Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Aku Mencintaimu ( Terlambat?)


__ADS_3

Bahu Darren mulai bergetar. seketika isak tangisnya pun terdengar memenuhi seluruh kamar. Disaksikan oleh jam yang terus berputar, kali ini Darren menangis sejadi - jadinya. untuk pertama kalinya Darren benar - benar hancur karena seorang wanita. Darren sungguh menyesal tapi semuanya sudah terlambat.


" Kembalilah Ran" ucap Darren pilu.


Darren menatap kearah depan. Dahinya mengernyit ketika melihat sebuah buku diary yang terletak diatas nakas. karena merasa penasaran, Darren yang sedang duduk dilantai pun beranjak. Darren mengambil buku diary bersampul biru tersebut. Dibukanya lembar demi lembar kertas yang berisi tulisan tangan Kiran. Darren tak kuasa menahan tangisnya lagi karena semua yang di tulis oleh Kiran adalah harapan - harapan sederhana yang bahkan belum pernah Darren berikan kepada Kiran. Hingga akhirnya, tatapan Darren jatuh pada lembar sekian. Tepatnya pada catatan sehari sebelum ia membawa Kiran kerumah kedua orang tuanya.


*Tuhan...


Aku senang kini suamiku mulai berubah. Terkadang meski masih mejengkelkan, tetapi dia tidak sekasar sebelumnya.


Seharusnya aku membencinya karena dia yang sudah menghancurkan masa depanku. Tapi kenapa aku justru sangat mencintainya?apa karena wajahnya tampan? tapi kurasa mas Daniel jauh lebih tampan darinya hehe. Tapi entah mengapa, suamiku seolah memiliki pesona yang membuatku tidak bisa melupakannya. Aku selalu berharap pernikahanku baik - baik saja atau setidaknya, dia mengakuiku sebagai istrinya.


Tuhan..


Jaga dan lindungilah suamiku. Jangan biarkan dia dekat dengan wanita mana pun, kalau dia berpaling hapuskan rasa cintaku untuknya.


-Kiran*.


Darren menutup buku harian Kiran.Matanya semakin memerah seiring dengan gejolak penyesalan yang membuncah dihatinya.dadanya bergemuruh, untuk sesaat Darren merasa ingin sekali mengakhiri hidupnya.


"Bodoh, apa sekarang kamu benar - benar mulai meninggalkanku Ran? apa pria itu jauh lebih baik dariku? demi Tuhan Ran! Aku benar - benar menyesal. Kalau kamu kembali, aku berjanji akan memberikan apa pun yang kamu mau, Ran" gumam Darren.


****


Pagi harinya, Darren berkunjung kerumah orang tuanya. Karena ada yang mau di bicarakan oleh mamahnya. Sesampainya di kediaman Wijaya Darren langsung ke ruang Keluarga di situ Helena sudah menunggunya.


"Ada apa Mah, kenapa mamah tiba - tiba menyuruhku datang kerumah? mamah butuh sesuatu yah?" tanya Darren sambil bersandar di sofa, ia tersenyum tipis, rasanya begitu lega sebab Helena tak lagi memusuhinya.


"Kamu tahu kan, Nak? dua hari lagi Kevin dan Vanesha akan mengadakan resepsi pernikahan. Kemarin papah kamu telfon, katanya kamu di suruh datang?"

__ADS_1


"Entahlah Mah, rasanya aku begitu malas untuk hadir di acara pesta para pengkhianat itu? dan Kenapa bukan papah dan mamah saja yang datang ke acara pesta itu atau suruh Daniel yang datang kesana saja"


"Papah maupun Daniel nggak bisa pergi ke acara itu karena mereka sedang bertugas ke luar kota untuk mengurusi perusahaan cabang yang sedang bermasalah, Nak."


Darren menghembuskan napas panjang. "Baiklah akan aku usahakan datang ke pernikahan mereka."


mendengar ucapan Darren, Helena tersenyum tipis. Ia menepuk - nepuk lengan Darren kemudian memeluknya. Air mata Helena pun luruh, meski mencoba sekuat tenaga, tetapi ia tidak bisa menghilangkan rasa sedih karena kepergian Kiran.


Helena juga tahu, meski Darren bersikap biasa saja dan terlihat tenang. Namun di hatinya pasti tersimpan rasa sakit yang amat dalam. Hal tersebut terlihat jelas dari pancaran mata Darren.


"Mamah kenapa menangis? Aku kan sudah bersedia menuruti semua perintah mamah," ucap Darren sambil membalas pelukan Helena.


