ini." balas Kenzo. Ia tersenyum tipis, sehingga membuat Bara pun menjadi lega.

__ADS_1


"Terima kasih banyak untuk semua kebaikanmu, Ken. Aku akan mencari Shelvi," ucap Bara.


"Hm, tapi ingat Bara! Saya melakukan ini semua karena saya kasihan denganmu. Bukan karena Shelvi."


"Ya aku mengerti Ken. Sekarang ayo kita lanjutkan pembicaraan kita sebelumnya," ucap Bara dengan penuh semangat.


Saat ini Bara dan Kenzo sedang berada di ruang kerja Kenzo. Mereka sedang membahas seberapa persen rencana yang di susun untuk menyelesaikan masalah Bima dan Niko.


Kenzo tidak ingin menundanya lagi. Selain itu, ia juga tidak ingin membuat Bima ataupun Niko memiliki kesempatan untuk menyerangnya lagi.Oleh karena itu, Kenzo ingin segera menyelesaikannya semuanya.


"Jika kita membawa setidaknya lima puluh anak buah, apa menurutmu itu sudah cukup, Ken? Atau perlu di tambah?"


"Lima puluh orang? Hm, bagaimana dengan Niko? Apa dia masih memiliki anak buah?" tanya Kenzo balik, ia menatap serius ke arah Bara.


Kenzo menganggukan kepala. Ia terdiam sembari memikirkan berapa anak buah yang harus ia kerahkan.


"Jadi bagaimana Kenzo? Aku butuh keputusanmu secepatnya,"


"Lima puluh orang saja, Bara. Saya rasa mereka bisa mengalahkan anak buah Niko," jawab Kenzo.


"Oke. Untuk masalah anak buah sudah selesai. Sekarang bagaimana kalau masalah senjata? Apa mereka juga perlu di beri senjata api?"


Kenzo dengan cepat menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu.Lagi pula mereka belum tentu bisa menggunakannya. Biarkan mereka membawa apapun yang mereka inginkan selain senjata api,"

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau lawan mereka membawa senjata api? Bukankah, akan sangat berbahaya, Ken?"


"Kamu pikir Niko punya banyak uang untuk membelinya? Kalau pun Bima, saya tidak yakin jika dia mampu membeli senjata api dalam jumlah banyak,"


Bara terkekeh pelan setelah mendengar ucapan Kenzo. Namun setelah itu, ia pun menganggukan kepala.


"Baiklah. Sekarang kita akan membahas hal yang jauh lebih penting, Ken. Jadi.. apa kamu yakin untuk... menghabisi Bima?"


Kali ini Kenzo terdiam. Dari raut wajahnya terlihat jelas kebingungan serta rasa bimbang.


"Kalau situasinya memungkinkan, saya akan melakukannya. Tapi, entahlah kita lihat saja besok," ujar Kenzo sedikit bimbang.


Bara tersenyum tipis. Kali ini ia setuju, kalau Kenzo menghabisi Bima secara langsung. Tetapi sebenarnya Bara kurang setuju. Sebab, Bara tidak ingin melihat Kenzo mendekam di penjara.


"Baiklah, jadi keputusan kita sudah bulat. Kalau tidak ada halangan, besok malam kita akan segera menyelesaikannya semuanya," ujar Bara.


"Hm, ngomong - ngomong bagaimana keadaan Alex dan Bastian saat ini? Apa mereka baik - baik saja?"


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2