
"Jangan berpura - pura kuat di depanku, bodoh! Bukankah kamu tadi menangis,hm? Luapkan semua emosimu, Kak! sinis Daniel. sambil mencengkram kuat tangan Darren yang ada di lehernya.
"Kamu masih berani melawanku, Niel? cepat pergi dari sini! Jangan sampai Kiran mengetahui keberadaanku. Dia sudah bahagia dengan pilihannya. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya."
Suara Darren melemah, Tatapan matanya yang semula tajam kini mulai meredup. Secara perlahan pula, Darren mulai melonggarkan cengkraman tangannya pada leher Daniel.
Daniel menggelengkan kepalanya. ia menghempaskan tangan Darren kasar. Daniel benar - benar sudah muak sekaligus emosi dengan hubungan yang rumit antara Darren dan Kiran.
"Persetan dengan alasanmu, Kak Darren! Kali ini aku benar - benar akan membawamu menemui Kiran." ucap Daniel kesal. Daniel memutar arah mobilnya menuju ke rumah Kiran. ia menekan pedal gas tanpa menghiraukan teriakan dan amarah Kakaknya.
"Sialan! Hentikkan mobilnya, Daniel!"
"Tidak akan! " sentak Daniel sembari menghalangi Kakaknya yang ingin merebut alih kemudi.
"Bagaimana kalau Kiran menolak kehadiranku? Aku tidak mau, Aku pasti tidak akan sanggup untuk mendengarnya, Niel!."
"Bangsat! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku akan menerima semua keputusan apapun dari Kiran, Hah?!"
Darren terdiam seribu bahasa. ia mendadak teringat dengan ucapannya sebelum berangkat.
"Tapi, Niel...." ucapan Darren terhenti karena Daniel langsung menyelanya.
"Diam! Darren Wijaya! Kalau kamu memang benar - benar pria sejati, datang dan temuilah Kiran!" ucap Daniel dengan suaranya yang terdengar begitu tegas.
Sepertinya Darren memang tidak punya pilihan selain menemui Kiran. Merasa sia - sia berdebat dengan Daniel.Akhirnya Darren pun mengalah. ia memejamkan mata sembari mencoba menata hatinya agar siap untuk berhadapan dengan Kiran. "Zivanna Kirannia, Apa mungkin kamu bersedia kembali padaku?" ucap Darren dalam hati.
Sementara di sisi lain. Kiran masih terduduk di jalanan beraspal sambil menangis. Rasa rindunya yang begitu besar membuatnya tak mampu untuk menghentikan laju air mata di pipinya."
"A..Aku mohon Tuan Suami! Jangan tinggalkan aku!" kata Kiran. ia menatap nanar ke arah jalanan yang kosong dan lenggang.
"Kiran! kita kembali ke Rumah ya! jangan menangis seperti ini. Tidak enak di lihat tetangga," ujar Arya sambil berjongkok di samping Kiran.
Kiran menggelengkan kepala "Tidak!! aku akan menunggu Suamiku di sini. Dia pasti akan kembali lagi untuk menjemputku pulang," Kata Kiran. ia menyingkirkan tangan Arya dari lengannya.
__ADS_1
"Tapi dia juga sudah pergi jauh, Ran. Suamimu tidak mungkin kembali lagi." balas Arya. ia kembali meraih tangan Kiran dan mencoba mengangkatnya berdiri.
"Lepaskan tanganmu dariku, Mas! Suamiku, mungkin salah paham ketika melihat kedekatan kita. Sekarang jangan menyentuhku! Aku tidak mau dia semakin membenciku." ujar Kiran. Suaranya begitu parau dan juga terdengar pilu.
Arya mengepalkan tangannya erat. tatapan matanya yang semula lembut berubah menjadi tajam. ia menghembuskan napas panjang lalu kembali fokus pada Kiran.
"Dengarkan saya, Zivanna Kirannia! Kamu boleh menunggu dia, tapi tidak di sini. Apa kamu tidak malu di lihat orang" ucap Arya.
"T..Tapi bagaimana kalau dia mau datang kerumah ku, Mas? Aku mau menunggunya di sini." ujar Kiran. Tatapan matanya masih tertuju pada jalanan di ujung sana.
Cukup sudah! Arya tidak mampu menahan rasa kesalnya. ia lantas menggedong Kiran secara paksa ala bridal style. Langkah Arya begitu mantap meski sedari tadi Kiran terus memberontak.
"Kamu tunggu di Rumah saja! Saya yang akan mencari Suamimu. Jangan kemana - kemana!" ucap Arya sambil menurunkan Kiran di depan teras Rumahnya.
Setelahnya, tanpa banyak bicara Arya bergegas memasuki mobil dan menjalan kannya.
