Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kedatangan Citra


__ADS_3

"Saya akan membuktikan semuanya. Dan saya pastikan Ayah akan menyesal karena sudah meninggalkan mereka," ujar Arya sembari menyeringai.


Mendengar ucapan Arya, Lesti mengernyitkan dahi. Ia mendorong Pandu sedikit menjauh lalu menatapnya lekat. Lesti memperhatikan raut wajah Pandu yang sedikit memucat.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Mas?" tuding Lesti.


"T..Tidak lesti aku tidak menyembunyikan apapun. Sudahlah lebih baik kamu kembali masak dan jangan dengarkan Arya!" Balas Pandu yang tersenyum tipis sembari mengusap lembut bahu Lesti.


"Kamu tidak berbohong padaku kan, Mas?" tanya Lesti lagi ia justru mulai curiga, apalagi setelah melihat kegugupan dari pancaran mata Pandu.


"Aku tidak mungkin berbohong padamu. Bukankah kita sudah menikah puluhan tahun? Jadi kamu sudah tahu semuanya tentangku, bukan?"


Lesti mengangguk dan tersenyum manis. Setelah itu ia pun menghadap ke arah Arya. Raut wajah Lesti berubah seketika. Tatapan matanya begitu datar dan dingin.


"Jangan bicara yang tidak lagi - lagi, Arya! Sekarang masuklah ke kamar!" perintah Lesti dengan tegas.


Arya melongo, mulutnya ternganga. Ia menatap tidak percaya ke arah Lesti. Ibunya itu terlalu mudah percaya dan luluh kepada Pandu.


"Ibu tidak percaya dengan saya? Saya ini anak kandungmu, Bu?"


"Benar, kamu memang anak kandung Ibu. Tapi kamu tidak bisa seenaknya saja, Arya. Bagi ibu, Ayahmu jauh lebih penting di bandingkan kamu," balas Lesti. Ia tersenyum miring kemudian berbalik meninggalkan Pandu dan juga Arya.


Arya tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Lesti. Hatinya mendadak terluka dan ia pun mendadak tidak berguna bagi Lesti.


"Kamu dengar sendiri kan, Arya? Ibumu tidak percaya. Jadi mulai sekarang berhenti membicarakan kedua orang asing itu."


"Ayah yakin mereka orang asing?" Arya menyeringai. Ia mengenyampingkan rasa sakit hatinya demi memojokkan Pandu.


"Tentu saja Pandu tersenyum penuh kepuasaan.Namun, begitu ada perasaan aneh yang diam - diam ia rasakan.


"Kalau begitu baiklah! Saya akan mengungkap sebuah kebenaran yang ada. Dan saya pastikan Ayah akan menderita jika sampai mengetahui semuanya."


"Hm, lakukan apapun yang kamu inginkan. Lagi pula bukankah kamu bilang kalau Larasati sudah tiada? Jadi sekarang ti...."


"Benar ibu Larasti memang sudah meninggal tapi ada satu hal lagi yang belum Ayah ketahui."


"Apa maksudmu?" tanya Pandu.

__ADS_1


"Sampai saatnya nanti saya tidak akan mengatakan apapun padamu," balas Arya dengan tatapan yang begitu sinis saat beradu pandang dengan Pandu.


"Arya! Kata...."


"Lihat! Ayah bilang tidak tahu menahu tentang mereka. Tapi kenapa Ayah justru ngotot ingin tahu semua hal yang berkaitan dengan mereka?"


"Y..Ya, Ayah hanya.."


"Sudahlah! Berbicara dengan pria tua sepertimu memang tidak ada gunanya"


Arya mendengus kesal. Setelahnya ia pun berlalu pergi meninggalkan Pandu yang justru terdiam di ruang tamu.


Pandu termenung memikirkan semua ucapan yang keluar dari bibir Arya. Pandu meringis, hatinya seolah teriris saat teringat dengan masa lalunya.


Pandu terduduk di sofa. Ia menunduk sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Wajahnya memanas dan bahunya sedikit bergetar karena rasa sakit yang begitu besar di hatinya.


"M..Maafkan aku Lara. Maaf karena sudah membuatmu menderita seumur hidupmu," gumam Pandu.


