Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Duka Dan Dendam


__ADS_3

Helena menganggukan kepalanya. Setelah itu, ia pun mulai mendekati Diah. Helena tersenyum tipis sembari mengusap lembut punggung Diah.


"Diah, ikut aku sebentar yah. Jangan menangis lagi! Nanti Shelvi tidak tenang," kata Helena.


"Mbak Helena... rasanya aku ingin sekali menyusul Shelvi. Aku tidak bisa hidup tanpanya," balas Diah. Ia menatap Helena dengan mata berkaca - kaca.


"Jangan bicara seperti itu, Diah! Kamu tidak kasihan dengan Bara, hm? Dia juga sangat menderita. Kalau kamu pergi, lalu siapa yang akan mengurusnya?" tanya Helena.


Diah terdiam saat mendengar ucapan Helena. Setelah itu, ia pun menatap ke arah Bara, yang kini sedang berbicara dengan Kenzo. Air mata Diah kembali luruh. Setelah bertahun - tahun lamanya menikah dengan Bara, baru kali ini ia melihat suaminya begitu lemah. Diah tahu, pasti suaminya lebih terpukul dari pada dirinya.


"Sepertinya, aku sudah jadi Istri dan Ibu yang buruk, Mbak. Aku tidak bisa mendidik Shelvi, sehingga ia menjadi anak yang brutal. Aku sungguh berdosa," lirih Diah sembari menundukkan kepalanya.


"Jangan bicara seperti itu! Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kamu. Sekarang kamu tenang, ya! Jangan sampai membuat Bara semakin menderita karena melihatmu menangis."


Diah tidak lagi berkata - kata setelah mendengar ucapan dari Helena. Semua yang di katakan Helena memang benar. Tidak seharusnya ia terlalu larut dalam kesedihan dan mengabaikan perasaan Bara.


Kini, meski perasaan duka masih begitu dalam, tetapi Diah mencoba untuk tersenyum. Ia berusaha meyakinkan dirinya jika semuanya akan baik - baik saja. Meski Shelvi sudah meninggalkan dirinya.


"Terima kasih banyak, Mbak. Sekarang aku sudah lebih tenang," kata Diah.


"Ya, sekarang ayo aku bantu kamu dan Bara untuk mengurus pemakaman Shelvi."


Diah mengangguk, ia merasa bersyukur karena memiliki sahabat baik seperti Helena.


*********

__ADS_1


"Apa polisi sudah tahu siapa pelakunya, Ken?" tanya Bara dengan emosi yang mulai menggunung di hatinya.


"Belum, karena polisi masih mencari bukti - bukti yang lain. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menyuruh orang - orang untuk menyelidiki hal ini,"


Bara menganggukan kepalanya. Matanya terlihat memerah karena rasa marah.


"Aku sangat yakin kalau pelakunya itu adalah Kevin. Aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini," ujar Bara.


"Belum tentu Kevin, Bara. Selama belum ada bukti yang akurat kita tidak bisa menuduh siapapun,"


"Tapi, kalau bukan Kevin siapa lagi, Ken? Karena selama ini hanya dia yang dekat dengan Shelvi,"


"Tapi bukankah mereka saling mencintai? Jadi saya rasa Kevin tidak akan membunuh Shelvi."


"Kita lihat saja, Ken. Karena aku sangat yakin seratus persen kalau Kevin lah dalang dari semua ini," ucap Bara dengan seringai yang menakutkan di bibirnya.


"Bara?" panggil Kenzo. Tatapan matanya begitu intens saat beradu pandang dengan Bara.


"Ada apa? Ah, iya aku minta maaf karena belum menjalankan tugas darimu, Ken. Tapi aku janji akan segera menyelesaikan itu semua," ujar Bara ia mengalihkan pandangannya dari Kenzo sebab ia tidak ingin jika Bosnya itu melihatnya yang kini mulai berkaca - kaca.


Kenzo tersenyum tipis setelah itu ia pun mendekati Bara. Ia menepuk pelan pundak Bara lalu berkata "Tidak perlu di tahan - tahan Bara, menangislah!"


Mendengar ucapan Kenzo, napas Bara tercekat. Dadanya bergemuruh karena rasa sesak yang sedari tadi bersemayam di hatinya. Bara menunduk dengan tangannya yang saling mengepal.


"Ken, aku...."

__ADS_1


"Menjadi seorang pria, bukan berarti tidak boleh menangis, Bara. Saya tahu, saat ini kamu pasti sedang bersedih."


Bara menggeleng pelan. Apa yang dikatakan Kenzo itu memang benar. Saat ini hatinya begitu sedih. Tidak hanya sedih tetapi juga patah setelah di tinggal oleh Shelvi.


"A.. aku Ayah yang sangat buruk, Ken. Aku bahkan tidak bisa menemani Shelvi di sisa hidupnya. Aku...."


Cukup, Bara tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Ia teduduk di kursi tidak lama setelahnya isakan lirih keluar dari bibirnya. Bara menangis, ia mencurahkan segala rasa dukanya sebagai seorang Ayah melalui air mata.


"Aku sangat hancur saat mengetahui Putriku terbunuh. Aku kecewa karena belum bisa membimbingnya menjadi orang yang baik, Ken. Aku..., benar - benar tersiska.


"Saya tahu, Bara. Tapi, kamu sudah menjadi orang tua yang sangat baik. Tanpa kamu tidak mungkin Shelvi akan tumbuh menjadi gadis cantik yang menawan,"


"Tapi dia begitu jahat, Ken. Dia bahkan tidak pernah mendengarkan ucapanku. Shelviku yang manis telah berubah dan sekarang dia telah tiada. Orang tua macam apa aku ini," lirih Bara. Ia mengangakat tangannya kemudian menampar sendiri pipinya berulang kali.


Melihat hal itu, Kenzo buru - buru mencekal langsung pergelangan Bara.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri Bara! Dengarkan saya! Ini bukan waktunya kamu bersedih. Biarkan Shelvi pergi dengan tenang dan ayo kita urusi pemakamannya."


Bara terdiam setelah mendengar ucapan Kenzo. Napasnya mulai memburu, wajahnya pun tampak memerah karena amarah yang begitu besar. Selain itu, Bara juga menyeringai sembari menatap lurus ke depan.


"Demi Tuhan, Ken. Aku tidak akan membiarkan pembunuh itu hidup dengan tenang,"


Bersambung....


Terima kasih sudah membac. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2