Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Menyelamatkan Kiran


__ADS_3

Daniel tidak punya pilihan lain. Akhirnya ia pun menghentikkan mobilnya di tepi jalan. Daniel melepaskan sabuk pengaman, setelah itu menghadap ke arah Darren.


Darren bersedekap dengan tatapan yang begitu tajam. Alisnya menukik hampir bersentuhan. Saat ini Daniel benar - benar begitu kesal dengan Kakaknya itu, yang tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Kita selidiki dulu nomor yang sudah mengirimkan pesan padamu setelah itu,baru kita bertindak. Kita akan meminta bantuan pada Om Alex dan Ayah. Kalau hanya kita berdua, aku sangat yakin kita akan celaka.


Darren tidak membalas ucapan Daniel. Ia memilih diam sembari memikirkan berbagai rencana untuk menyelamatkan Kiran. Darren begitu frustasi karena sejak tadi ia tak kunjung menemukan sebuah ide.


"Argghh!" Darren meraung. Ia memukul sandaran kursi lalu menunduk.


Daniel berdecak malas tidak seperti Darren yang tampak kacau, ia justru terlihar biasa saja. Bukan karena tidak khawatir dengan Kiran. Tetapi sangat yakin jika Kevin maupun anak buahnya tidak berani macam - macam dengan Kiran.


Melihat Darren yang tidak kunjung merespon, Daniel akhirnya memilih menghubungi Alex.Ia meminta Alex mencari tahu dimana letak Kiran di sekap.


Ketika semuanya sedang sibuk dengan kegiatannya masing - masing. Ponsel Darren kembali bergetar. Menandakan adanya pesan masuk.


Daniel buru - buru membuka pesan tersebut. Setelahnya ia menyeringai sembari menatap isi pesan.


From : +6282367xxxx


To : Darren


Datanglah kerumah tua di pinggir hutan S. Kalau kamu tidk datang maka Istri cantik mu itu akan binasa.


"Lelucon macam apa ini? Astaga ancaman yang sudah ketinggalan zaman" ujar Darren sembari menyugar rambutnya ke belakang. Kini, ia mulai tenang sebab sudah mengetahui dimana Kiran di sekap.


"Jangan meremehkan sesuatu, Kak Darren! Bisa jadi itu hanya jebakan semata,"


"Kamu pikir aku sangat bodoh, Niel? Tentu saja aku tidak akan datang begitu saja. Saat ini aku sudah memiliki rencana yang cukup matang," jawab Darren sambil tersenyum penuh keyakinan.


Darren menaikan sebelah alisnya, ia bersedekap kemudian menyuruh Daniel untuk kembali mengemudi.


"Apapun rencana yang sedang kamu pikirkan aku harap kamu tidak gegabah, Kak Darren? Pikirkan baik - baik sebelum bertindak."


"Aku tahu, ngomong - ngomong kamu sudah memberitahu kepada Om Alex, kan?"


"Ya, dan saat ini dia mungkin sudah mulai bergerak,"

__ADS_1


"Kalau begitu kita ke rumah dulu, Niel. Ada sesuatu yang ingin aku siapakan,"


" Hm"


Keduanya pun pulang kerumah. Sesampainya di rumah, Darren pun heran. Sebab, suasana begitu hening. Seolah - olah tidak ada penghuninya sama sekali.


Darren melangkahkan kakinya menuju kamar . Darren menghembuskan napas lega saat melihat Lili yang sedang bermain dengan Arka di ruang keluarga.


Tidak ingin menganggu keduanya, Darren memutuskan langsung ke kamar. Ia menyiapkan beberapa barang untuk di bawa ketempat Kiran di sekap.


Darren tersenyum miring sembari menatap senjata laras panjang di tangannya.


"Ini mungkin sudah berlebihan, tapi rasanya aku sudah muak dengan semua yang mereka lakukan," gumam Darren.


Baru saja Darren ingin kembali pergi, ponselnya sudah bergetar. Kali ini nomor yang tidak di kenalinya mengiriminya sebuah foto.


Darren tertunduk lemas di tepian ranjang. Napasnya tercekat saat melihat foto Kiran yang tampak terluka cukup parah. Di foto tersebut Kiran terlihat begitu merana.