Suaranya begitu lirih, tapi terdengar begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Pandu tergugu menahan penyesalan yang perlahan - lahan mulai mengendap di hatinya.


"Seribu kalipun aku mengatakan tidak mengenalmu, tapi tetap saja hati ini tidak bisa berbohong, Larasati. Sekali lagi maaf, aku lebih memilih harta dari pada keluarga kita," lirih Pandu pilu.


***


"Besok pagi kamu dan juga Arka sudah boleh pulang," ucap Darren sambil tersenyum manis saat menatap Kiran.


"Benarkah, Mas? Kamu tidak berbohong kan?" tanya Kiran. Matanya tampak berbinar saat mendengar ucapan dari Darren yang baru saja kembali dari ruang dokter.


"Aku tidak berbohong. Tapi kata dokter kalian berdua masih harus kontrol untuk memastikan jika kondisi kalian memang sudah benar - benar baik," kata Darren.


"Aku senang, rasanya sudah sangat bosan berada di rumah sakit," ujar Kiran sambil memeluk Darren dengan erat.


"Aku juga senang Ran. Mulai besok kita bisa berkumpul bersama. Dan kamu tahu? Minggu depan Ayah sama Mama dan juga Luna akan pulang," kata Darren. Ia terkekeh pelan sembari membalas pelukan Kiran.


"Benarkah Luna akan ikut pulang kesini, Mas? Ah, aku bahagia sekali, Mas. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Luna. Pasti dia sudah tumbuh jadi gadis yang cantik. Apa tidak apa - apa kalau mereka pulang lagi? Bukankah mereka belum lama pulang, Mas?" tanya Kiran. Ia mendongak sembari menatap wajah Darren.


"Iya, Luna akan pindah kuliah di indonesia karena Om Alex sudah memutuskan untuk menetap di kota ini. Dan untuk Ayah dan ibu Itu keinginan mereka sendiri, Sayang. Lagi pula mereka pulang kan mau melihat Arka"

__ADS_1


"Iya aku tahu. Tapi kan, Mas. Aku me.." Kiran menghentikkan ucapannya saat mendengar suara pintu ruang rawatnya di ketuk dari luar.


Kiran dan Darren saling bertatapan. Setelah itu Darren pun melepaskan pelukannya.


"Masuk!" kata Darren.


Ceklek!


"Mbak Kiraaan!!" teriak seorang gadis sembari berjalan cepat menghampiri Kiran. Ia terlihat begitu girang dan ceria saat melihat Darren dan Kiran.


"Citra? Kok kamu bisa ada disini?" tanya Kiran. Ia terkejut saat melihat Citra datang menjenguknya.


"Aku rindu sekali sama kamu, Mbak. Kita sudah lama tidak pernah bertemu," jawab Citra tanpa menjawab pertanyaan Kiran.


"Aku juga sangat merindukan kamu, Citra. Ngomong - ngomong kamu datang sama siapa?" tanya Kiran sambil memperhatikan wajah Citra yang mendadak murung setelah mendengar pertanyaannya.


"Aku datang sama...."


Belum selesai Citra menyelesaikan ucapannya, seorang pria muncul dari balik pintu. Raut wajahnya begitu masam bahkan terkesan menyimpan kemarahan.


"Oh, kamu sama Daniel datang kesini?" tanya Kiran ia tersenyum tipis sembari menatap penuh selidik ke arah Citra.


Citra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun, setelah itu ia mengangguk singkat.


"Pak Daniel tadi yang menjemputku di bandara, Mbak"


"Oh ya ngomong - ngomong kalian ada hubungan apa?" tanya Kiran sembari menaik turunkan alisnya. Ia berniat menggoda Citra.


Citra tersenyum tipis ia menggelengkan kepala sembari melirik sekilas kearah Daniel.


"Kami tidak ada hubungan apapun. Aku kebetulan sedang bertemu dengan seseorang di bandara dan melihat dia. Jadi aku sekalian membawanya kesini, bukan karena ingin menjemputnya" jawab Daniel sebelum Citra sempat berbicara.


"Benarkah? Ah sayang sekali. padahal aku pikir kalian sedang menjalin hubungan yang spesial," kata Kiran.


"Itu tidak mungkin terjadi, Mbak."


"Tidak mungkin kenapa? Kalian terlihat cocok

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2