
Setelah itu di dalam mobil itu, menjadi hening. Darren maupun Daniel tidak ada yang berbicara. Kini keduanya sibuk memikirkan apa yang harus di lakukan untuk menangi Kevin.
Tidak lama kemudian, Daniel membelokkan mobilnya ke pelantaran sebuah rumah sakit. Ia mematikan mobil lalu keluar dan di ikuti oleh Darren.
Sepanjang menuju perjalanan menuju tempat Bastian, keduanya hanya saling diam. Tidak ada percakapan apapun di antara mereka berdua.
"Syukurlah kalian sudah sampai di sini. Sejak tadi Om sangat gelisah menunggu kalian," kata Bastian. Ia menghembuskan napas lega setelah melihat kedatangan Darren dan Daniel.
"Jalanan agak macet Om. Jadi maaf kalau kita terlambat;" jawab Darren ia tersenyum tipis kemudian duduk di samping Bastian.
Mendengar ucapan Darren, Bastian menganggukan kepala. Saat ini memang sedang jam sibuk, jadi Bastian tidak heran jika jalanan macet.
"Oke, mari sekarang kita mulai. Ada banyak kejanggalan yang Om dapatkan dari berkas kesehatan Cindy."
"Om sudah melihat berkas kesehatan dia?" tanya Darren dengan tatapan yang begitu serius saat beradu pandang dengan Bastian.
"Ya, dan ternyata di situlah tertulis, jika Cindy hanya terluka kecil akibat tembakan itu. Selain itu, seharusnya Cindy sudah di perbolehkan pulang beberapa hari yang lalu," balas Bastian. Yang sukses membuat Daniel maupun Darren begitu terkejut.
__ADS_1
"Tapi kenapa dia bisa, tidak sadarakan diri, Om? Rasanya mustahil jika dia hanya berpura - pura pingsan. Soalnya aku pernah mencubitnya sekuat tenaga. Tapi tidak pergerakan sama sekali." timpal Daniel ia bersedekap, tetapieajahnya menunjukkan keheranan yang begitu besar.
"Nah karena hal itu, Om mengajak kalian berdua bertemu di sini. Om sangat yakin, jika sudah ada orang yang bersengkokol dengan Cindy sebelumnua," ujar Bastian.
"Kira - kira siapa orang itu, Om? Kita harus segera bergerak dengan cepat. Jangan sampai semuanya menjadi semakin rumit." sambung Darren wajahnya mulai menegang karena perasaan marah yang cukup besar di hatinya.
"Om tidak tahu siapa dia? Tapi, Om sangat curiga jika orang itu adalah Perawat atau Dokter yang menangani Cindy."
Darren dan Daniel menganggukan kepala. Keduanya saling berpandangan, kemudian menghembuskan napas pelan.
"Apa perlu kita menadatangi rumah Kevin?" tanya Daniel.
"Ya, terus kita harus melakukan apa? Tidak mungkin kita hanya mengurusi wanita itu, bukan? Ayolah, masih banyak hal yang jauh lebih penting,"
Bastian terdiam sambil menatap Daniel. Ia bersedekap kemudian mengangguk pelan. Apa yang di katakan Daniel memang benar adanya. Untuk apa panik, hanya karena Cindy melarikan diri?
"Daniel benar juga. Ah, atau mungkin begini saja. Untuk sementara waktu kita serahkan masalah ini kepada orang lain. Kita minta bantuan seseorang untuk menyelidiki semuanya," ujar Bastian, sembari menghembuskan napas pelan. Rasanya ia begitu lega setelah mendapatkan sebuah solusi.
__ADS_1
Darren mengusap wajahnya dengan kasar. Meski kurang setuju dengan keputusan Bastian, tetapi Darren juga tidak bisa berbuat banyak.
"Ya sudah kalau begitu, kita tidak perlu repot memikirkan masalah ini. Lebih baik kita memikirkan kemungkinan rencana yang akan di buat oleh Kevin," sambung Daniel.
"Tapi, selama dia belum bertindak, kita juga belum bisa melakukan apa - apa, Niel. Yang bisa kita lakukan adalah menunggu dan waspada," balas Darren sambil memumpukkan dagunya di atas meja.
"Ya, makanya kita habisi mereka saja langsung, Sial! Rasanya aku bisa gila memikirkan manusia jahanam itu!" Tukas Daniel. Emosinya menggebu - gebu, membuat Darren dan Bastian menatap malas ke arahnya.
Setelah percakapan yang cukup panjang, kini ketiganya memutuskan untuk pergi ke tempat tujuannya masing - masing. Bastian ingin menemui Alex, Darren kembali ke rumah. Sedangkan Daniel? Ia berencana ingin mendatangi Bunga dengan menumpang mobil Bastian.
"Aku rasa masalah ini tidak akan selesai, kalau tidak ada yang bertindak," gumam Darren sambil mengemudi. Lagi - lagi ia menghembuskan napas panjang karena lelah memikirkan Kevin.
"Brengsek! Aku merasa lemah, karena tidak bisa berbuat apa pun," geram Darren. Ia mencengkram erat kemudi mobilnya.
"Tapi apa mungkin lebih baik aku bicara dengan Ayah tentang Niko? Dia mungkin punya rencana yang bagus untuk melawannya." Pikir Darren.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komen, dan vote.