
"Apa mungkin Om Bima memiliki seorang mata - mata," gumam Darren.
"Jadi bagaimana, Darren?"
"Kevin bersalah dan dia harus menanggung akibatnya. Selama ini aku hanya diam saat dia mengusikku. Tapi kali ini tidak, aku tidak akan segan untuk memasukkannya ke dalam jeruji besi," balas Darren suaranya terdengar datar tetapi sarat akan emosi.
"Kamu yakin? Tapi.., Ah, baiklah, sekarang Om akan mengatakan penawaran apa yang Om maksud tadi"
"Hm, jadi?"
"Suruh Alex untuk tidak menyakiti Kevin. Atau..," Bima sengaja menghentikkan ucapannya.Ia tersenyum miring sambil menatap Darren.
"Atau apa?" tanya Darren.
"Anak dan istrimu akan dalam bahaya!" jawab Bima
"Om Bima sedang mengancamku?"
Darren tersenyum miring sambil menatap wajah Bima yang sedang menghadapa ke arahnya. Alih - alih takut dengan ancaman Bima, Darren justru merasa tertantang untuk membuat Ayah Kevin sadar dan tidak lagi melakukan kejahatan.
"Om tidak mengancam kamu, Darren? Om hanya ingin memberikan penawaran yang menarik untukmu. Bagaimana? Bukankah itu, impas Darren?" tanya Bima. ia bersedekap, tetapi kali ini raut wajahnya begitu serius dan sedikit tegang. Pasalnya rencana yang telah ia susun rapi sirna seketika.
Awalnya Bima kira Darren akan takut dan menuruti permintaannya demi Kiran dan juga Arka. Namun, respon Darren justru di luar dugaan. Darren tidak terlihat takut bahkan terkesan santai.
"Impas apanya? Coba Om Bima pikir baik - baik. Selama ini apa saja yang sudah Kevin lakukan terhadap hidupku? Dia sudah sering merebut semua yang aku miliki" tukas Darren wajahnya terlihat santai, tetapi nada suaranya terkesan sarat akan emosi.
Bima menghela napas pelan. Ia menepuk Darren pelan kemudian berkata "Bukankah seorang Kakak harus mengalah pada adiknya, Darren?"
"Mengalah? Hei! Memangnya siapa Kevin? apa dia adik kandungku? Cih!" sentak Darren sambil menghempaskan tangan Bima yang ada di pundaknya.
"Dia memang bukan adik kandungmu. Tapi sudah sepantasnya kamu harus mengalah sebagai seorang Kakak dan sahabatnya. Lagi pula kamu, kan sudah memiliki segalanya. Jadi...."
__ADS_1
"Apa Om Bima akan terus membela Kevin meski dia bersalah?" tanya Darren to the point. Matanya mendelik marah dan tangannya mengepal kuat.
Bima tidak langsung menjawab. Ia bersedekap sembari menatap ke arah depan. Menatap lalu lalang orang yang masuk ke luar rumah sakit.
"Kevin adalah anak Om satu - satunya. Jadi sudah jelas kalau Om..." ucapan Bima terhenti. Ia buru - buru menatap ke arah Darren setelah mendengarnya menggeram tertahan.
"Om Bima akan tetap membela Kevin meski dia membunuhku? Ah, atau mungkin Om Bima juga akan membantu Kevin dalam menghancurkan keluargaku?" tanya Darren. Napasnya memburu, perasaan marah dan juga kecewa semakin menggebu - gebu di dadanya.
"Bukan begitu, Darren! Om hanya tidak bisa membiarkan Kevin merasakan kesulitan. Om hanya...."
"Lalu bagaimana denganku, Om? Apa Om Bima tidak pernah berpikir tentangku? Apa Om Bima tidak tahu apa yang kurasakan selama ini?"
"Bukankah kamu sangat bahagia, Darren? Kamu memiliki keluarga yang utuh dan saling menyayangi. Jadi Om merasa kamu sudah tidak membutuhkan apapun lagi."
"Benar, aku memang sangat bahagia memiliki keluarga seperti mereka. Oleh karena itu, sekarang Om Bima pergilah! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Bima tersentak kaget mendengar nada suara Darren yang begitu dingin. "Tapi bagaimana penawaran yang Om berikan padamu? Ayolah, Darren! Kasihan Kevin."
