
Hari ini suasana begitu mencengkam. Awan mendung terlihat menaungi seluruh kota. Bahkan, sesekali angin kencang berhembus dan membuat bulu kuduk meremang. Selain itu, gerimis yang semula kecil - kecil kini berubah menjadi hujan yang cukup deras.
Hujan dan petir semakin membuat hari gelap dan dingin. Saat ini, di rumah Bara suasana menjadi terasa hampa. Rumah besar modern bergaya miliknya tidak lagi menunjukkan kehangatan sebuah keluarga.
Meski ramai di datangi semua orang, tetapi semuanya begitu kosong. Suara isak tangis pun menggema di seluruh ruang tamu. Diah yang sejak kemarin menujukkan ketenangannya kini kembali histeris. Diah menangis sesegukan di pelukan Bara.
Diah tak kuasa menahan tangis saat Shelvi hendak di makamkan. Ia merasa kembali tidak rela, jika harus berpisah dengan Kanaya untuk selamanya.
"Mas, bagaimana dengan kita besok? Siapa yang akan merawat dan menjaga kita saat tua nanti? Mas aku..." Diah tidak mampu melanjutkan ucapannya. Ia mengeratkan pelukanya pada Bara.
Sementara Bara? Sejak kemarin pria itu hanya menatap dingin ke sekeliling. Bahkan tatapan mata Bara pun terlihat begitu kosong.
"Ini jalan yang terbaik untuk Shelvi, Diah. Jangan menangis lagi! Biarkan anak kita tenang," ujar Bara dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
"Mas...."
"Jangan mengkhawatirkan apapun yang belum terjadi! Selama kita bersama, aku yakin semua akan baik - baik saja."
Mata Diah berkaca - kaca. Ia tersenyum tipis lalu mengangguk.
"Kalau begitu, jangan pernah tinggalkan aku, Mas!"
"Ya, kalau aku tidak akan pergi," ucap Bara sambil menarik Diah ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Dari kejauhan Kenzo dan Helena tersenyum dan merasa lega saat melihat Bara dan juga Diah. Keduanya senang karena Bara mampu menangani Diah dengan baik.
"Aku harap setelah ini, akan ada kebahagian yang terus bersama mereka, ya Mas." ucap Helena sambil menyenderkan kepalanya di lengan Kenzo.
"Ya, saya juga berharap begitu," jawab Kenzo.
Hujan yang sedari tadi mengguyur deras. Kini berangsur reda perlahan - lahan, langit mendung pun mulai menyingkir ketika sinar matahari terlihat malu - malu mengintip dari celah - celahnya.
Akhirnya Shelvi pun di berangkatkan ke tempat peristirahannya yang terakhir. Diah dan Bara turut serta menemani sang putri ke peristirahatannya yang terakhir kalinya. Sedangkan Kenzo dan juga Helena, ia di minta Bara untuk menjaga rumah dan menyambut beberapa tamu yang datang.
Tidak lama setelah Sgelvi di berangkatkan ke pemakaman, orang suruhan Kenzo datang ia membawa informasi yang di minta oleh Kenzo kemarin malam.
"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah menemukan pelaku dan motif pembunuhannya?" tanya Kenzo. ia menatap Niel.. orang suruhannya dengan begitu lekat.
"Dugaan anda benar, Pak. Pelakunya adalah Kevin, putra tunggal dari Bima dan Cindy. Untuk motifnya saya belum tahu dengan jelas. Tapi sepertinya dia mengalami gangguan jiwa.
"Benar, Pak. Tapi beberapa hari ini dia terlihat stress dan depresi semenjak perusahaan dan seluruh usahanya itu bangkrut," jawab Niel.
Kenzo bersedekap, tatapannya lurus mengarah pada dinding yang bercat.
"Oke, kalau begitu pergilah. Terima kasih atas kerja samanya."
"Sama - sama, Pak. Saya pergi dulu." kata Niel sambil melenggang pergi meninggalkan rumah Bara.
__ADS_1
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar.Ia menghembuskan napas kemudian menyandarkan dirinya pada dinding.
"Depresi dan strees ya? Ah bagaimana kalau mereka semua mengalami hal itu," gumam Kenzo sembari menyunggingkan seringai mematikan.
********
"Sekarang mau bagaimana lagi kalian? Aku yakin setelah ini Bara dan Kenzo tidak akan mengampuni kita," ujar Cindy. Sembari menatap Bima dan juga Kevin.
Cindy terlihat gelisah, apalagi setelah mengetahui, jika Kevin tidak sengaja membunuh Shelvi. Cindy semakin stres pikirannya benar - benar buntu.
"Pa, Ma, aku takut. Bagaimana kalau kita kabur saja dari negara ini? Aku tidak mau masuk penjara," kata Kevin, wajahnya benar - benar menujukkan ketakutan yang begitu besar.
"Kau pikir kita masih punya banyak uang, Vin? Untuk membayar semua tagihan rekening listrik dan yang lainnya pun kita sudah kesulitan," balas Bima. Ia pun tidak kalah cemasnya dengan Kevin.
"Tapi aku tidak mau kalau harus masuk penjara, Pa. Belum lagi nanti Kenzo dan yang lainnya akan menuntut balas atas kejadian yang di alami oleh Darren,"
"Arrgh! Sial, ini semua gara - gara kalian yang terlalu sombong. Andaikan kalian tidak berbuat jahat dan menyuruhku untuk ikut menjauhi Darren, semuanya pasti tidak akan begini!" Sentak Bima. Ia berkacak pinggang sembari menatap nyalang ke arah Cindy.
"Kamu menyalahkan aku, Mas?" tanya Cindy. Ia merasa tidak terima saat melihat Bima menatap marah ke arahnya.
"Kamu memang bersalah, Cindy! Sial! Aku sudah menyesal menuruti kemauan kamu."
"Aku juga menyesal, Mas! Karena sudah menjadi Istri dari laki - laki bodoh sepertimu, Mas! Semuanya benar - benar membuatku pusing!" Kata Cindy sambil memegangi kepalanya dengan dua tangan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.