
"Saya tidak menyuruhmu untuk menangis! Cepat katakan apa yang sudah kamu lakukan, ha?!" ucap Kenzo marah.
"Ayah jangan kasar begitu, Shelvi sedang mengalami hal yang begitu besar. Dia....., menjadi korban pemerkosaan.
Jawaban Darren sontak membuat mereka terkejut.Namun, berbeda dengan Kenzo. Pria itu justru tersenyum miring.
"Oh, ya? Kalau begitu terserah. Tapi yang jelas, Ayah sudah memperingatkanmu, Darren!" kata Kenzo.
"Memperingatkan apa maksudmu, Yah?" tanya Darren yang tidak di mengerti akan maksud ucapan Kenzo.
"Ah, lupakan! Karena kamu sudah ada disini. Maka Ayah akan mengatakan sesuatu," kata Kenzo.
Darren mengangguk kemudian duduk di samping Kiran. Namun, sebelum itu ia meminta kepada Shelvi untuk menuju kamar tamu terlebih dahulu.
Darren mengangkat tangannya. ia hendak merengkuh pinggang Kiran, tetapi sayangnya Kiran justru berdiri dan memilih duduk di samping Daniel yang tempatnya jauh lebih lebar. Darren menghela napas pelan, ia menatap Kiran sekilas kemudian memfokuskan tatapan matanya kepada Kenzo dan Helena.
"Ayah dan Mama akan mengujungi kota "D" sekalian mengunjungi pamanmu. Dan kemungkinan besar kami akan menetap di disana untuk beberapa waktu," kata Kenzo membuat sukses Daniel dan Darren terkejut.
"Ayah serius? Bukankah Ayah sudah memutuskan untuk beristirahat? Tapi...."
"Ayah tidak punya pilihan lain, Darren. Kamu jelas tidak bisa pergi karena Kiran sedang hamil tua. Dan Daniel? Karena kuliahmu tinggal menunggu hari wisuda. Mulai besok kamu akan kembali ke kantor pusat dan membantu Kakakmu.
Daniel dan Darren saling berpandangan. Setelahnya mereka berdua pun mengangguk. "Berapa lama Ayah dan Mama disana?" tanya Daniel. Sebenarnya ia merasa sedikit tidak rela jika harus berpisah lama dengan Helena. Namun, Daniel tidak punya pilihan lain.
"Tidak lama mungkin sekitar satu tahun. Selain mengurus perusahaan, Ayah juga ingin menikmati masa tua bersama kalian." kata Kenzo sembari tersenyum tipis ketika beradu pandang dengan Helena.
"Jadi Ayah dan Mama benar - benar akan pergi? Astaga, nanti siapa yang akan membangunkan ku kalau pagi?" tanya Daniel wajahnya tampak merengut.
"Kamu itu kan sudah besar, Niel. Jangan manja lagi," ujar Helena
"Mama kamu benar. Ya, sudah Ayah sama Mama mau bersiap - siap dulu," sembari baranjak dan di ikuti oleh Helena.
Setelah kepergian Kenzo dan Helena, Suasana ruang keluarga berubah menjadi hening. Darren menatap lekat Kiran, Sedangkan Kiran? ia menunduk dan mengusap - usap perutnya.
__ADS_1
"Ran...."
"Niel.., katanya kamu mau ngasih tahu tentang resep - resep kue kan?" tanya Kiran. ia sengaja memotong pembicaraan Darren.
"Ah, kamu benar, Ran. Kemarin aku telah mendapatkan banyak buku resep. Ayo aku tunjukkan!" balas Daniel sembari beranjak dari duduknya.
Kiran pun melakukan hal yang sama. Tanpa menatap ke arah Darren, ia melangkahkan kakinya ke arah Daniel.
Darren berdecak marah. ia tersenyum miring sembari melihat kepergian Kiran. Dan tangannya pun mengepal kuat. Darren cemburu!
"Kita lihat saja, Ran. Seberapa lama kamu tahan mengabaikanku begitu," ujar Darren.
"Apa menurutmu aku bisa membuat ini, Niel?" tanya Kiran sambil terkekeh. Menatap sebuah resep buku yang di berikan oleh Daniel.
"Tentu saja kamu bisa, Ran. Karena masakan yang kamu buat selalu enak. Dan aku juga yakin kalau kamu membuat ini, hasilnya akan sempurna," kata Daniel ia yang duduk di sebelah Kiran ikut terkekeh.
