Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Terluka


__ADS_3

Kevin terjungkal dan ke arah samping, setelah mendapat tendangan dari arah belakang. Kevin meraung penuh kemarahan. Ia menoleh dan berdecak kesal saat melihat Alex yang kini sedang membantu Darren untuk berdiri.


"Darren, cepat selamatkan Kiran! Kita tidak mungkin terus - menerus berada di sini," ujar Alex. Tidak berbeda dari Darren penampilan Alex pun cukup kacau. Bahkan di sudut bibirnya terdapat bercak darah.


"Tapi bagaimana caranya, Om? Aku tidak mungkin bisa masuk lebih dalam karena Niko ada di sana," ucap Darren sembari menatap ke arah Niko. Darren sangat marah karena Niko sedari tadi duduk manis di ambang pintu.


Alex menghembuskan napas lelah. Tenaganya sudah semakin terkuras, tetapi bantuan tidak kunjung datang. Meski sudah banyak anak buah Niko yang tumbang, tetapi semuanya begitu sia - sia.


"Kalau begitu istirahatlah dulu! Setidaknya pulihkan tenagamu meski hanya sebentar. Kita harus pandai - pandai mengulur waktu sampai bantuan datang," ujar Alex. Ia menepuk pundak Darren setelah itu, ia pun bergabung lagi dengan Bastian.


Sebenarnya, mudah saja bagi Alex jika menggunakan pistol. Akan tetapi, Alex enggan menggunakannya jika bukan berhadapan dengan Niko. Alex tidak ingin menambah dosanya. Jika ia sampai menghabisi seluruh anak buah Niko.


Alex dan Bastian saling bahu membahu membantu menumbangkan semua anak buah Niko. Keduanya merasa cukup bersyukur saat melihat anak buah Niko yang semakin berkurang.


Sementara itu di sisi lain Kevin tampak menyeringai saat melihat Darren berdiri sembari bersandar di dinding. Kevin merogoh saku celananya. Ia tersenyum miring sembari berjalan cepat menghampiri Darren.


Set! Bruk!


Darren terjungkal saat mencoba menghindari serangan mendadak dari Kevin. Matanya membulat sempurna ketika melihat Kevin memegang sebuah pisau yang tampak begitu tajam.


"Sekarang kamu tidak bisa lagi menghidar dariku, Darren!" Ujar Kevin sambil mengeratkan pegangan tangannya pada pisau.


Darren berusaha menjauhi Kevin. Saat tubuhnya sudah cukup mati rasa sehingga ia tidak ingin mengambil resiko dengan melawan Kevin.


Namun, semakin Darren menjauh, maka Kevin pun akan mendekat. Hingga akhirnya Darren terperangkap karena adanya dinding. Devan menghela napas pelan sembari menatap intens ke arah pisau di tangan Kevin.


Kevin tertawa nyaring ia mengangkat pisau dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Mati kau, Darren!"


Trang!


Darren berhasil menahan serangan Kevin dengan menggunakan sebuah pipa besi yang berada tidak jauh darinya. Entah dari mana asalnya pipa tersebut, tetapi yang jelas Darren begitu bersyukur karenanya.


Dengan sekuat tenaga, Darren mencoba mendorong Kevin. Berhasil! Kini Darren berdiri sembari manatap Kevin yang tersungkur di depannya.


Darren dengan sigap mengambil pisau dari tangan Kevin. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihat Kevin terdiam.


"Sudah saatnya ini semua berhenti, Vin. Kebencian yang ada di hatimu sudah terlalu besar. Oleh karena itu, kamu harus mendapatkan balasannya.


"Kamu tidak akan bisa melukaiku, Darren!" Ucap Kevin dengan suara yang terbata - bata.


"Oh ya? Kalau begitu mari kita buktikan," bakas Darren sambil berjongkok didepan Kevin. Ia menyeringai setelahnya ia menjambak rambut Kevin kuat - kuat.


"Bersiaplah untuk me....."


"Tidak semudah itu anak muda!"


Darren menoleh, ia terkejut saat melihat Niko sudah berdiri di dekatnya. Darren hendak berdiri dan sedikit menjauh. Namun, sayangnya ia terlambat. Niko sudah lebih dulu menendang perutnya dengan kuat.


Darren terbatuk hingga mengeluarkan darah. Perutnya terasa sangat sakit karena sudah mendapatkan tendangan dua kali dari Kevin dan juga Niko.


"Arrrrghhhh!"


Darren meraung kesakitan. Akan tetapi Niko sama sekali tidak peduli. Ia justru mendekati Darren dan menekan perut Darren dengan kakinya.

__ADS_1


"Makanya jangan coba sok jagoan, bocah! Lihat, kan? Kamu akan segera mati!" Ujar Niko sembari menatap datar ke arah Darren.


Darren tidak menjawab ia sibuk mengatur rasa sakitnya yang semakin menjadi - jadi.


"Katakan selamat tinggal pada Ayahmu yang serakah itu!" Ucap Niko sembari menekan perut Darren dengan kuat.


"Banjingan kau, Nik!" Alex langsung menerjang Niko. Ia memberikan sebuah pukulan hingga Niko tersungkur cukup jauh.


Alex berjongkok kemudian memangku kepala Darren. Mata Alex memanas melihat keadaan Darren yang memprihatinkan.


"Darren...."


"O.... Om, katakan pada Kiran aku sangat mencintainya," ujar Darren dengan napas yang tersengal - sengal.


"Kamu bisa mengatakannya sendiri nanti, sekarang beristirahatlah, biar Om yang membereskan ini semua." kata Alex sambil membantu Darren untuk duduk dan bersandar di dinding.


Darren tidak menjawab apa pun. Ia memejamkan mata sembari mengatur napasnya yang terasa begitu berat.


"Ran, maafkan aku....." gumam Darren.


Bersambung...


Kira - kira apa yang akan terjadi dengan Darren? Berhasilkah dia selamat?


Nantikan terus kisah mereka ya.....!


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2