
"Kok, kamu belum siap - siap?" tanya Darren. Ia terkejut saat melihat Kiran yang masih sibuk mengurusi Arka.
"Eh, iya, Mas. Ini tadi Arka nangis terus. Makanya aku belum sempat siap - siap. Aku juga belum sempat mandi," kata Kiran, ia mengulas senyum tipis kemudian kembali sibuk dengan Arka.
Darren menghela napas pelan. Ia tersenyum manis kemudian duduk di samping Kiran. Ia memperhatikan Arka yang begitu lahap menyusu.
"Sini biar Arka sama aku. Kamu siap - siap dulu sana!" Kata Darren sembari mengusap lembut perut Kiran.
"Tapi kamu sudah rapi gini, Mas. Nanti kalau baj....." Kiran menghentikkan ucapannya. Ia terdiam saat Darren menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Tidak masalah, yang terpenting kamu siap - siap dulu. Tamu - tamu sudah banyak yang datang, Ran. Nggak enak kalau kita nggak nyapa."
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu. Kamu tunggu disini ya. Atau kalau kamu mau keluar dulu juga tidak apa - apa."
"Aku keluar dulu yah, aku mau lihat - lihat dulu. Kayaknya tadi persiapannya ada yang belum lengkap deh," kata Darren sambil tersenyum tipis.
Kiran menganggukan kepala, setelah itu, ia menyerahkan Arka kepada Darren.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu. Nanti kalau sudah selesai aku nyusul ke bawah," ujar Kiran sambil tersenyum manis.
"Ya, jangan cantik - cantik dandannya! Aku nggak mau laki - laki lain tertarik sama kamu," bisik Darren sambil mengecup pelipis Kiran.
"Kalau begitu aku nggak usah dandan aja ya, Mas. Pakai baju gini aja ya," gurau Kiran sambil menunjuk piyama yang ia pakai.
Darren menghembuskan napas pelan. Satu tangannya terangkat lalu mengacak rambut Kiran.
"Nggak gitu juga, sayang. Tapi kalau aku sih nggak apa - apa, kamu pakai baju apapun tetap sangat cantik. Apalagi kalau nggak pakai ba....."
Puk!
Kiran reflek menepuk bibir Darren sebelum selesai bicara. Ia bersedekap sembari menatap malas ke arah Darren.
"Kebiasaan, kalau ngomong nggak di pikir dulu. Udah sana keluar dulu! Takutnya nanti Mama nyariin," ucap Kiran sambil mendorong tubuh Darren agar menjauh darinya.
"Tapi aku pengin liat kamu mandi. Gimana dong?" Darren terkekeh geli sembari menaik turunkan alisnya. Oleh karena itu sontak pipi Kiran pun bersemu merah.
__ADS_1
"Mas, jangan gitu dong! Aku kan jadi malu!" Kata Kiran sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Loh, memangnya kamu bisa malu, Ran?" Darren semakin tergelak. Apalagi ketika melihat raut marah dari waajah Kiran. Menurutnya Kiran begitu menggemaskan.
"Kamu kira, aku nggak punya malu, Mas? Ah, males deh, aku jadi marah sama kamu!" Tukas Kiran sembari bersedekap dan menatap sinis ke arah Darren.
"Sayang, aku hanya bercanda jangan marah gitu dong," kata Darren sembari menyentuh pundak Kiran. Namun, Kiran buru - buru menyingkirkannya.
"Jangan sentuh - sentuh aku!" Ketus Kiran.
Tentu Kiran hanya berpura - pura marah kepada Darren. Mana mungkin ia bisa berlama - lama marah dengan Darren yang begitu menggemaskan untuknya.
"Ya sudah, aku keluar dulu. Jangan lama - lama dandannya! Aku tunggu di bawah ya!" Kata Darren ia mengecup dahi Kiran sekilas. Setelah itu, ia pun berbalik dan meninggalkan Kiran.
Melihat kepergian Darren, Kiran menggelengkan. kepala sembari berkacak pinggang, " Dasar laki - laki nggak peka, harusnya dia bujuk aku," gumam Kiran.
Setelah puas menggerutu, akhirnya Kiran pun memutuskan untuk mandi. Ia tidak sabar ingin bertemu lagi dengan Arka.