Keduanya berbincang - berbincang membahas resep masakan yang ada di buku. Meski duduk berdampingan tetapi ada jarak yang cukup lebar diantara keduanya. Alasannya, Tentu saja karena Daniel atau pun Kiran tidak ingin membuat Darren salah paham.
"Tapi sepertinya membuat kue ini akan sangat sulit, Niel. Ah..., andai aku bisa belajar langsung dengan ahlinya," ujar Kiran. ia menghembuskan napas panjang dengan tatapan yang terus tertuju pada resep.
"Ah, kamu benar, Niel. Tapi ngomong - ngomong, Aku belum pernah datang ke restoran Mama," balas Kiran. ia tersenyum tipis sembari meletakkan kembali buku resep ke atas meja.
"Benarkah? Bukankah dulu kamu pernah bekerja bersama Citra disebuah restoran, Ran?"
"Iya, Memangnya kenapa?" tanya kiran sembari menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga.
"Itu cabang restoran milik Mama, Va? Memangnya kamu tidak tahu?"
Kiran membelalakkan matanya. ia terkejut setelah mendengar ucapan Daniel " Benarkah? Sungguh kebetulan yang luar biasa," jawab Kiran.
"Sudah kuduga, Pasti kamu tidak tahu," balas Daniel sambil tersenyum.
Kiran mengangguk sembari tertawa kecil. Wajahnya terlihat begitu riang saat berbincang
__ADS_1
- bincang dengan Daniel. Tanpa mereka sadari, Sepasang mata menatap tajam kearah keduanya.
"Ck! Berani sekali, Daniel menggoda istriku," ujar Darren sambil mengepalkan tangannya. ia yang baru saja selesai mandi justru merasa semakin gerah melihat Daniel dan Kiran.
Merasa tidak tahan melihat kebersamaan Kiran dan Daniel, Darren pun berinisiatif untuk mendekati keduanya. Darren berencana ingin membawa Kiran ke kamar dan menghukumnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Darren sambil duduk di depan Daniel dan juga Kiran. Matanya menatap datar ke arah Daniel.
"Apa kamu tidak melihatnya, Kak Darren? Kami sedang membahas hal yang bagus dan juga menarik. Dan sekarang kamu malah menganggunya," balas Daniel, Suaranya terdengar sinis dan tidak mengenakan bagi Darren.
"Sialan! Berani sekali kamu...."
"Niel, Sepertinya ini sudah sore. Sudah waktinya aku membantu menyiapakan makan malam. Aku ke dapur dulu ya! Jangan lupa rencana kita besok," ucap Kiran sambil tersenyum manis. Lagi - lagi Kiran memutus ucapan Darren.
"Siap, kamu tenang saja," jawab Daniel dengan suara yang terdengar semangat.
Setelah Kiran benar - benar pergi, Darren menatap tajam ke arah Daniel. Aura marah dan cemburu terlihat jelas dari wajahnya.
"Apa yang kamu rencanakan dengan Kiran, Daniel?" tanya Darren.
"Kamu tidak boleh tahu. Karena ini rahasiaku dengan Kiran," balas Daniel sembari tersenyum miring ia beranjak dari duduknya lalu berniat pergi.
Namun, belum sempat melangkahkan kaki, Darren sudah menghentikannya. Darren mencekal kerah kemeja bagian belakang baju Daniel.
"Cepat katakan! Apa yang kamu rencanakan dengan Kiran, ha?"
"Kamu tidak perlu tahu, Ka Darren. Lebih baik kau urusi saja kekasih barumu itu. Cih! Benar - benar pria bodoh," balas Daniel. ia menghempasakan tangan Darren kemudian tersenyum sinis.
"Apa maksudmu, Sialan? Aku tidak memiliki kekasih baru. Jangan sembarangan kamu bicara, Niel!" bentak Darren emosinya mulai tersulut, apalagi ketika melihat senyum sinis di wajah Daniel.
"Oh ya? Lalu siapa wanita yang kamu bawa tadi? Oh jangan - jangan dia simpanan mu, Ka Darren?" jawab Daniel
"Brengsek! Jaga bicaramu, Niel!" balas Darren dengan nada suara yang tinggi.
__ADS_1
Daniel tidak menjawab dia justru bersedekap sambil terkekeh sinis. "Terserah apa katamu, Kak Darren. Lebih baik aku ke kamar dan bersiap untuk kencan dengan Kiran besok," kata Daniel.
Jangan lupa, like, komen dan vote.