Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Rencana Jahat


__ADS_3

Setelah perdebatan yang cukup panjang dan menguras emosi. Akhirnya semua warga yang berkumpul di depan rumah Kiran pun bubar.


"Kenapa bisa begini? lalu siapa Arya yang mereka maksud?" tanya Kenzo ia dan kedua putranya sedang duduk di ruang tamu. Sementara Kiran dan Helena sedang berada di dapur.


"Arya itu orang yang telah menolong Kiran, Yah. Dia juga yang telah membantu Kiran untuk pindah ke kota ini." jawab Darren.


"Dan dia juga yang membuat Kak Darren hampir menyerah, Yah. Tahu tidak? Tadi Kak Darren sudah hampir kembali tanpa membawa Kiran," sambung Daniel sembari terkekeh geli.


"Benarkah? pantas saja tadi pagi Darren menyuruh Ayah untuk menyiapkan tiket ke negara Z. rupanya dia...." Kenzo menghentikkan ucapannya sembari menahan tawa dan menatap ke arah Darren.


Darren berdecak kesal. "Jangan meledekku seperti itu! yang terpenting kan semuanya sudah selesai," kata Darren. ia bersedekap sembari mengalihkan pandangannya dari Kenzo maupun Daniel.


"Ayah tahu tidak? tadi Kak Darren menangis, dia benar - benar cengeng," sambung Daniel. ia justru semakin semangat meledek Darren yang mulai merasa malu.


"Iyakah? seharusnya kamu memvidiokannya Niel! Ayah benar - benar penasaran bagimana wajah Darren ketika menangis. Haha, dia pasti sangat lucu."


"Bukan lucu lagi, Yah! Kak Darren sudah seperti orang gila yang kehilangan harapan. Haha, untung saja aku membawanya kembali. Kalau tidak mungkin Kak Darren akan benar - benar menjadi seorang Duda." Jawab Daniel. ia menaik turunkan alisnya untuk menggoda Darren.


"Sialan! kembalik kartu milikku!" sentak Darren sembari mengulurkan tangannya pada Daniel.


"Oh tidak bisa begitu, apapun sudah di berikan kepadaku.Maka tidak boleh diambil lagi." ujar Daniel.


"Kalau begitu diamlah! Jangan sampai mulutmu aku sumpal dengan kaos kaki!


Mendengar ancaman Darren, alih - alih takut. Daniel dan juga Kenzo justru kompak tertawa meledek Darren. keduanya saling merasa geli saat melihat Darren yang tampak malu - malu.


Sementara di dapur, Helena melepas rindu dengan Kiran. ia memeluk menantunya dengan erat dan penuh kasih sayang. Helena tersenyum lembut dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kamu apa kabar, sayang? Selama ini kamu baik - baik saja, kan?" tanya Helena. bibirnya bergetar karena menahan tangis dan juga rasa rindu.

__ADS_1


"Kiran menganggukan kepalanya. "Aku baik - baik saja, Ma. Mama apa kabar? Maaf ya, aku sudah buat mama khawatir.


Helena menggelengkan kepalanya. "Seharusnya Mama yang minta maaf sama kamu, Ran. Maaf karena mama tidak bisa mendidik Darren menjadi suami yang baik." ujar Helena.


"Mama jangan pernah berkata begitu, Sekarang dia sudah menjadi suami yang baik" ucap Kiran.


"Benarkah? Apa dia sudah meminta maaf padamu, Nak?"


"Sudah, Ma. Jangan khawatir! putra mama sudah membuktikan semuanya. Sekarang dia sudah berubah." kata Kiran.


Helena tersenyum manis. Setelahnya ia pun merengkuh Kiran dan memeluknya lagi.


" Kalau begitu, Mama senang mendengarnya,Nak. Mamaberharap kalian selalu bahagia." lirih Helena dengan perasaan penuh syukur.


"Amin, Terima kasih banyak untuk semuanya, Ma. Terima kasih karena sudah mau menerimaku."


Sementara di tempat lain. Seorang pria paruh baya menatap nyalang ke arah pria muda di depannya. gurat - gurat kemarahan tercetak jelas di wajahnya. yang mulai menunjukkan jejak - jejak penuaan.


"Wanita murahan mana yang membuatmu lalai akan tugasmu, Arya Kusuma?!"


"Kiran bukan wanita murahan, Yah! Lebih baik Ayah diam saja jika tidak tahu apapun tentangku," kata Arya. Wajahnya yang biasa tenang kini menunjukkan gurat - gurat kemarahan.


