
"Jadi Daniel marah setelah mendengar kamu berbicara seperti itu?" tanya Arya setelah ia mendengar semua penjelasan dari Kiran. Ia bersedekap sembari mengangguk - angguk.
"Ya, apa aku salah? Aku hanya tidak tega melihat Suamiku seperti itu. Aku merasa dia jauh lebih bahagia di alam bawah sadarnya," ujar Kiran, ia menunduk.
"Jadi kamu memang menginginkan Darren pergi, hm?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak mau Mas Darren meninggalkan aku. Aku sangat mencintainya, Kak." balas Kiran cepat.
"Kalau begitu, kenapa kamu berbicara ngawur seperti tadi, hm? Kalau pun aku jadi Daniel, aku juga akan sangat marah, Ran"
"Tapi...."
"Kamu tahu, Ran? Daniel sudah hidup jauh lebih lama bersama dengan Darren daripada kamu. Dan aku tahu, Daniel sangat menyanyangi Kakaknya. Jadi tak heran jika dia sangat marah setelah mendengarmu berbicara seperti tadi,"
Kiran terdiam setelah mendengar ucapan Arya. Ia merasa apa yang di ucapkan oleh Kakaknya itu memang benar adanya.
"S... sepertinya aku memang sangat egois. Tidak seharusnya aku berbicara seperti itu. Tapi aku sungguh tidak bisa menahan semuanya.Aku takut Mas Darren sangat menderita,"
"Lain kali jangan bicara sembarangan! Darren pasti akan baik - baik saja. Yang terpenting jangan pernah putus untuk berdoa karena Tuhan akan selalu mengabulkan doa dari hambanya.
Kiran menghembusakan napas panjang. Hatinya sudah jauh lebih tenang, setelah berbicara dengan Kakaknya dan Kiran tersenyum tipis.
"Sekarang ayo ke kamar Darren. Dan ingat! Jangan bicara yang macam - macam! Kalau kamu menyerah bagaiamana dengan Darren? Dia akan sedih."
"Ya, setelah ini aku akan meminta maaf dengan Daniel,"
"Bagus,"
Kiran beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului Arya. Kini langkah kaki Kiran terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
"Entah hanya perasaanku saja atau Kiran memang terlihat semakin berisi dan juga labil? Astaga...., moodnya sangat cepat berubah" gumam Arya sembari mengikuti langkah Kiran.
Arya menatap punggung Kiran. Ia tersenyum tipis, dugaannya memang benar, Kiran terlihat lebih berisi.
"Atau mungkin, Kiran sedang hamil lagi ya?"
Kiran berjalann cepat menuju ke ruang rawat inap Darren. Ia ingin meminta maaf kepada Daniel. Selain itu, Kiran juga ingin kembali menemani Darren. Entah mengapa, ia merasa mendadak tidak tenang karena teringat dengan Darren yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.
__ADS_1
Namun, sesampainya di depan ruang rawat inap Darren, Kiran begitu terkejut. Pasalnya semua orang tampak berkumpul dan memasang wajah sedih. Bahkan, Kiran juga melihat Helena yang kini berada dalam pelukan Kenzo.
Kiran heran, sebab ia tidak melihat kedatangan keluarga Kenzo sama sekali. Namun, sungguh di luar dugaan, Daniel justru menghempaskan tangan Kiran dengan kasar.
"Sekarang kamu puas, Ran!" Tanya Daniel nada suaranya terdengar begitu rendah tetapi sarat akan emosi.
"A... apa maksudmu, Niel? Dan puas untuk apa?" tanya Kiran balik. Ia menatap Daniel dengan penuh rasa heran ke arah Daniel.
"Jangan berpura - pura tidak tahu, Ran! Kamu pasti sangat puas untuk mendoakan Kak Darren agar segera mati, kan?"
"Kamu masih marah akan hal itu, Niel? Aku minta maaf. Aku sungguh tidak berniat mendoakan suamiku mati. Aku sangat mencintainya," tukas Kiran. Tangannya mengepal karena perasaaan sesak yang begitu besar di dadanya.
"Halah omong kosong! Sekarang doamu sudah terkabulkan. Kak Darren, dia...."ucapan Daniel terhenti karena Helena tiba - tiba langsung menarik tangannya.
"Hentikan Daniel! Jangan membuat suasana semakin rumit!" Sentak Kiran tatapan matanya begitu tajam saat menatap Daniel.