"Maafkan aku, Tuan Suami. seharusnya aku tidak berdekatan dengan pria lain." lirih Kiran
"Kenapa kamu pergi, Setelah menemukanku, Tuan Suami? Apa kamu semakin membenciku?" lirih Kiran. ia menatap nanar kearah jalanan di depan Rumahnya.
"Apa mamahmu ini tidak cukup baik untuk papah, Nak? Kenapa Papah justru pergi setelah menemukan kita?" tanya Kiran pada calon buah hatinya.
*****
Daniel menghentikkan mobilnya tidak jauh dari halaman Rumah Kiran. Dari dalam mobil, ia bisa melihat dengan jelas ke arah Kiran yang sedang menunduk dan menangis.
"Kamu lihat sendiri, kan? apa yang telah terjadi padanya, Kak Darren? Aku yakin betul nenek tua tadi sudah mengatakan keberadaan kita pada Kiran." ujar Daniel. Tatapan matanya lurus ke depan.
Hati Darren berdenyut lara melihat Kiran menangis sambil memanggil - manggil namanya.Tanpa sadar setetes air mata turun dan membasahi sudut mata Darren.
"Apa dia benar - benar merindukanku, Niel?" lirih Darren mencengkram dadanya yang mendadak bergemuruh hingga menimbulkan rasa sesak.
"Menurutmu? Dia tidak mungkin menangis, hanya karena pria itu, Kan? Lagi pula bukankah kamu mendengarnya? Dia memanggil namamu, Kak Darren!"
__ADS_1
Darren menganggukkan kepala. Senyum tipis terukir indah di bibirnya. "Kalau begitu sekarang aku tidak peduli meski Kiran menolak. Aku akan membawanya pulang!"
Daniel tersenyum, hatinya mendadak lega mendengar ucapan Kakaknya. Setelah itu, ia pun kembali mengarahkan pandangannya ke arah Kiran.
Jantung Kiran berdetak kencang perasaan sesak dan juga hampa benar - benar menyiksa batinnya. Kiran meremas celana panjang yang ia kenakan untuk meredam rasa sakit di hatinya. Namun, semuanya sia - sia.
"T..Tuan Suami, aku mohon kembalilah! Bawa aku pulang. Aku merindukanmu," kata Kiran
Tepat setelah selesai bicara, Kiran di kejutkan dengan sepasang sepatu yang berada di depannya. Kiran sontak mendongak dan menatap sesosok pria yang kini berdiri sembari mengulurkan tangan padanya.
"Kamu sangat merindukanku, hm?" ucap Darren dengan nada suara yang lembut.
Air mata Kiran kini justru semakin membuncah ketika melihat Darren berdiri di depannya. Alih - alih diam menerima uluran tangan Suaminya. Kiran justru menunduk dengan tangis yang semakin sesegukkan.
"Kenapa menangis lagi, hm? Aku sudah ada di hadapanmu sekarang. Ayo berdiri!" Ajak Darren. Tangannya masih setia terulur untuk Kiran.
Darren tersenyum tipis. Namun, meski demikian hatinya berdenyut sakit melihat penampilan Kiran. Kiran kini terlihat begitu berbeda karena tubuhnya yang semakin berisi. Selain itu, kantung matanya pun begitu jelas terlihat di wajahnya yang sedikit pucat.
Darren meringis ketika melihat perut buncit Kiran. Hingga tanpa ia sadari air mata sudah membasahi kedua pipinya. lagi - lagi Darren merasa telah gagal menjadi seorang Suami.
"Kenapa baru datang sekarang?" tanya Kiran di sela - sela isak tangisnya. ia kembali mendongak dan menatap wajah Darren. Ribuan rindu yang terpendam dalam hatinya, kini membuncah ruah. Kiran sangat bahagia bisa bertemu dengan Darren lagi.
"Memangnya kamu menungguku, hm? Bukankah sudah ada Arya yang membahagiakan kamu?" tanya Darren sambil tersenyum hangat karena Kiran sudah membalas uluran tangannya.
Tepat ketika Kiran berdiri, Darren menarikknya kedalam pelukannya. Darren memejamkan mata ketika perasaan hangat hadir mengisi hatinya yang semula hampa. Darren menumpahkan dagunya pada bahu Kiran. Rasanya seolah Darren menjadi pria yang paling bahagia saat ini.
"Aku selalu menunggumu, Aku selalu bermimpi kamu datang dan menjemputku pulang, Tuan Suami. Aku sangat merindukanmu." ucap Kiran sembari membalas pelukkan Darren. ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Darren.
Hati Kiran berubah menjadi tenang ketika mendengar detak jantung Darren. "Kamu tahu Tuan Suami, sudah berapa waktu yang aku habiskan hanya untuk merindukanmu?" tanya Kiran. ia mendongak untuk menatap wajah Darren yang kini juga sedang menatapnya.
Darren terkekeh pelan. ia merengkuh pinggang Kiran dengan mesra. Darren merasa geli melihat pipi chubby Kiran yang terlihat menggemaskan
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1