
* Flashback ON
"Ngapain kamu kesini? Kamu sengaja mengikutiku ke kamar mandi?" tanya Vanesha yang kebetulan berada di kamar mandi.
"Tidak. Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi," jawab Kiran.
"Bohong! Pasti kamu ingin melakukan sesuatu padaku, kan?" tuding Vanesha matanya memincing tajam, Sehingga membuat Kiran menghembuskan napas pelan.
"Aku tidak memiliki niat jahat seperti itu. Ya, sudah aku mau masuk dulu."
Kiran tersenyum tipis, Setelahnya ia pun meninggalkan Vanesha yang berada di dekat wastafel.
* Flashback Off.
Vanesha kemudian bergegas keluar lalu memanggil seorang pria yang sedang berjalan berlaeanan dengannya. Vanesha tersenyum puas, rasa - rasanya ia begitu senang jarena idenya akan berjalan lancar.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Vanesha sembari tersenyum manis ke arah pria tersebut.
"Ya, ada apa?"
Tanpa banyak bicara, Vanesha menyeret pria tersebut memasuki kamar mandi.
Di samping itu Darren menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gelisah. Ia menatap dimana Kiran keluar tadi. Sudah lebih dari tiga puluh menit, tapi Kiran tak kunjung kembali. Ponselnya pun tidak aktif ketika Darren menelponnya.
"Aku harus menyusulnya." gumam Darren. Rasa cemasnya semakin menjadi - jadi.
Namun, tepat saat Darren hendak membuka pintu. Vanesha sudah lebih dulu membukanya. Raut wajahnya tampak begitu panik dan pucat.
"D...Darren, Istrimu....dia..." ucapan Vanesha terputus - putus. Napasnya memburu seolah baru saja lari jarak jauh.
"Kiran kenapa? Apa yang terjadi, Nesh?" tanya Darren.
"D...Dia bersama pria lain di kamar mandi. M..Mereka terlihat mesra dan...."
__ADS_1
"****! Kamu jangan bercanda, Nesh! Kiran tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu."
"Tapi aku tidak bohong. Mereka...."
***
Kiran tersentak kaget saat ada seseorang yang mendobrak pintu kamar mandi. Ia yang baru selesai buang air, mendadak takut dan sedikit cemas.
"Siapa itu?" tanya Kiran dengan suara yang cukup keras. Ia menatap pintu kamar mandi dengan was - was. Tangannya mulai bergetar, apalagi setelah mendengar suara engsel pintu yang jatuh.
"Apa Vanesha yang melakukannya, tapi dia tidak mungkin memiliki tenaga sebesar itu," Kata Kiran. Ia menelan salivanya susah payah kemudian berusaha mendekati pintu. Dengan tangan yang bergetar hebat, Kiran pun mencoba membuka pintu kamar mandi. Alangkah terkejutnya ketika melihat se sosok pria yang tengah berdiri di depan pintu. Tatapan matanya tampak aneh dan begitu menjijikan bagi Kiran.
"Kok sendirian aja nih? Aku temani ya," ujar pria bernama Andi tersebut. Ia tersenyum nakal sembari mentap tubuh Kiran dari atas sampai bawah.
"Siapa kamu? Jangan macam - macam ya! Aku bisa berteriak sekarang," kata Kiran ia mengacungkan tas kecilnya ke hadapan Andi.
"Berteriak? silahkan saja. Kamu pikir akan ada orang yang akan mendengarnya?" Andi terkekeh sinis sementara kakinya semakin berjalan mendekati Kiran.
"Jangan mendekat! Tolong...Tolong..Tolong!" Kiran mencoba berteriak. Namun, sayangnya kamar mandi itu kedap suara. Oleh karena itu, meski berteriak sampai lelah pun, tidak ada orang yang mendengarnya.
"Arghh!! Wanita sialan tunggu saja aku akan segera menguasai tubuhmu," sentak Andi sambil berjalan mundur dan memegangi wajahnya.
Mendengar ancaman Andi pun, Kiran kembali menutup pintu kamar mandi. ia menahan sekuat tenaga berharapa Darren akan segera datang menolongnya.
Andi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia meringis lalu menatap pintu kamar mandi dengan seksama. Senyum nakal dan seringai licik terukir di bibirnya. Andi menyeringai, seolah hari ini Ia merasa kejatuhan rejeki nomplok dari Vanesha.
