
"Daniel!! sekali lagi kamu berulah mama kutuk kamu!" ucap Helena setelah melepaskan pelukan Darren. matanya kini mulai mendelik tajam tetapi itu malah membuat Daniel girang bukan main.
" Kenapa mamah yang marah sih? padahal aku kan sedang berbicara dengan si manusia es itu," balas Daniel sambil bersedekap dan menatap malas ke arah Helena.
"Daniel, kamu masuk ke kamar sekarang!! perintah Helena. karena perasaannya mulai cemas, terlebih ketika melihat Darren mulai mengepalkan tangannya.
"Ya Tuhan, kenapa aku mempunyai anak nggak ada yang beres begini?" gumam Helena. rasanya dia begitu lelah harus menghadapi kedua putranya. yang sama - sama memiliki sifat keras kepala.
"Aku bukan anak kecil lagi Ma!! jadi mamah jangan berani menyuruhku masuk ke kamar! Karena Aku hanya ingin melihat bagaimana Kakak ku tersayang itu menangis" ujar Daniel. kali ini dia tertawa puas dan tidak mempedulikan Darren yang semakin marah.
" Ya Tuhan aku menyerah, tapi kalau di biarkan seperti ini terus, Darren pasti akan kalap dan langsung menghajar Adiknya.
"Daniel.., anak mamah yang sangat tampan. sekarang kamu masuk ke kamar yah, Nak?." ucap Helena dengan suara terdengar lembut.Helena berharap agar Daniel mau menuruti perintahnya.
"Lebih baik mamah yang masuk kamar! karena Ayah sudah menunggu dari tadi," balas Daniel dengan santai.
Helena geram bukan main, rasanya ia ingin sekali menyumpal mulut Daniel dengan kain lap yang ada di dapur. Namun, kondisi sedang tidak memungkinkan. Aura permusuhan mulai terlihat jelas diantara Daniel dan juga Darren. yang kini saling beradu pandang.
Daniel tersenyum miring sambil menatap kearah Darren. Tentu saja Daniel sebenarnya tidak membenci kakaknya. dia justru sangat menyayangi kakaknya. Hanya saja, ia begitu kesal karena Darren terlalu menjunjung tinggi rasa gengsinya.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang Duda Kak Darren? Apa menyenangkan? Ah, ngomong - ngomong sekarang Kiran sedang apa yah?" tanya Daniel sambil memasang wajah yang penuh tanya.
"Diam sekarang atau kau akan ku bunuh Daniel!!" ucap Darren penuh penekanan. kini tatapan matanya begitu tajam, tetapi Daniel sudah biasa dengan hal tersebut 'jadi siapa takut?' pikir Daniel.
" Pantas saja Kiran lebih memilih pergi bersama pria lain, karena kamu begitu jahat Kak Darren!" ucap Daniel santai dan tersenyum sinis
"Daniel!!!!!"
" Kenapa Kak Darren? memang benar kan semua ucapan ku tadi. Kalau aku menjadi Kiran aku juga akan memilih per...".
"BANGSATT!!! bentak Darren marah. karena nada suaranya begitu tinggi membuat Daniel diam - diam merasa ketakutan.
Darren langsung berjalan menuju ke arah Daniel yang sedang duduk di sofa. tangannya mengepal kuat dan siap memberikan pukulan pada Daniel.
Bugh! bugh!
__ADS_1
" Mati kau Daniel!" ucap Darren penuh emosi sambil melayangkan pukulan demi pukulan ke arah wajah adiknya.
Sementara itu, kini Helena sedang bersama dengan Kenzo. " Mas cepat bantu aku, anakmu itu berulah lagi!" kata Helena.
"Apa lagi yang di lakukan mereka?" tanya Kenzo.
"Mereka bertengkar Mas, Darren dan Daniel saling memukul." kata Helena wajahnya kini benar - benar terlihat gusar dan panik.
"Kalau begitu biarkan saja. mereka pasti akan berhenti kalau sudah benar - benar kelelahan." ucap Kenzo
"Tapi, Mas..."
"Mereka berdua sudah besar Helena. mereka pasti tahu dan memiliki alasan melakukan hal itu." ucap kenzo santai kemudian meninggalkan Helena menuju ke ruang kerjanya.
