
Mentari pagi sudah menyapa. Sinarnya yang cerah membuat Darren dan Kiran semakin bersemangat bersiap - siap, Saat ini pasangan suami istri tersebut sudah selesai membereskan barang - barang yang akan dibawa Kiran pulang. keduanya pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Tepat setelah Darren dan Kiran duduk, Daniel tersenyum penuh arti kemudian berkata" Kok rambut kalian nggak basah?"
"Kenapa harus basah?" tanya Darren balik. ia masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan Daniel. Sedangkan Kiran menunduk pipinya mulai bersemu merah.
"Kalian kan sudah lama nggak ketemu. Memangnya nggak rindu, gitu? Biasanya kalau Suami di tinggal istri dalam waktu yang lama. Kalau ketemu pasati Me...."
Darren reflek langsung menghempaskan sendok di tangannya dengan kasar. ia menatap tajam ke arah Daniel yang justru tertawa cengengesan. Darren marah sebab Daniel sudah membuat suasana ruang makan menjadi sedikit canggung.
"Kalau kamu tidak bisa bicara dengan sopan, lebih baik diam, Niel! ucap Darren dengan tegas. ia benar - benar kesal sebab Daniel sudah membuat Kiran malu dan terdiam.
"Sensi amat sih, Kak? Aku kan hanya bertanya. Kalau tidak mau jawab ya sudah. Lagi pula aku kan cuma bercanda" ujar Daniel ia mulai membela dirinya sendiri yang mulai terpojok.
"Bercanda juga ada batasnya Daniel. Kamu sudah dewasa jadi harusnya paham mana yang pantas di bicarakan dan mana yang tidak. Lain kali jaga sikapmu! kata Darren tatapan matanya begitu serius. Sehingga membuat Daniel pun mengangguk pasrah.
"Sudahlah Tuan Suami, jangan marah - marah begitu! ini masih pagi loh," kata Kiran sembari mengusap lembut lengan Darrren. Kiran mencoba menenangkan Darren yang sedang dilanda rasa kesal.
"Tapi Daniel sudah keterlaluan Ran, Dia bahkan membuatmu malu kan? Ck! benar - benar menjengkelkan," sambung Darren ia bersedekap dan beradu pandang dengan Daniel.
Kiran menggelengkan kepala pelan. ia menatap Daniel dan Darren bergantian. Meski selalu terlihat kompak, tetapi tidak jarang Darren dan Daniel saling mendiamkan dan marah satu sama lain.
"Coba lihat aku, Tuan Suami!" Kiran menangkup kedua pipi Darren. ia mengarahkan wajah Darren agar menghadap kearahnnya.
Kiran tersenyum manis kemudian mengecup pipi Darren kilat. " Aku baik - baik saja. Jangan mempermasalahkan hal yang sepele begini! Lagi pula Daniel sudah bilang kan? dia hanya bercanda,"
"Ya, Tapi..."
Darren menghentikan ucapannya. ia menghembuskan napas pelan. ketika melihat Kenzo dan Helena yang baru saja keluar dari kamar. Darren memilih diam, sebab dirinya enggan memperkeruh suasana.
"Kamu sama Daniel kenapa lagi? Kok wajahnya di tekuk gitu?" tanya Helena sembari menatap kearah kedua putranya. Helena bersedekap ia menatap penuh rasa kesal ke arah Darren maupun Daniel.
"Daniel bicara tidak sopan, Ma! Dan aku tidak suka mendengarnya," jawab Darren tatapan matanya kini kembali tertuju pada Daniel.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, lagi pula aku juga sering meledekmu begitu, kan? Cih! Dasar baperan!" kata Daniel sambil tersenyum miring.
Sama halnya dengan Darren. Daniel pun kesal bukan main. Padahal ia hanya berniat untuk bercanda agar dapat meramaikan suasana, Namun kenapa justru ia seoalah - seoalah menjadi pria yang sangat menjijikan.
"Tapi aku tidak suka, jika kamu bicara seperti itu di depan Kiran, Niel. Kalau hanya ada aku tidak masalah. Tapi...."
"Halah! Ngomong saja Kamu tidak suka dengan kehadiranku disini, Kan? Ck, tidak tahu berterima kasih" sentak Daniel matanya memincing, rasa kesalnya pun sudah semakin memuncak.
