Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Rencana Busuk Vanesha Part 1


__ADS_3

Belum selesai Kiran bicara, Darren sudah lebih dulu mengecup bibirnya. Tidak hanya kecupan Darren juga ********** lembut. Kiran memejamkan mata, ia menikmati apa yang di lakukan oleh Darren padanya.



"Jangan marah - marah lagi!" Kata Darren saat melepaskan tautan bibirnya.


"Aku nggak akan mungkin marah kalau kamu nggak jahat, Mas."



"iya..iya, Sayang. Aku minta maaf. Aku janji nggak akan melakukan hal itu lagi."


Kiran mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada dada Darren. Setelah beberapa saat merasakan rindu yang menggebu - gebu di hatinya, Kiran mendongak. dan berkata, "Pemotretannya di batalkan, Kan?" tanya Kiran.


"Kata siapa? Aku akan tetap melakukan pemotretan," jawab Darren sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Mas, Katanya kamu ngga....."


"Aku akan tetap melakukannya, tapi bukan sama Vanesha," kata Darren memotong ucapan Kiran.


Lalu? Apa kamu punya wanita lain, Mas?


Darren menghela napas pelan. ia menatap ke arah Kiran yang matanya berkaca - kaca.


" Bukan dengan Vanesha, tapi denganmu sayang," bisik Darren sembari menarik kiran dalam pelukannya.


"Eh...?"


****


"Darren kamu apa - apaan sih? Siapa wanita hamil itu?" tanya Danu ia menatap jengkel ke arah Darren yang baru saja datang ke studio fotonya. Danu kesal karena Darren justru membawa Kiran dan mengabaikan Vanesha yang sudah bersiap.



"Dia istriku. Kamu keberatan kalau aku membawanya?" tanya Darren balik. ia bersedekap, tatapan matanya begitu datar saat beradu pandang dengan Danu.


"Aku tidak keberatan, hanya saja ini tidak sesuai dengan perjanjian kita, Darren. Kalau kamu membawa istrimu kesini, aku takut dia akan menganggu jalannya pemotretan nanti, Darren." balas Danu. Ia menghela napas sembari sesekali menatap ke arah Kiran yang tengah duduk tidak jauh dari Vanesha.


"Istriku tidak mungkin menganggu, Nu," ujar Darren ia tersenyum miring sehingga Danu pun berdecak kesal.


"Tapi Vanesha akan marah Darren? Astaga kamu lihat? Wajahnya muram dan tidak ada senyum sama sekali di bibirnya," Sambung Danu sambil menunjuk ke arah Vanesha.



Apa yang dikatakan Danu memang benar adanya. Vanesha terlihat kesal dan muram. Raut wajahnya terlihat marah. Apalagi saat menatap ke arah Kiran. Namun siapa yang peduli? Bagi Darren, Vanesha hanyalah masa lalu yang merusak kehidupannya.

__ADS_1


" Lalu apa hubungannya denganku? Aku tidak peduli meski Vanesha marah bagiku, dia tidak penting sama sekali," ucap Darren. kali ini ia memasukan kedua tangannya pada saku celana.


" Kalau Vanesha marah, bagaimana dengan pemotre...." Danu menghentikkan ucapannya. ia terdiam saat Darren mengangkat tangnnya.


"Aku tidak mau melakukan pemotretan dengan Vanesha. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak ingin membuat istriku cemburu," kata Darren sambil tersenyum miring.


"Tidak bisa gitu dong, Darren! Aku sudah mengeluarkan banyak biaya hanya untuk project ini. Kalau kamu membatalkannya begitu saja, aku bisa sangat rugi. Selain itu, dari pihak agensi Vanesha juga bisa menuntutku," ujar Danu. Wajahnya begitu frustasi karena keputusan yang di ambil oleh Darren.


Darren terkekeh lalu menepuk pundak Danu pelan. " Jangan khawatirkan soal itu, Nu. Aku yang akan mengurus semuanya nanti."


"Tapi Darren.."


"Sudahlah! Sebagai gantinya aku akan tetap melakukan pemotretan. Tapi bukan dengan Vanesha melainkan dengan istriku," kata Darren.


Danu membelalakkan matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali kemudian mengusap wajahnya dengan kasar " Kamu benar - benar keterlaluan Darren! Astaga..., untung kamu teman baikku," kata Danu.


"Hm"


Darren berbalik, Kali ini tatapan matanya tertuju pada Kiran yang tengah menunduk. Darren tersenyum tipis, penampilan Kiran kali ini benar - benar membuatnya terpukau.


Tadi sebelum berangkat menuju studio foto milik Danu. Darren membawa Kiran menuju ke sebuah salon. Dan hasilnya? sukses membuat Darren tak mampu berpaling darinya. Kiran terlihat begitu anggun dan cantik.


"Kenapa kamu membawa wanita kampungan ini, Darren?" Tanya Vanesha ketika mendekati Darren dan Kiran. Raut wajahnya semakin masam, apalagi ketika Darren mengusap lembut puncak kepala Kiran.