"Tapi Kiran keterlaluan, Ma! Gara - gara semuanya dia jadi kacau. Dia benar - benar membuatku marah!" Ujar Daniel sambil melirik kearah Kiran.
"Tapi dengan kamu yang marah - marah begini, semuanya tidak akan kembali.Darren.... Dia...," Helena tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia menunduk dan bahunya pun tampak bergetar.
Kiran semakin tidak mengerti, ia menatap bingung ke arah Daniel dan juga Helena yang kini justru terlihat begitu sedih. Jantung Kiran berdetak lebih kencang, ia merasa seolah - olah hal buruk telah terjadi.
Kiran menatap kearah Arya. Matanya berkaca - kaca saat melihat Arya menggelengkan kepalanya.
"S.. sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kalian semua terlihat sedih begitu?" tanya Kiran. Ia mendekati Helena, tetapi mertuanya itu justru berjalan menjauhinya.
Hati Kiran terasa begitu hancur. Selama ini Helena tidak pernah mengabaikan dirinya. Namun sekarang? Sungguh Kiran, merasa begitu hancur karena di abaikan oleh Helena.
"Ma... Mama marah sama aku?" tanya Kiran lagi. Ia menyentuh lengan Helena lagi. Mata Kiran semakin memanas dan memerah.
"Tidak, Mama tidak marah sama kamu," jawab Helena singkat.
"Tapi kenapa Mama terlihat membenciku? Apa salahku, Ma? Dan kenapa kalian bersedih? Apa yang sudah terjadi?" ulang Kiran
Lagi - lagi Helena terdiam dan melepaskan cekalan tangan Kiran kemudian berjalan mendekati Kenzo.Oleh karena hal itu, Kiran semakin merasa tak karuan.
"Daniel, apa yang terjadi? Suamiku, baik - baik saja, kan?" tanya Kiran sambil mengguncangkan lengan Daniel. Ia tidak peduli meski kini Daniel menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Tidak! Suamimu kini tidak baik - baik saja! Dan semua ini gara - gara kamu,Ran!" Bentak Daniel.
"Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Tolong katakan padaku, Niel. A...aku mohon," ucap Kiran sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Daniel menghembuskan napas panjang. Ia bersedekap lalu melirik ke arah Kiran.
"Doamu sudah terkabul, Ran. Kak Darren kembali kritis dan kemungkinannya untuk selamat sangat kecil. Andai saja kamu tidak berbicara seperti tadi, mungki Kak Darren masih memiliki rasa semangat untuk sembuh," ujar Daniel. Suaranya terdengar lirih, tetapi Kiran masih bisa mendengar nya dengan jelas.
Tubuh Kiran menegang setelah mendengar ucapan Daniel. Kakinya terasa lemas seolah tenaganya hilang di telan keterkejutan.
"Apa katamu, Niel? Tidak mungkin! Suamiku pasti baik - baik saja. Dia tidak mungkin kritis!" Ujar Kiran suaranya meninggi, tangannya pun reflek mencekal lengan Daniel dengan sangat kuat.
"Apa menurutmu, aku berbohong?"
Deg.
Jantung Kiran seakan terlepas dari rongga dadanya. Raut wajah Daniel begitu serius. Jadi, dia tidak mungkin berbohong, kan?
"Tidak! Suamiku pasti baik - baik saja. Dia tidak mungkin meninggalkan aku," rancau Kiran. Ia menangis histeris sambil menjambak rambutnya.
Melihat Kiran yang tidak bisa mengendalikan diri, Arya dengan sigap langsung mendekatinya. Ia melepaskan tangan Kiran dari rambutnya. Setelah itu, Arya pun memeluk dan menenangkan adiknya tersebut.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Ran!" Kiran tidak membalas. Ia justru semakin histeris membuat Helena dan Daniel menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Suasana pun semakin tidak nyaman. Apalagi melihat Dokter keluar dari ruang rawat inap Darren dengan wajah yang terlihat sendu.
Melihat Dokter yang keluar, Kiran lantas mendekatinya dan berakata, "Suamiku, apa baik - baik saja, Dok?"
Dokter yang menangani Darren menggeleng. Ia menghembuskan napas pelan lalu menatap ke arah Kiran.
"Maaf Bu, kami sudah berusaha tapi pasien tidak bisa di se...."
"Bohong! Kalian semua pasti bohong! Suamiku pasti baik - baik saja. Dia pasti akan segera bangun dan kembali bersamaku!" Sergah Kiran dengan suara yang meninggi.
Bersambung....
Jangan lupa untuk tekan tombol like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1