"Mamah sedih Nak, kamu pasti sedih setelah kepergiaan Kiran. mamah....."


"Ssst! jangan bicara seperti itu ma! aku baik - baik saja, aku tidak menderita hanya karena.." ucapan Darren terhenti ketika Helena melepaskan pelukannya.


"Ma..."


"Katakan Darren! Apa benar kamu mencintai Kiran? Apa kamu menginginkannya kembali?" tanya Helena.Tatapannya begitu serius ketika beradu pandang dengan Darren.


Darren terdiam setelah mendengar pertanyaan dari bibir Helena. Ia memejamkan mata sejenak lalu mengangguk pelan. " Ya, aku mencintainya,Ma. Tapi sayangnya aku terlambat. Kiran sudah pergi entah kemana, kata Darren pilu"


Helena tersenyum, perasaan lega perlahan - lahan menguasai hatinya.Ia senang sebab Darren sudah berani untuk mengungkapkan perasaannya.


"Kalau kamu memang mencintainya. jaga baik - baik hatimu, Darren! jangan berpaling dari Kiran!.


"Aku mengerti Mah, ya sudah aku berangkat dulu."


"Hati - Hati di jalan! Ingat jangan banyak bermain dengan wanita, Darren! Meski terpisah,tetapi kamu masih memiliki istri yang sah."

__ADS_1


Darren hanya mengangguk. Setelahnya ia pun meninggalkan Helena dengan perasaan berkecamuk yang membuatnya sedikit gelisah. Darren menghela napas pelan.


*****


Tak terasa kini empat bulan telah berlalu, dan kini usia kandungan Kiran sudah menginjak usia enam bulan. Perutnya sudah mulai membesar tapi tidak menyurutkan semangat Kiran untuk terus bekerja. dan beruntungnya rekan - rekan kerja Kiran adalah orang baik. mereka tidak pernah membicarakan Kiran. bahkan mereka juga sering membantu pekerjaan Kiran. Begitu juga dengan Angga. pria berwajah manis tersebut begitu perhatian dengan Kiran.


"Hari ini kamu tunggu di kasir aja ya, Ran. karena kandunganmu sudah semakin membesar. saya takut terjadi sesuatu kalau kamu sampai kelelahan." ujar Angga sambil menatap lembut kearah Kiran.


"Memangnya tidak apa - apa, Pak? bukankah seharusnya Citra yang ada di bagian Kasir?"


" Nggak apa - apa kok, Mbak. Ini kan juga demi kebaikan calon keponakan ku juga," balas Citra yang entah datang darimana. Wanita itu langsung menggapit lengan Kiran lalu tersenyum manis.


"Sudah Dengar, kan? Citra tidak masalah, jadi mulai hari ini dan seterusnya kamu bagian kasir ya. Tapi tenang saja kalau restoran ramai Citra akan membantumu." ucap Angga sambil tersenyum. Senyumnya begitu manis, hingga siapa saja yang melihatnya pasti meleleh. Tentu saja kecuali Kiran.


"Kalau begitu terima kasih banyak, Pak" ucap Kiran.


"Sama - sama. Kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa istirahat, Ran!" Angga mengusap lembut bahu Kiran. Setelahnya ia pun berlalu pergi menuju ke ruang kerjanya.


Sepeninggal Angga, Citra menatap Intens kearah Kiran. Senyum aneh dan juga tatapan jahil terlihat jelas ketika ia beradu pandang dengan Kiran.


"Aku rasa pak Angga suka deh sama kamu, Mbak. Dia sangat perhatian dan manis sekali kalau sama Mbak Kiran." Kata Citra. Ia terkekeh geli sembari mengikuti langkah Kiran yang sedang menuju ke kasir.


"Jangan bicara sembarangan Cit! kalau ada yang denger kan nggak enak. Lagi pula mana mungkin Pak Angga suka denganku? Aku ini wanita hamil Cit." balas Kiran.


"Loh memangnya kenapa dengan wanita hamil. Mbak Kiran sangat cantik dan juga baik. Aku yakin dia memang menyukaimu, Mbak. ucap Citra kali ini raut wajahnya di buat serius. seolah - olah sedang meyakinkan Kiran kalau ucapannya memang benar adanya.


"Sudah deh jangan sembarangan bicara! Kamu tahu? S..Sebenarnya aku punya suami," lirih Kiran ia menunduk dalam. jantungnya berdetak kencang, sebab baru kali ini ia berani bercerita kepada Citra.


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2