"Tapi, aku merasa tidak nyaman memakai baju seperti ini, Mas. Kita pulang sekarang ya," Kata Kiran.


" Nggak nyaman? Kamu udah cantik banget, kurang apalagi ini, sayang. Atau kamu mau ganti?" tanya Darren. Tangannya terulur dan mengusap lembut pipi chubby Kiran.


"Iya, Aku pengin ganti aja. Tapi pakai baju yang biasa aku pake ya, Mas. Aku tidak suka pakai baju begini" kata Kiran. Karena saat ini, Kiran sedang mengenakan Blue two tone lace flare dress dengan detail bahan lace atau berenda. Dengan Heels yang berwarna senada.



Meski terlihat begitu cantik tetapi Kiran merasa kurang nyaman. Sebab ia tidak biasa mengenakannya.


"Nggak bisa gitu dong. Nanti aja kalau kita sudah selesai berfoto," jawab Darren.


Vanesha yang sedari tadi mendengarkan ucapan Darren sontak menoleh. Matanya membulat sempurna, terlebih lagi ketika Darren mengatakan jika dirinya akan berfoto dengan Kiran.


"Darren apa maksudmu? Bukankah kamu akan berpasangan denganku? Lalu kenapa..." Ucapan Vanesha terhenti saat Darren menatapnya lekat.


Darren tersenyum sinis lalu berkata, " Siapa yang sudi menjadi pasanganmu?"


"Loh, Danu bilang kalau kita akan ber...."


"Aku membatalkannya. Aku akan melakukan pemotretan dengan istriku, Bukan denganmu," tukas Darren. Suaranya mengalun rendah, tetapi sarat akan sinis.

__ADS_1


Vanesha membelalakan matanya. ia menggeleng pelan kemudian beranjak dari duduknya. Vanesha berdiri lalu menghadap Ke arah Kiran tatapan matanya begitu tajam sehingga membuat Kiran menundukkan kepalanya.



"Memang apa bagusnya wanita ini, Darren? Astaga, dia bahkan begitu buruk dan kampungan. Memangnya kamu tidak malu, Darren? Ya Tuhan, kamu pasti akan di tertawakan oleh semua orang." kata Vanesha. Bibirnya pun menyunggingkan seringai sinis yang menjengkelkan.


"Malu? Untuk apa malu? Kiran itu istriku. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk malu. Sudahlah lebih baik kamu pergi saja dari sini. Kamu sudah tidak di butuhkan lagi," kata Darren sambil menatap marah ke arah Vanesha.


"Sial! kalian berdua benar - benar membuatku marah," Sentak Vanesha sembari menghentakkan kakinya. Ia merasa marah dan sakit hati ketika melihat kemesraan Darren serta Kiran.


"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, Nesh! Cih, wanita tidak tahu diri." geram Darren.


" Sudahlah, Mas. Nggak usah marah - marah begini. Nggak enak loh di lihatin orang," kata Kiran sembari menyentuh lengan Darren. Ia tersenyum manis untuk menenangkan hati Darren.


"Tapi dia sudah menghina kamu, Ran. Memangnya kamu tidak marah? Kamu tidak sakit hati mendengarnya?" tanya Darren.


"Untuk apa sakit hati? Toh kamu sudah membelaku. Jadi ya sudahlah jangan di perpanjang lagi," jawab Kiran.


Darren menghela napas pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari Kiran dan menatap Vanesha yang perlahan - lahan pergi menjauh.


"Kenapa kamu tidak marah, hm? seharusnya kamu melawan saat ada orang yang berbuat jahat padamu,"


"Kata siapa aku tidak marah? Aku marah, Mas. Tapi aku bisa apa? Lagi pula apa yang di katakan Vanesha memang benar, Kan?" Kiran tersenyum tipis. Wajahnya yang semula tersenyum ceria perlahan meredup.


" Tapi Ran....."


"Ah, Sudahlah, Aku mau ke kamar mandi dulu. Aku bosan sudah terlalu lama menunggu begini." kata Kiran.


"Perlu aku antar, Ran?


"Tidak perlu, aku bisa sendiri?


Darren mengganggukan kepala. Setelahnya ia pun menatap Kiran yang berjalan pelan menuju kamar mandi. Dan berkata "Aku harap dia baik - baik saja selamanya,"


Melihat Kiran yang berada di Kamar mandi, Vanesha tersenyum licik. Seketika matanya berbinar ketika mendapatkan sebuah ide yang cukup brilian menurutnya. dan berkata, "Aha, bagaimana kalau bermain sebentar dengannya?


Aku yakin ini akan menjadi hal yang bagus."


Apakah yang di rencanakan Vanesha untuk Kiran? Akankah Kiran baik - baik saja?


Nantikan terus mereka kisahnya ya~~


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen dan vote. Di tunggu komentarnya ya🤗

__ADS_1


__ADS_2