
"Jadi siapa pria itu, yang sudah melakukan hal itu padamu?" tanya Darren setelah Shelvi sudah merasa lebih baik.
"Aku tidak tahu, Darren. dia memaksaku, dia...argh tidak!!!" ucap Shelvi sembari menutup kedua telinganya. ia menunduk dengan tubuh yang gemetar. Seolah - olah dirinya sedanf merasa ketakutan.
"Jangan di tanya macam - macam dulu, Darren. Biarkan wanita itu, tenang dulu," ujar Ivan yang sedari tadi hanya diam. ia menatap ke arah Darren kemudian beralih ke arah Shelvi.
Darren menghembuskan napas panjang. ia duduk di sofa sembari bersedekap. Matanya menatap tajam ke arah Ivan. Andai kondisinya memungkinkan rasanya Darren ingin sekali menghajar Ivan. Ya, paling tidak memberikan beberapa pukulan untuk orang yang sudah di anggap sebagai saudara tersebut.
"Sepertinya kita perlu bicara, Van. Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Darren sembari beranjak dari duduknya.
Ivan menaikkan sebelah alisnya. Setelah menatap Shelvi sesaat, ia pun menyusul langkah kaki Darren menuju ke ruang depan.
"Bicara apa lagi? Kamu mau marah, Karena aku sudah mengkhianatimu," tanya Ivan nada suaranya menyiratkan ketidaksukaan kepada Darren.
Darren menggeleng pelan. Setelah itu ia pun berkata " Darimana kamu mengenal Shelvi?"
Darren menatap penuh selidik ke arah Ivan. Sejak tadi, tepat ketika melihat Shelvi berada di markas. Darren sudah merasa heran dan juga penasaran darimana Ivan bisa mengenal Shelvi. Sebab, selama ini ia tidak pernah tahu jika Ivan cukup dekat dengan Shelvi.
Ivan tampak gelagapan. Wajahnya terlihat gelisah dan matanya menatap kesana kemari enggan beradu pandang dengan Darren.
"B...Bukankah dulu kamu pernah mengenalkannya padamu, Darren? Dulu sewaktu Shelvi masih di luar negeri, bebetapa kali kamu bercerita tentangnya" jawab Ivan dengan nada suara terbata - bata dan gugup.
Darren mengernyitkan dahi, ia mencoba mengingat tentang apa yang akan di katakan oleh Ivan. Namun, sayangnya ia tidak busa mengingat apapun.
"Jangan bercanda denganku, Van! Katmrena aku tidak pernah bercerita apapun tentang Shelvi," balas Darren tatapan matanya semakin tajam.sehingga membuat Ivan pun merasa mulai gugup.
"Ck! Sudahlah jangan membahas hal tidak penting seperti itu. Lebih baik kamu bawa pulang Shelv! Dia butuh istirahat, Darren." ucap Ivan
"Kenapa harus aku yang membawanya pulang,? Aku tidak mungkin membuat istriku cemburu, Va."
"Ya, lantas siapa lagi? Apa kamu tega membiarkan Shelvi hidup di jalanan dan menjadi bahan permainan para preman?" sentak Ivan. Matanya menatap tajam dengan kilat kemarahan yang terlihat jelas.
Darren menghela napas panjang. Tanpa membalas ucapan, Ivan. Darren kembali menemui Shelvi. Hatinya berubah menjadi bimbang. ia ingin membawa Shelvi bersamanya, tetapi hatinya tidak ingin membuat Kiran sakit hati.
"Shel, sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Darren ia menatap wajah Shelvi yang telah bersimbah air mata.
__ADS_1
Shelvi menggeleng, lalu berkata "Aku tidak tahu, Darren. Aku tidak tahu mau kemana lagi. Aku tidak punya rumah maupun uang," balas Shelvi. isak tangisnya kembali terdengar sehingga membuat Darren pun semakin tidak tega.
"Kalau begitu aku akan menghubungi, Om Bara. Aku yakin dia akan mengerti. Setelah kamu mrnceritakan semuanya, Shel," kata Darren sembari mengenggam tangan Shelvi dan membujuknya.
"Tidak! jangan lakukan itu, Darren! Papi pasti akan marah besar!" kata Shelvi dengan suara yang meninggi. ia bahkan menghempaskan tangan Darren.
"Lalu kamu mau kemana? Bahaya kalau kamu terus berada di jalanan tanpa rumah. satu - satunya cara adalah menghubungi Om Bara.
