
"Selama ini aku sudah cukup bersabar karena membiarkanmu menguasai putriku. Tapi aku tidak menyangka kamu tega berbuat keji kepadanya. Demi Tuhan, Vin! Apa yang kamu lakukan benar - benar menghancurkan harga diriku!" Sentak Bara. Rahanganya mengeras, tangannya gemetar hebat karena emosi dan kekecewaan yang begitu besar di hatinya.
"Aku tidak peduli. Dia memang pantas mati. Shelvi sialan. Perempuan itu, gila harta!" Balas Kevin dengan sisa - sisa tenaga yang dia miliki dan mendorong Bara hingga tersungkur.
Bara yang tenaganya mulai terkuras habis pun tersungkur cukup jauh dari Kevin. Ia meringis merasakan sakit di punggungnya.
"Sialan kau, Vin!"
Merasa memiliki kesempatan Kevin bangkit berdiri. Meski langkahnya tertatih, ia mencoba kabur dari Bara. Kevin ingin meminta bantuan kepada Bima dan juga Niko. Namun, sayangnya ia tidak tahu jika saat ini Bima sudah kehilangan nyawanya.
Brak!
Dari belakang Bara menendang punggung Kevin sekuat tenaga. Ia kini tidak peduli meski nantinya Kevin akan mati. Baginya, Kevin memang sangat pantas mendapatkannya.
"Argh!" Kevin berteriak kencang. Dahinya berdarah karena baru saja terbentur dinding.
Kevin terduduk lemas di lantai sembari bersandar di dinding, wajahnya babak belur dan mengeluarkan darah. Kevin tidak berdaya, bahkan untuk sekedar berbicara ia cukup kesulitan.
"Se ujung kuku pun, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini," sergah Bara. Ia berkacak pinggang sembari menatap Kevin.
Kevin meludah sembarangan napasnya tersengal - tersengal. Selain itu dadanya pun begitu sesak dan sakit.
__ADS_1
"Aku yakin setelah ini kamu akan masuk penjara," lirih Kevin tanpa menatap ke arah Bara.
"Penjara? Kamu pikir aku takut, Vin? Cih!"
"Hah.... hah, a... aku tidak kuat lagi," gumam Kevin dengan napas yang semakin tersengal - tersengal. Kevin menggeram tertahan sembari mengepalkan tangan. Ia mencoba untuk tetap sadar meski kini dunianya hancur berkeping - keping.
Plak!
Dugh!
Tamparan, pukulan bahkan Bara terus berikan kepada Kevin, selain kesal apa yang sudah di lakukan Kevin pada Shelvi, ia juga telah membalas dendam karena Kevin sudah melukai Darren.
"Ini adalah akibat dari apa yang sudah kamu lalukan, Vin! Mulai saat ini hidupmu akan penuh penderitaan," kata Bara dengan seringai kejam yang tersungging di bibirnya.
"Tapi sayangnya Bima sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia baru saja melakukan bunuh diri tepat di hadapan saya," ucap Kenzo yang baru saja masuk ke ruang kamar Kevin. Ia bersedekap sembari bersandar di ambang pintu.
Kevin dan Bara reflek menoleh. Keduanya merasa terkejut setelah mendengar ucapan Kenzo. Selain Kevin, Bara pun tidak percaya.
"Ken, kamu serius?" tanya Bara. Tatapan matanya begitu intens.
"Saya tidak suka bercanda, Bara. Apalagi dalam situasi seperti ini," jawab Kenzo cepat. Setelah itu, tatapan matanya beralih pada Kevin.
__ADS_1
Kenzo menghembuskan napas pelan. Sejujurnya ia tidak tega melihat kondisi Kevin yang begitu mengenaskan. Apalagi kini seluruh hidup Kevin pun sudah hancur tak bersisa.
"Pembunuh! Kau benar - benar manusia tidak berperasaan. Kau menghancurkan usaha keluargaku dan sekarang kamu membunuh orang tuaku. Tua bangka sialan!" Desis Kevin. Perasaannya hancur dan tak menentu setelah mendengar jika Bima sudah meninggal dunia.
"Ini bukan kesalahan saya. Andai saja keluargamu tidak serakah dan mengusik keluarga saya, saya tidak mungkin berbuat seperti itu. Ah, dan satu lagi! Saya tidak pernah membunuh orang tuamu," balas Kenzo sembari berjongkok di depan Kevin.
"Hidupku hancur sekarang. Aku tidak memiliki apapun, aku...., aku lebih baik mati saja," ujar Kevin. Ia menangis dan juga tertawa.
Kenzo mengulurkan tangannya lalu mengacak rambut Kevin, dan berkata, " Dari dulu saya tidak pernah membencimu. Bahkan, sejak kamu kecil saya sudah menganggapmu sebagai anak sendiri. Tapi sayangnya kamu begitu terlena dan gila karena harta," mendengar perkataan dari Kenzo, Kevin pun terdiam.
Kevin menatap lekat ke arah Kenzo. Perkataan Kenzo membuat hatinya merasa mendadak berdesir karena perasaan aneh.
"Dulu saya menyayangimu. Tapi karena didikan orang tuamu yang salah, saat ini saya benar - benar kecewa. Kamu berubah menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab," sambung Kenzo tersenyum tipis saat melihat air mata semakin banyak membasahi pipi Kevin.
"A... aku sangat iri dengan Darren, karena dia memiliki segalanya, sedangkan aku tidak. I... itulah alasan mengapa aku berbuat sejauh ini," lirih Kevin sembari menundukkan kepalanya.
Entah mengapa kini Kevin mendadak menyesali semua perbuatannya. Ia tidak menyangka hanya karena rasa iri ia telah menghancurkan hidupnya sendiri.
"Sebenarnya kamu tidak perlu merasa iri. Asal kamu tahu, Vin! Darren sangat menyayangimu. Dia bahkan rela melakukan apapun untukmu. Tapi sayangnya kamu sudah mengkhianati dia. Sekarang Darren telah kehilangan rasa sayang untukmu,"
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.