Rambutnya acak - acakan, sudut bibirnya berdarah dan wajahnya juga cukup pucat. Selain foto orang itu juga memgirimkannya sebuah vidio.


Hati Darren begitu mendidih bagaimana sebuah tangan memberikan tamparan beberapa kali pada Kiran. Emosi Darren semakin membara, bahkan, kini ia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih.


From : +6282367xxxx


To : Darren


Istri cantikmu sangat penurut, Darren. Sayangnya dia terlalu bodoh karena tidak mau menuruti kemauanku. Tapi tenang saja, dia masih hidup. Ya, meskipun wajahnya sudah babak belur.


- Kevin


"Ternyata memang benar, Kevinlah pelakunya. Meski dia dulu sahabatku, tapi aku tidak akan pernah memaafkannya. Hari ini juga aku akan membuat perhitungan padanya.


****


Tanpa mempedulikan ucapan Daniel, Darren mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kemarahannya semakin besar hingga akal sehatnya pun seolah mati.


Darren nekat mendatangi tempat Kevin hanya seorang diri. Namun, meski begitu ia sudah menyuruh orang - orangnya untuk mengikutinya di belakang.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama bagi Darren untuk sampai di tempat yang telah di janjikan. Darren memarkirkan mobilnya dengan asal. Meski sedikit gentar saat melihat banyaknya kendaran di depan rumah tua tersebut. Tetapi Darren tetap nekat demi menyelamatkan Kiran.


"Selamat datang mantan sahabatku, Darren? tidak aku sangka kamu benar - benar ke tempat ku ini," ujar Kevin yang menyambut Darren tepat ketika ia baru saja masuk.


"Istri cantikmu itu dia ada di dalam. Sedang tidur nyenyak menuju surga," balas Kevin sambil tertawa terbahak - bahak. Ia berkacak pinggang lalu menatap remeh ke arah Darren.


"Bajingan kamu Kevin! Lepaskan dia sekarang juga!" Sentak Darren.


"Aku akan melepaskannya, tapi nanti setelah kamu mati. Ah, atau lebih baik aku menikmati tubuh Istrimu yang cantik itu terlebih dahulu dan setelah itu baru membunuhnya agar bisa sehidup semati dengan mu?"


"Kurang ajar kamu Kevin! Kau....." ucapan Darren mendadak terhenti. Ia mendadak diam saat melihat seoarang pria paruh baya yang berdiri tidak jauh dari Kevin. Ya, pria itu adalah Niko.


"Jadi ini yang kamu maksud sebagai pria yang berbahaya, Vin?" tanya Niko yang menatap Darren dari atas hingga bawah.


"Ya, ini Darren, Om."


"Anak kandung Kenzo? Cih! Pantas saja wajahnya penuh dengan kesombongan."


Darren menghembuskan napas panjang. Guna mengurangi rasa gelisahnya. Darren cukup was - was, tetapi ia lega setelah mendengar deru motor dan mobil milik anak buahnya.


"Cepat lepaskan Kiran, Vin!" tanya Darren ia berjalan maju kemudian mencengkram kerah baju Kevin.


"Lepaskan saja sendiri, Tapi...... setelah kau melangkahi dulu mayatku,"


"Baik kali ini aku tidak akan segan untuk menghabisimu."


Darren mengangkat tangannya. Setelah itu ia memberikan beberapa pukulan kepada Kevin. Di luar ruangan. Suasana semakin memanas apalagi ketika Niko mulai membantu.


Kini Darren mulai melawan dua orang. Meski sedikit kesulitan tetapi Darren begitu percaya diri. Mampun mengalahkan Niko atau pun Kevin.


Namun, sayangnya Darren salah besar. Ia pikir Niko sudah lemah karena tua, tetapi ia justru pandai berkelahi. Bahkan kini dirinya pun mulai terpojok.


"Sial, aku harus bisa kabur dari sini dan menyelamatkan Kiran," gumam Darren, dan napasnya pun tersengal. Ia menatap ke arah Kevin dan juga Niko sembari menggenggam kuat senjata laras panjang di tangannya.


Darren mengarahkan ke arah Kevin. Namun, belum sempat menembak, dari arah samping seseorang berhasil menghantam lengan Darren dengan balok kayu hingga senjatanya terjatuh.


"Kamu memang sangat lemah, Darren..."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2