Tentu saja ia marah. ia merasa tidak terima ketika Pandu, Ayah kandungnya menyebut Kiran dengan wanita murahan. Meski baru beberapa bulan mengenal gadis berwajah sangat cantik tersebut, tetapi Arya sudah merasa seolah dirinya memiliki ikatan yang cukup kuat dengan Kiran. Oleh karena itu, hatinya meradang ketika Pandu menyebutnya wanita murahan.


"Oh jadi namanya Kiran? Dari keluarga mana dia berasal? Berapa banyak kekayaan yang dia miliki sampai berani menggodamu?" tanya Pandu. Suaranya sarat akan emosi yang semakin membuat Arya semakin tidak betah tinggal di rumah.


Meski memiliki keluarga yang utuh dan kekayaan yang berlimpah. Namun, sedari kecil Arya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu maupun Ayahnya. Bahkan, sejak dulu Arya di paksa untuk menuruti semua kemauan Pandu.


Termasuk harus menjadi seorang Dosen. sebenarnya Arya bercita - cita ingin menjadi Pilot. Namun, karena larangan Pandu, Akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seorang Dosen sekaligus menjabat sebagai Ceo.

__ADS_1


Alih - Alih kasih sayang, Arya juustru sering di tinggalkan oleh Ayah dan ibunya keluarga hanya karena urusan bisnis belaka.


"Cukup Ayah! sampai kapan Ayah akan membandingkan kekayaan orang lain, Ha? saya lelah karena selalu diatur dan di kekang! tukas Arya tatapan matanya begitu nyalang.


"Kamu sudah berani melawan saya, Arya? Saya ini orang tuamu. Saya yang membiayai seluruh kehidupanmu. hingga bisa sukses seperti sekarang ini!" bentak Pandu. wajahnya mulai memerah tangannya pun mengepal erat. Pandu benar - benar murka karena Arya terus membalas ucapannya.


Hari ini, setelah mendapatkan laporan dari istrinya jika Arya memiliki kekasih. Pandu langsung meninggalkan pekerjaannya di luar negeri dan pulang. Pandu sangat marah! ia tidak rela Arya memiliki pendamping hidup tanpa sepengetahuannya.


"Saya tidak menyuruhmu untuk membiayai kehidupan saya. bukankah anda sendiri yang dengan sukarela menghidupi saya?" balas Arya. Matanya menyorot dingin dan datar. sama sekali tidak ada rasa sopan atau pun takut lagi kepada Arya.


Arya!! Sepertinya memang wanita itu benar - benar membuatmu durhaka!" kata Pandu. ia menatap Arya sekilas kemudian menghembuskan napas panjang.


Arya tidak menghiraukan ucapan Pandu. ia justru sibuk membuka ponsel dan mengirimkan pesan pada seseorang.


"Katakan! apa yang kau inginkan sekarang? dan tugas apa yang kamu maksud tadi?" tanya Arya. ia merasa heran sebab dirinya tidak mengerti dengan maksud kata 'Tugas' yang di ucapkan oleh Pandu tadi.


"Apa ibumu tidak memberitahumu tugas yang saya berikan, Arya? Sudah lebih dari dua bulan lamanya saya memerintahkan dirimu untuk mencari tentang keluarga Kenzo Wijaya"


Arya menghembuskan napas pelan. lagi - lagi Pandu menyuruhnya untuk melakukan hal yang cukup bahaya. Bagaima tidak bahaya jika salah langkah sedikit saja. maka sudah di pastikan keluarga Kenzo Wijaya akan merusak karir serta nama baiknya.


"Untuk apa kamu ingin tahu tentang keluarga Mereka? Ah saya tahu. kamu pasti sudah merencanakan sesuatu, bukan?" tanya Arya sembari menaikkan sebelah Alisnya.


"Benar! memang saya memiliki rencana yang sangat brillian. Keluarga Wijaya memiliki perusahaan besar dan ternama, jika kita menjadi bagian dari mereka, maka keluarga kita pasti akan semakin kaya," ujar Pandu. matanya tampak berbinar, seolah - olah baru saja mendapatkan lotre berhadiah fantastis.


"Jangan serakah! Lagipula untuk apa hidup bergelimang harta tetapi tidak bahagia sama sekali? percuma!" ucap Arya, ia bersedekap sembari tersenyum miring menghadap Pandu.


"Lancang! Berani sekali kamu berbicara seperti itu, Arya. Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus menuruti perintah saya."


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2