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Kevin. Atau kalau perlu, aku juga tidak akan melepaskan keluarga Om Bima!" ucap Darren dengan tegas. Ia menyeringai kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku justru akan menyesal jika mengikuti kemauanmu. Orang tua yang tidak tahu diri sepertimu memang menyebalkan." ujar Darren. Tatapan matanya begitu datar dan dingin pada Bima.
Bima menepuk pundak Darren. Tatapan matanya begitu tajam dan tersirat ribuan makna yang sukar di pahami.
"Kalau begitu selamat berperang dengan Om, Darren," kata Bima sinis. Setelah itu, ia pun berlalu pergi meninggalkan Darren sendirian.
Setelah kepergian Bima, Darren terduduk di kursi taman. Ia menghembuskan napas panjang sembari meremas rambutnya dengan kuat. Darren marah bahkan semakin benci dengan keluarga Bima. Darren menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia memejamkan mata sembari menetralkan detak jantungnya yang memburu karena rasa marah.
"Sampai kapan pun aku tidak membiarkan mereka menyentuh keluargaku dan juga keluarga ayah," gumam Darren dengan suara yang penuh akan kesungguhan.
Setelah cukup puas menenangkan diri, Darren beranjak. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu ia pun bergegas menuju ke ruang rawat inap Kiran.
__ADS_1
Darren mengulas senyum tipis agar Kiran maupun Daniel tidak khawatir padanya. Namun, Darren justru terkejut saat melihat Daniel duduk di depan ruang rawat Kiran.
"Kenapa di luar Niel?" tanya Darren. Setelah ia duduk di samping Daniel.
"Kiran sedang memberi ASI Arka. Jadi aku tidak mungkin berada di dalam dan melihatnya, kan?
"Ah, kamu benar ngomong - ngomong ada perawat yang membantunya? Aku khawatir, selama ini Kiran kan belum pernah melakukannya,"
"Ada seorang perawat yang membantunya. Tapi ngomong - ngomong, apa kamu yakin Kiran belum pernah melakukannya, Kak Darren?" tanya Daniel. ia tersenyum miring sembari menaik turunkan alisnya.
Darren mengernyitkan dahi. ia tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Daniel. Bukankah Kiran memang baru kali ini menyusui Arka?
"Apa maksudmu, Niel? Kiran kan memang baru pertama kali melakukan itu dengan Arka."
"Kalau dengan Arka memang iya. Tapi bukankah dulu kamu sudah sering menyus...."
Plak.
Darren buru - buru menampar pundak Daniel sebelum selesai bicara. Darren melotot tajam sehingga membuat Daniel pun terkekeh geli.
"Biasa saja dong, Kak Darren! Aku kan hanya berbicara mengenai fakta."
"Cih! Tapi bukan berarti kamu bisa bicara seenaknya saja, Niel. Ini tempat umum dan tidak seharusnya kamu berbicara hal pribadi.
"Baiklah - baikalah aku minta maaf. Oh iya, apa saja yang Om Bima katakan? Dia tidak mengancam atau berbuat hal buruk, Kan?" tanya Daniel.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Niel. Om Bima hanya ingin berbicara denganku," jawab Darren. Ia tersenyum tipis lalu menepuk pelan pundak Daniel.
"Kamu yakin tua bangka itu dan anaknya tidak berbuat macam - macam, Kak Darren? Rasanya aku tidak percaya kalau orang seperti mereka hanya ingin mengajakmu berbicara biasa," sambung Daniel. Tatapan matanya semakin intens mengarah pada wajah Darren.
"Kamu pikir aku berbohong, Niel. Tadi Om Bima hanya ingin mengucapkan selamat atas kelahiran Arka. Jadi ya seperti itulah adanya," balas Darren ia mengalihkan pandangannya dari wajah Daniel.
__ADS_1
Daniel mengernyitkan dahi. Tentu saja ia tidak akan percaya begitu saja dengan Kakaknya. Terlebih lagi ia melihat...
Jangan lupa like,komen,vote dan hadiahnya