"Daniel!! Jaga bicaramu."
"Kamu yang seharusnya menjaga ucapan Kak Darren! Mentang - mentang yang paling tua, Kamu bisa seenaknya saja gitu?" balas Daniel sambil menyeringai.
"Daniel Atha Wijaya! Pergi dari sini! Jangan membuat kacau! geram Darren kesabarnnya mulai habis. ia marah kepada Daniel yang semakin menjadi - jadi.
"Apa hakmu mengaturku Kak Darren!" bentak Daniel.
Darren menghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya ke belakang kemudian menatap Daniel. Tidak ada rasa marah maupun benci ketika Daniel selesai bicara.
"Memang kenapa kalau aku Me...."
Darren berdecak malas. Namun, setelahnya ia beranjak meninggalkan ruang makan yang berubah hening. Sebelum mengikuti langkah Kenzo, Darren mengecup kepala Kiran terlebih dahulu.
"Makan yang banyak! Jangan menungguku Ya! ucapnya.
Seperginya Kenzo dan kedua putranya. Suasana di ruang makan berubah menjadi hening dan tidak nyaman. Helena tampak murung dengan tatapan sendu. kemudian Helena mulai mendekati Kiran lalu duduk disampinnya.
"Kiran apa Kamu masih memanggil Darren dengan sebutan Tuan Suami?"
"I...Iya Ma. Memangnya kenapa?" tanya Kiran. matanya mengerjap polos sehingga Helena gemas melihatnya.
"Nggak boleh gitu, Ran. Darren kan Suami kamu. Jadi alangkah baiknya jika kamu memanggilnya dengan sebutan yang lain," jawab Helena.
__ADS_1
"Tapi, Aku tidak tahu harus memanggil apa, Ma. Aku takut dia marah. Lagi pula rasanya aku sudah cukup nyaman memanggilnya begitu." balas Kiran.
"Kamu bisa seperti Mama ke Ayah panggil 'Mas' atau apapun itu yang membuat kamu nyaman." ucap Helena.
"T...Tapi....."
"S..Sst! Nggak ada tapi - tapian, Sayang." ucap Helena lembut.
Kiran menganggukan kepala dan tersenyum manis kepada Helena.
*****
"Daniel! sudah berkali - kali Ayah bilang padamu jangan pernah kamu bercanda dan berbicara tidak sopan seperti itu" ucap Kenzo dengan nada suara yang terdengar kesal.
"Ayah, sudah jangan memperpanjang masalah begini! Aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi" ucap Darren
"Kak Darren, Maaf. Aku tidak bermaksud berbicara tidak sopan seperti itu. Aku hanya marah dan kesal saja denganmu. Sungguh Aku...." Daniel menghentikkan ucapannya ia menunduk di depan Darren.
"Lain kali jangan bicara seperti itu lagi ya! Rasanya tidak pantas jika kamu ingin bercanda seperti itu di depan Kiran" kata Darren sambil menyunggingkan senyum tipis dan menepuk pundak Daniel.
Daniel mengangguk setelah itu, ia memeluk Darren.Melihat hal tersebut Kenzo tersenyum tipis. ia merasa lega karena kedua putranya bisa saling mengerti.
"Ayah senang melihat kalian berpelukkan begitu.Ah, Ayah jadi ingat masa lalu kalian yang lucu," ujar Kenzo. ia terkekeh kemudian mengacak rambut Darren dan juga Daniel. ketiganya pun saling tersenyum.
"Ngomong - ngomong aku sudah boleh makan kan, Yah? tanya Daniel sambil mengusap perutnya.
"Tidak! Kan Ayah sudah bilang padamu. Tidak ada jatah sarapan untuk kalian berdua."
"Loh, Tapi...." ucapan Daniel terpotong ketika seorang gadis muda memasuki rumah Kiran. Matanya berkilat aneh, terlebih ketika melihat gadis tersebut membawa sekeranjang buah - buahan.
Kira - Kira siapakah gadis yang berkunjung kerumah Kiran? hingga membuat Daniel terpesona dengan kehadirannya?
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya........!
Terima Kasih karena sudah membaca. jangan lupa,like komen dan vote. di tunggu komentarnya ya...🤗