Helena mendesah pasrah. Sama sepertinya, kenzo juga sudah terlampau lelah dengan pertengkaran kedua putranya.
pertengkaran Darren dan juga Daniel kini semakin menjadi - jadi. keduanya sudah babak belur, tetapi tidak ada niatan berhenti untuk memukul, bahkan kini Daniel Pun sudah ikut tersulut emosi karena sedari tadi Darren terus mengucapkan kata kasar padanya.
"Kamu memang pantas di tinggalkan Kak Darren?! karena lebih baik Kiran bersama dengan pria lain dari pada dengan manusia kejam seperti dirimu Kak!" ucap Daniel sambil mencengkram erat baju Darren.
" Tentu saja, banyak sekali wanita yang tergila - gila padaku. tidak sepertimu. yang jahat dan tak punya perasaan." jawab Daniel santai.
"Kau...."
"Darren, Daniel! Apa yang kalian lakukan?" bentak Om Bara yang baru saja sampai di kediaman Kenzo dan di kejutkan dengan perkelahian kakak adik tersebut.
Darren dan Daniel langsung menoleh. keduanya reflek mendorong satu sama lain dan menjauh. Darren mengusap wajahnya yang babak belur begitu juga dengan Daniel.
"Om Bara, sejak kapan om Bara berada di sini?" tanya Daniel. ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
" Seharusnya saya yang bertanya. kenapa kalian berdua bertengkar? tanya om Bara lagi. sambil menatap tajam ke arah dua pria dewasa tersebut.
"Jangan kesal seperti itu om, kami hanya sedang ber olahraga saja." ucap daniel santai.
"Berolahraga masa sampai seperti ini? Sudah lah lebih baik kalian jangan bertengkar lagi dan obati luka kalian secepatnya, kalian tau sendiri kan bagaimana sifat Ayahmu kalau dia sampai tau dan melihat kalian bertengkar hebat seperti ini. dia akan menghukum kalian lebih kejam dari pada olahraga yang telah kalian lakukan saat ini. ingat itu!" ucap Om Bara. kemudian meninggalkan mereka berdua dan menuju ke ruang kerja Kenzo.
__ADS_1
Setelah om Bara sudah tidak terlihat lagi. Daniel menatap intens pada wajah Kakaknya. Daniel tersenyum sinis lalu bersedekap.
"Apa Kau lihat - lihat?" tanya Darren dengan nada sinis.
Daniel terdiam sesaat kemudian tersenyum lebar dan menatap remeh kearah Darren.
"Cieeee... Duda!" ledek Daniel.
"Brengsek kau! sampai kapan pun Kiran tetaplah istriku." ucap Darren kesal dan penuh penekanan.
******
Kiran menghembuskan napas panjang. ia merentangkan kedua tamgannya sambil memejamkan mata. senyum tipis mengembang, membuat Arya yang melihatnya juga ikut tersenyum.
Beberapa jam yang lalu, Arya berhasil membawa Kiran ke sebuah kota yang jauh dari hiru pikuk ibu kota. Namun, meski demikian suasananya cukup ramai dan dekat dengan fasilitas umum. Kiran mulai menatap bangunan rumah sederhana di depannya. " ini rumah siapa Mas?" tanya Kiran.
"Rumahmu, saya beli rumah ini beberapa tahun yang lalu. dari pada tidak terpakai, lebih baik kamu tinggali saja disini." jawab Arya.
"Kamu serius Mas, ini tidak berlebihan? M..maksudku kamu sudah banyak membantuku. Aku merasa tidak enak." ucap Kiran.
Arya tersenyum tipis. tangannya terangkat dan mengusap lembut rambut Kiran. " Jangan berpikiran seperti itu. lagi pula ini lebih baik dari pada rumahnya terbengkalai."
"T..Tapi..."
" Sudahlah! jangan banyak protes lagi, Nona Kiran, Ayo sekarang kita masuk."
"Mas Arya? bolehkah aku meminta. kalau panggilan Nona di hilangkan saja. cukup panggil saya dengan sebutan nama saja. saya merasa tidak enak mendengarnya." ucap Kiran.
" Baiklah kalau itu mau mu Non.. upss maksudku Ki..Kiran? mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan namamu saja." ucap Arya sambil tersenyum tipis.
Kiran kemudian mengikuti langkah Arya memasuki rumah. senyum manis terukir di bibir Kiran ketika melihat suasana rumah tersebut.
Yang Akur kenapa? jangan berantem terus kalau katemu😎 udah kaya Tom & Jerry aja ya cheu😅
__ADS_1