Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Kaulah Rumahku


__ADS_3

Darren mengusap - ngusap punggung Kiran, untuk memberinya sedikit ketenangan. Ia tahu, saat ini Kiran masih memikirkan berita yang tadi.


"Ran, dimana ponselku?" tanya Darren.


"Ponsel kamu mati, Mas. Entah baterainya yang kehabisan daya atau mati karena rusak. Tapi dari kamu koma tidak ada yang berani menyentuhnya," kata Kiran sembari mengambil Ponsel Darren yang berada di atas nakas.


Darren menatap ponselnya cukup lama. Setelah meng otak - atiknya beberapa saat, Darren meletakkan ponselnya ke atas meja


"Sepertinya memang rusak. Kalau begitu aku pinjam ponselmu dulu, Ran. Aku mau menghubungi seseorang." ucap Darren.


Kiran mengangguk lalu menyerahkan ponselnya kepada Darren.


"Kamu mau menghubungi siapa, Mas?" tanya Kiran.


"Daniel" jawab Darren.


Darren berdecak kesal, karena panggilannya tidak mendapatkan respon dari Daniel. Akhirnya ia pun menyerah. Darren mengembalikan ponsel Kiran, lalu berbaring di atas sofa.


"Ayo tidur, Ran! Kamu di ranjang, biar aku tidur di sofa," ucap Darren.


"Tidak perlu, Mas. Kamu sama Arka yang tidur di ranjang dan biar aku yang tidur di sofa," balas Kiran.


Darren mengangkat salah satu alisnya. Ia tersenyum simpul kemudian menarik tangan Kiran. Kiran pun terkejut akhirnya ia terjatuh di atas tubuh Darren.


"M..Mas jangan begini! Malu kalau nanti di lihat orang," ujar Kiran. Berusaha bangkit dari tubuh Darren. Namun, justru Darren semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku rindu kamu," kata Darren, sambil mendekatkan wajahnya ke arah Kiran.


Kiran menelan salivanya. Ia benar - benar gugup. Meski sudah sering mendapatkan perlakuan yang sama dari Darren.


"M.. Mas."


"Diam sayang. Jangan sampai Arka bangun dan menganggu kita."


"T.. tapi aku mau ke kamar mandi? Aku..."


"Kamu mau bohong, hmm?"


"Aku memang tidak bohong, Mas. Aku memang mau ke kamar mandi. Aku...."


"Kamu gugup?" Darren terkekeh pelan sambil melihat pipi Kiran yang sudah bersemu merah.


"Oke.. oke aku akan melepaskan kamu, tapi dengan satu syarat," ujar Darren sambil tersenyum manis, sembari menatap wajah Kiran yang begitu dekat dengannya.


"Syarat apa?" tanya Kiran.


Darren, tidak menjawab. Dia justru menyetuh bibirnya sebagai kode untuk Kiran.


"Kamu serius, Mas?"


"Tentu saja, Sayang. Sudah lama juga kita tidak melakukannya, kan?" goda Darren.

__ADS_1


"Tapi aku nggak mau, Mas. Aku...." Kiran membelalakan matanya ketika Darren langsung menarik tengkuknya, lalu ******* bibirnya mesra.


Kiran tersipu malu, namun setelahnya ia membalas perbuatan Darren. Ia memejamkan mata sembari mencengkram baju Darren.


"Terima kasih banyak, untuk semua hal yang telah kau berikan untukku, Ran. Aku sangat beruntung memiliki Istri sepertimu," ucap Darren.


"Justru aku yang sangat beruntung, karena mempunyai Suami yang sangat baik dan perhatian sepertimu, Mas." puji Kiran.


"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku! Tetaplah di samping ku sampai kita tua nanti," ujar Darren.


"Tentu saja, Mas. Karena bagiku, kamulah rumahku, kamulah tempatku pulang," balas Kiran.


Darren tersenyum manis, setelah itu ia mengecup singkat bibir Kiran yang sudah menjadi candunya selama ini.


Keduanya saling berpandangan dan saling tersenyum. Sungguh, Darren merasa begitu beruntung karena memiliki Kiran di hidupnya. Begitu pula dengan Kiran.


"Mungkin kamu akan bosan mendengarnya, Ran. Tapi aku benar - benar sangat mencintaimu, Ran." ucap Darren.


"Aku juga, Mas," balas Kiran.


Bersambung...


Nantikan terus kisah mereka ya...!


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like.. like.. likenya yang banyak hehehe...


__ADS_2