"Jangan nenghubunginya,Darren! Aku tidak mau Papi memarahiku lagi. Rasanya menyakitkan saat mengingat...." Shelvi tidak melanjutkan ucapannya. ia menunduk dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
Darren menghembuskan napas panjang. ia lalu menatap ke arah Ivan yang sedang bersandar di ambang pintu.
"Bagaimana kalau kamu saja yang membawa Shelvi, Van?"
""Jangan gila kamu Darren! Apa kata orang kalau aku sampai membawanya?" tukas Ivan.
"Lalu apa yang harus aku....." Darren menghentikan ucapannya ketika Shelvi menyentuh lengannya. Darren menoleh dan melihat mata Shelvi yang mulai berkaca - kaca.
"Bawa aku pulang kerumahmu, Darren,"
Shelvi mengangguk lemah. ia berjalan lalu berdiri membelakangi Darren.
"Kamu benar, apalagi aku sudah berbuat jahat kepada istrimu. Dia pasti sangat membenciku kan, Darren? lirih Shelvi.
"Dia tidak mungkin membencimu. Hanya saja, aku tidak mau membuatnya terluka, Shel."
"Lalau bagaimana denganku? Bukankah kamu sudah menganggapmu sebagai seorang adik?" tanya Shelvi bibirnya bergetar menahan tangis.
"Tapi, aku....."
"Sungguh, Aku akan berjanji meminta maaf kepada istrimu, Darren. Aku juga akan berjanji berbuat baik padanya. Aku mohon berikan aku tumpangan untuk sementara waktu," kata Shelvi wajahnya bersungguh - sungguh ketika memohon kepada Darren.
Darren diam beberapa saat. ia tengah mempertimbangkan baik dan buruknya. Jika sampai membawa Shelvi pulang kerumah Kenzo.
"Ayolah,Darren! Memangnya kamu tidak kasihan? Bawa saja dia, lagi pula keluargamu sudah mengenal dengan baik, kan? jadi apa masalahnya?" sambung Ivan.
__ADS_1
Darren menyugar rambutnya ke belakang. ia benar - benar bimbang dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Rasanya aku ingin membantu Shelvi. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu antara Shelvi dan juga Ivan" gumam Darren
Darren kembali menatap Shelvi. Ingatan masa kecilnya dengan Shelvi pun kembali berputar layaknya kaset.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan hidupnya di jalanan..."
*****
"Apa maksudnya ini, Darren?! Kenapa Shelvi bisa datang bersama kamu?" tanya Helena. ia begitu terkejut ketika melihat Darren membawa Shelvi yang terlihat acak - acakan.
"Ceritanya panjang, Mah. Dan Shelvi butuh bantuan kita," ucap Darren sambil meletakkan koper milik Shelvi di dekat dinding.
Helena menggelengkan kepala pelan. Setelah itu, ia pun melirik ke arah Kiran yang sedari hanya diam. Hanya dari sekali tatap Helena tahu betul jika Kiran merasa keberatan dengan keputusan yang di ambil oleh Darren.
"Kenapa dia meminta bantuan dengan kita? Bukankah dia punya keluarga, Darren. Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak," kata Kenzo kata - katanya begitu tajam. Terlebih lagi ketika beradu pandang dengan Shelvi.
"Justru karena itu, Yah. Shelvi di usir dari rumah. Om Bara tidak mau mengakui Shelvi sebagai anaknya lagi," kata Darren. Tatapannya begitu serius. Sehingga membuat Kenzo, Helena, Kiran dan juga Daniel membelalakan matanya.
"Jangan bodoh kamu Darren! Bara tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada kesalahpahaman disini," kata Kenzo. ia bersedekap sembari menatap lekat ke arah Shelvi.
"T...Tapi aku tidak bohong, Om. Papi sangat marah dan dia mengusirku dari rumah. D..Dia membenciku," lirih Shelvi di sertai isak tangis.
Bahu Shelvi bergetar hebat. isak tangisnya pun menggema di seluruh ruang keluarga.
"Bara sangat marah pasti ada alasannya, bukan? Jadi apa yang sudah kamu perbuat, hm?" sinis Kenzo. Rasanya ia tidak percaya apa yang telah di ucapakan oleh Shelvi.
"A...Aku...., aku..." Shelvi tidak melanjutkan ucapannya. ia justru semakin menangis hingga tanpa sadar ia memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Darren.
.
Melihat hal tersebut, Kiran tidak banyak bicara. ia hanya tersenyum tipis sambil menahan diri agar tidak menangis ataupun berkata tidak sopan pada Shelvi.
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1
Di tunggu komentarnya ya......, hehe