Sementara itu, kini Darren sudah bersama dengan Arya dan juga Daniel. Arya? Y..., pria itu sengaja datang lebih awal untuk melihat bagaimana rekasi Pandu saat melihat Kiran.
"Mau menggendongnya, Arya? Dia pasti suka kalau di gendong sama, Om nya" balas Darren. Ia hampir memberikan Arka pada Arya. Namun, Arya justru buru - buru menjauh.
"Jangan! Nanti tulangnya patah gimana? Aduh saya nggak mau gendong - gendong bayi gitu," ujar Arya sambil menatap Arka.
"Cih! Pria lemah macam ini? Kamu takut menggendong Arka? Tapi kamu tidak takut saat mendekati Luna?" tanya Daniel. Ia bersedekap sembari tersenyum miring.
"Loh kan Luna sudah besar. Jadi saya tidak takut lagi kalau mau mendekatinya."
"Kamu yakin, Arya? Tapi kalau kamu sudah tahu orang - orang yang berada di sisi Luna, kamu pasti akan berubah pikiran," kata Darren. Ia terkekeh saat melihat raut wajah penuh keheraan dari wajah Arya.
"Apa maksudmu?" tanya Arya.
"Kamu tahu orang - orang itu, Arya?" tanya Darren sambil menunjuk ke arah Alex, Kenzo, Bastian dan juga Bara. selain itu ada beberapa orang berpakaian serba hitam yang berada di antara mereka.
Arya memincingkan mata. Setelah menyadari siapa yang di maksud oleh Darren, Arya membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Astaga, itu Alex dari Red Wolf, kan? Untuk apa dia ada disini? Atau jangan - jangan dia di sewa Ayahmu untuk menjaga Luna?"
"Bukan di sewa lagi Arya. Dia sendiri yang berniat menjaga Luna. Bahkan seluruh anggota Red Wolf entah yang lama atau pun yang baru pun, mereka bersedia menjaga Luna dengan senang hati," kata Daniel panjang lebar.
"Kok bisa?" tanya Arya. Ia tidak habis pikir kenapa organisasi hebat seperti Red Wolf bersedia menjaga seorang gadis.
"Tentu saja bisa. Om Alex itu Kakak kandung Mama sekaligus Ayah kandung dari Luna. Otomatis dia adalah orang yang tidak mau kalau Anaknya sendiri akan salah memilih," kali ini Darren yang menjawab. Ia terkekeh. Apalagi ketika mata Arya melotot sempurna.
"Apa?! Keluarga kalian benar - benar mengerikan." Ujar Arya sambil menggelengkan kepala. Meski merasa terkejut tapi bukannya Arya takut, hanya saja dia ragu jika harus mendekati Luna.
"Pengawalnya saja semenyeramkan itu. Belum lagi Ayahnya, Si Alex yang sudah terkenal kehebatannya." gumam Arya. Ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian mendesah pelan.
"Gagal sudah rencana saya menjadi menantu di keluarga ini," kata Arya yang sukses membuat Daniel dan Darren tertawa.
"Ngomong - ngomong, Luna yang mana?" tanya Arya setelah beberapa saat terdiam. Ia menatap ke arah Daniel kemudian menatap ke arah Darren.
"Kamu lihat perempuan yang bergaun putih yang sedang duduk di sofa sendirian itu?" tanya Daniel kepada Arya. Wajahnya terlihat begitu serius.
"Dia sepupumu?"
"Bukan, dia Mama," jawab Daniel enteng.
"Sialan! Saya serius, Niel!"
"Loh aku juga memang serius. Itu Mama aku," balas Daniel tak mau kalah.
Arya menggelengkan kepala pelan. Ia bersedekap kemudian menatap Helena yang kini mulai berjalan ke arah mereka bertiga. Meski sudah berumur tetapi kecantikan dan keanggunan Helena tidak pernah luntur.
"Kiran, mana Darren?" tanya Helena.
"Masih di kamar, Mah. Nggak tau deh apa aja yang dia pakai. Padahal ini sudah cukup lama," ujar Darren.
"Perempuan, kan memang begitu Darren. Butuh waktu lama untuk bersiap - siap," ujar Helena sembari terkekeh pelan.
"Ya, dan itu sangat menjengkelkan," sambung Darren.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.