Tadi, saat ia hendak ke kamar mandi pria. Vanesha memanggil dan memberikan sebuah tawaran yang cukup besar padanya. Vanesha meminta dirinya agar 'menggunakan' Kiran yang sedang berada di kamar mandi. Dan sebagai imbalannya, Vanesha akan membayar mahal jika Andi berhasil melakukan tugasnya.
Tentu saja tawaran tersebut di sambut baik oleh Andi. Ia yang notabennya adalah pria yang gemar bermain wanita, merasa tertantang. Apalagi saat melihat wajah Kiran yang sangat cantik di tambah lagi Kiran yang sedang hamil. Alih - alih merasa kasihan, dia justru sangat bersemangat untuk segera melampiaskan hasratnya.
"Percuma kamu menutup pintu seperti itu! Tidak akan ada yang bisa menolongmu," ujar Andi suaranya menggema di seluruh ruang kamar mandi.
Kiran tidak tinggal diam. Meski kini ia meringkuk ketakutan, tetapi ia tetap mencoba menghubungi Darren. Ia merogoh tas kecilnya lalu mengeluarkan sebuah ponsel.
__ADS_1
Namun, sayangnya ponsel miliknya kehabisan daya baterai. Kiran menatap nanar ke arah ponselnya yang mati. Isakan lirih pun mulai terdengar dari bibirnya. Kali ini Kiran merasa putus asa. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa agar terbebas dari Andi.
"Kalau aku tidak hamil mungkin aku bisa melawannya. Tapi kalau sekarang aku takut melukai anakku," gumam Kiran. Sembari mengusap lembut perutnya.
" Ada yang harus aku laku...."
Brak!
Kiran terperangah melihat pintu dalam kamar mandi yang tergeletak begitu saja di lantai. Mulutnya ternganga melihat Andi yang kini sudah bertelanjang dada. Tubuh Kiran semakin bergetar ketakutan.
"Jangan takut begitu, sayang. Mari kita nikmati hari yang indah ini. Bersama - sama," kata Andi sembari berjongkok di dekat Kiran. Tangannya yang besar terulur dan menyentuh pipi Kiran. Kiran pun langsung menendang Andi dengan sekuat.
"Brengsek! Berani sekali kamu melawanku," tukas Andi. Matanya memincing dan tampak menggelap karena emosi. Mencengkram kuat rambut Kiran. ia tersenyum penuh kepuasaan saat mendengar rintihan sakit dari bibir Kiran.
"Merintihlah sesukamu! Aku pastikan setelah ini kamu akan mendesah menikmati permainan indah kita," bisik Andi. Wajahnya yang tampak gelap itu perlahan mendekati leher jenjang Kiran.
"Aku mohon jangan lakukan itu!" Hentikan!" ujar Kiran. Tangannya meronta dan mendorong kepala Andi agar menjauh.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum semuanya selesai," ujar Andi ia terkekeh sinis sembari mengarah pada drees Kiran yang sedikit tersingkap di bagian paha.
Kiran menggeleng, tangannya bergetar hebat. Bayangan tentang malam pemerkosaannya oleh Darren kembali terputar bak kaset rusak di otaknya. Kiran benar - benar ketakutan hingga kekuatannya perlahan melemah.
"Bagus, menurutlah padaku. Kita akan sama - sama mendapatkan keuntungan setelah ini. Haha..., aku akan memiliki banyak uang dan kamu akan segera di ceraikan oleh suamimu." ujar Andi.
Mendengar ucapan Andi. Kiran mengernyitkan dahi karena merasa heran sekaligus terkejut. " Apa maksudmu berbicara seperti itu? Sebenarnya siapa yang menyuruhmu untuk melakukan hal ini padaku?" tanya Kiran. Kakinya yang sedikit bebas memberontak dan menendang area selakangan Andi.
Karena mendapat perlawan yang tiba - tiba. Andi tersentak kaget. Ia mengerang kesakitan sambil menatap marah ke arah Kiran.
"Dasar perempuan kurang ajar!" Bentak Andi dan langsung menampar pipi Kiran dengan kencang berulang kali. Hingga sudut bibirnya berdarah.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini?! tanya Kiran. Suaranya terbata - bata, begitu pula dengan napasnya yang tidak mulai beraturan. Meski kini ia sedang merasa kesakitan akibat tamparan Andi tadi.
Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote.