Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Bertahanlah, Ran!


__ADS_3

Andi tidak langsung menjawab. Ia justru menyeringai dan melepaskan ikat pinggangnya. dan berkata " Kamu ingin tahu siapa yang menyuruhku, kan? Kalau begitu puaskan aku dulu?"


"Tidak akan! Aku tidak mau menuruti permintaan gilamu itu. Tolong lepaskan aku!," kata Kiran matanya makin sembab, Tapi sayangnya Andi sama sekali tidak peduli.


"Melepaskanmu? Oh tidak bisa. Aku tidak mau kehilangan uang," ujar Andi. Kali ini ia hanya memakai boxer berwarna coklat.


Dengan sedikit kesusahan, Kiran mencoba berdiri dan melepas heelsnya kemudian menyentuh perutnya yang terasa nyeri.


"Katakan siapa yang menyuruhmu? Apa Vanesha yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya Kiran. Napasnya memburu seiring dengan rasa takutnya yang semakin besar.


"Bukan, aku saja tidak mengenal siapa itu Vanesha," ujar Andi, jelas ia berbohong kepada Kiran agar semuanya berjalan sesuai rencana Vanesha.


"Lalu siapa? Kenapa kamu bisa masuk ke kamar mandi?" tanya Kiran air matanya kembali luruh dan membasahi pipinya.


Andi menyeringai.


"Suamimu."


"Tidak mungkin! Suamiku tidak mungkin melakukan hal ini padaku. Jangan berbohong" sentak Kiran.


"Untuk apa aku berbohong? Lagi pula memangnya kamu tidak curiga? untuk apa suamimu mengajakmu ke sini kalau bukan untuk menjebakmu."


"Jangan bicara sembarangan suamiku orang yang baik. Dia mengajakku karena ingin melakukan pemotretan. Dia...."


"Naif sekali dirimu, dia hanya berpura - pura," ujar Andi. Raut wajahnya terlihat serius seolah - olah sedang meyakinkan Kiran untuk mempercayai kata - katanya.


Kiran menggelengkan kepala. Ia yakin betul Darren tidak mungkin melakukannya. Ia juga yakin jika ada seseorang yang berniat mengadu domba antara dirinya dan juga Darren.


"Sudahlah jangan banyak berpikir begitu! Lebih baik kita bersenang - senang," kata Andi. Ia mendorong tubuh Kiran hingga bersandar pada dinding. Tangannya yang kekar mengurung Kiran hingga tidak bisa memberontak apalagi melarikan diri.


"Kamu tahu? Mungkin suamimu pasti sedang bersenang - senang dengan wanita lain."


Deg!


Kiran menggeleng, meski berusaha kuat untuk tetap percaya pada Darren. Namun, hatinya tetap merasa bimbang. 'Selamatkan aku, Mas," batin Kiran. Sembari menahan Andi agar tidak menyentuhnya.


****


Di kamar mandi yang mana kamu melihat Kiran dan Pria itu, Nesh?". Tanya Darren tatapan matanya menggelap karena amarah dan juga rasa khawatir.


"A...Aku lupa, Darren. Tadi aku sangat panik dan cemas. Jadi aku...."


"Sialan"

__ADS_1


Darren kembali menyusuri setiap kamar mandi yang ada di studio gedung Danu. Napasnya memburu dan juga jantungnya berdetak kencang. Aura kemarahan tercetak jelas sehingga membuat siapa saja yang bertemu Darren, lebih memilih untuk menyingkir.


Kali ini tatapan mata Darren tertuju pada sebuah kamar mandi wanita yang tampak tertutup rapat. Ia mencoba membukanya, tetapi terkunci dari dalam. Darren menyeringai, ia yakin betul jika Kiran dan pria yang di maksud Vanesha berada dalam kamar mandi tersebut.


Tanpa pikir panjang Darren pun mendobraknya. Setelah beberapa kali dobrakan, ia langsung bergegas menyusuri semua bilik kamar mandi. Langkahnya terhenti saat mendengar samar - samar suara seorang pria.


Darren membelalakan matanya. Jantungnya seolah terlepas dari rongga dadanya ketika melihat Kiran. Ia menggelengkan kepala pelan dan kakinya pun mendadak lemas.


"Bangsat! Apa yang sudah kamu lakukan kepada istriku?" tanya Darren sambil menarik tangan Andi dengan kasar.


Darren kalap saat melihat Kiran yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.


Andi kaget, ia tidak menyangka jika Darren akan dengan cepat menemukannya. Wajahnya mendadak pucat, terlebih lagi ketika melihat kemarahan di wajah Darren.


"Apa yang sudah kamu lakukan dengan Kiran?" tanya Darren suaranya mengalun rendah dengan kedua tangannya berada di leher Andi.


"Aku....." ujar Andi terbata - bata. Oleh karena rasa takutnya yang begitu besar, Andi sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Katakan! Apa yang sudah kamu......." Darren tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Jantungnya berdetak kian cepat. Wajahnya pun turut memucat.


"K...Kiran!" panggil Darren. Suaranya parau saat melihat darah segar mengalir melalui celah di kedua kaki Kiran.


Darren berjongkok di dekat Kiran. Ia memangku kepala Kiran dengan penuh kasih sayang. Tangannya bergerak mengusap lembut perut Kiran.


Kemudian Darren langsung menggendong Kiran ala bridal style menuju mobil. Namun, sebelum itu ia meminta kepada Danu dan beberapa orang untuk menahan Vanesha dan juga Andi.


Menahan Vanesha? Ya, Darren merasa tidak percaya dengan ucapan Vanesha. Menurutnya, Vanesha telah menyembunyikan sesuatu yang begitu besar kepadanya. Oleh karena itu Darren tak akan membiarkan Vanesha lolos begitu saja.


"Sayang bangunlah! Aku mohon," ujar Darren sembari mengenggam tangan Kiran lembut. Darren menatap ke depan, ke arah sopir Danu yang sedang mengemudikannya.


"Pak tolong lebih cepat lagi!" perintah Darren. Setelah itu, ia pun kembali menatap ke arah Kiran yang wajahnya telah memucat. Air mata Darren seketika luruh saat melihat darah di dress Kiran.


Darren takut dan juga cemas dengan keadaan Kiran. Ia bahkan tidak mempedulikan tentang Kiran yang mungkin saja sudah di sentuh oleh Andi.


"Ran, bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," kata Darren suaranya benar - benar parau karena sedari tadi ia sudah menahan tangis.


Darren semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Kiran yang perlahan mulai terasa dingin. Darren benar - benar panik dan juga cemas.


"M..Mas," bisik Kiran. Suaranya begitu lirih di telinga Darren.


Darren terkejut tapi tak urung hatinya berbunga setelah melihat Kiran membuka matanya. Darren menggigit bibirnya untuk mencegah isak tangisnya. Darren mengecup kening Kiran lembut.


"Kumohon jangan memejamkan mata lagi! kamu harus bertahan demi aku dan juga anak kita," ujar Darren sambil mengusap keringat di dahi Kiran.

__ADS_1


Kiran tersenyum tipis, wajahnya yang pucat terlihat begitu menyedihkan bagi siapa saja yang melihatnya. Kiran membalas genggaman tangan Darren begitu lemah.


"A...Aku baik - baik saja. Maaf ya aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik," ujar Kiran. Suaranya terbata - bata dan napasnya pun tersengal.


"Jangan bicara seperti itu, Ran! Aku percaya, kamu tidak mungkin berada di dalam kamar mandi bersamanya, Kan." balas Darren. Ia menyeka air mata yang mulai turun membasahi pipi Kiran.


"K..Kamu tidak membenciku, Kan?" tanya Kiran lagi. Matanya begitu sembab karena sedari tadi ia terus menangis.


Kiran mengangkat tangannya. Dengan lemah, ia pun membelai lembut pipi Darren yang basah karena air mata.


"Aku tidak membencimu. Jadi aku mohon, Ran. Bertahanlah!" kata Darren ia mengecup singkat bibir Kiran.


Kiran menangguk lemah. "Kamu jangan menangis lagi. Aku baik - baik saja kok," ujar Kiran dengan napas yang semakin tidak beraturan.


Darren tidak mampu membalas ucapan Kiran. Dadanya bergemuruh karena rasa cemas dan juga takut kehilangan Kiran.


"M...Mas boleh aku meminta sesuatu?" tanya Kiran sembari memejamkan mata karena merasa begitu lemah.


"Apa? Katakan yang semua kamu inginkan, Ran. Aku janji akan menurutinya," kata Darren dengan sungguh - sungguh.


"Apapun yang terjadi nanti, tolong selamatkan anak kita. Jangan biarkan dia pergi," lirih Kiran. Ia tersenyum lembut dengan mata yang hampir terpejam.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Ran. Aku akan menyelamatkan kalian berdua." Darren semakin erat menggenggam tangan Kiran setelah mendengar ucapan istrinya itu. Rasa takutnya semakin membesar.


"Kamu mau berjanji padaku, Kan? Selamatkan anak kita. Jangan biarkan dia pergi!" kata Kiran tanpa membalas ucapan Darren sebelumnya.


"Ran..."


"Aku lelah, Mas. Aku tidur dulu ya." Kata Kiran. Genggaman tangannya pada baju Darren pun mulai melemah.


Hening..


Tidak ada jawaban apapun dari bibir Kiran. Kini Kiran kembali tak sadarkan diri



Kira - Kira beginilah kondisi Kiran.


Apakah Kiran dan bayinya akan baik - baik saja? Lalu, bagaimana nasib Vanesha dan juga Andi yang masih di tahan Studio Danu? Akankah kejahatan Vanesha terbongkar...?


Nantikan terus kisah mereka ya.....!


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2