
Konten dewasa, Harap bijak dalam membaca! untuk anak di bawah umur, harap menjauhi bab ini!!!
Sementara itu, di sisi lain. Darren terkejut ketika mendengar rintihan pelan dari bibir Kiran. ia yang semula memperhatikan Daniel dan Citra pun sontak langsung menoleh pada Kiran.
"Kamu kenapa?" tanya Darren ia berjongkok di depan Kiran yang sedang duduk di kursi.
"Aku nggak kenapa - kenapa kok. Cuma pegel aja" jawab Kiran. Tangannya mulai mengusap pinggangnya yang nyeri dan pegal.
"Kalau begitu, Ayo kita ke kamar! masih ada waktu satu jam sebelum kita pulang," ia berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Kiran.
Kiran menganggukan kepala. Setelah itu ia membalas uluran tangan Darren. Dengan sedikit tertatih Kiran berjalan mengikuti Darren menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Darren membantu Kiran duduk di tepian ranjang. Tatapan Darren begitu lekat dan intens kepada kiran.
"Apa masih pegel, hm?" tanya Darren sambil mengusap dan memijat pinggang Kiran dengan lembut.
"M...Masih," jawab Kiran lirih. Suaranya pun terbata - bata dan sedikit parau.
"Kamu sering mengalami seperti ini? atau baru kali ini?" tanya Darren lagi. satu tangannya memijat pinggang sementara tangan yang lain mengusap lembut perut Kiran.
"Biasanya aku juga pegal - pegal. Tapi entah kenapa kali ini rasanya lebih sakit dan tidak nyaman," jawab Kiran sambil meremas baju yang ia kenakan.
Mendengar ucapan Kiran, Darren pun menjadi panik. Tangannya semakin intens mengusap dan memijit Kiran. "Kita ke rumah sakit ya?" tawar Darren ia menatap iba ke arah Kiran yang matanya sudah berkaca - kaca.
Kiran menggeleng pelan. ia menyentuh pipi Darren lalu tersenyum lembut. "Nggak perlu, Sebentar lagi sakitnya pasti hilang kok. Lagi pula kita kan mau pulang." jawab Kiran.
"Tapi aku takut kamu kenapa - kenapa Ran." balas Darren dengan nada suara yang terdengar mulai khawatir.
"Aku baik - baik saja, Tu....ehh...Mas," bisik Kiran sambil menundukan kepala. pipinya mendadak bersemu merah setelah ia menyelesaikan ucapannya. Kiran malu....., sekaligus takut dengan respon yang akan di berikan oleh Darren.
__ADS_1
"Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Darren menggenggam kedua tangan Kiran lalu mengecupnya pelan. Hati Darren menghangat, detak jantungnya pun menggila mendengar Kiran memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
Kiran semakin menundukkan kepalanya. ia sibuk menormalkan detak jantungnya yang tiba - tiba menggila. Bahkan, kini Kiran mulai mengabaikan rasa sakit di pinggangnya ketika Darren mengangkat dagunya. Kiran tidak menyangka, hanya karena memanggil dengan sebutan 'Mas' akan menimbulkan sensasi yang aneh tetapi menyenangkan.
"Malu kenapa, sayang? Aku justru sangat senang karena akhirnya kamu mau memanggilku dengan sebutan itu. Kamu tahu? Aku sudah menunggunya sejak lama, ucap Darren.
"B...Benarkah? tapi kenapa kamu tidak bilang?" tanya Kiran. Hatinya lega karena Darren senang dengan panggilan barunya.
"Karena akau tidak mau memaksamu, itu saja," ujar Darren. Kini ia duduk berdampingan dengan Kiran. Sementara itu tatapan matanya begitu intens mengarah pada bibir mungil Kiran.
Darren menangkup kedua pipi Kiran. Setelahnya ia mendekatkan wajah dan mulai ******* bibir Kiran dengan lembut dan penuh perasaan. Oleh karena sentuhan Darren yang begitu memabukkan, akhirnya Kiran pun mulai terbuai.
Kiran mulai mengalungkan tangannya pada leher Darren. ia memejamkan mata dan membalas permainan bibir Darren. Sesekali ******* keluar dari bibir Kiran.
Puas menyesap rasa yang ada di bibir Kiran. Kini Darren melabuhkan bibirnya pada ceruk leher Kiran. Darren menggigitnya lembut hingga menimbulkan bercak kemerahan yang cukup kentara.
Kiran mendongak untuk memberikan ruang bagi Darren menjelajahi lehernya. ia menggigit bibir ketika kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan kembali melanda. Kiran melenguh sembari meremas lembut rambut Darren.
'Ah rasanya bahkan mengalahkan rasa sakit di pinggangku' batin Kiran.
Perlahan - lahan, Darren mulai membuka satu persatu kancing baju yang di gunakan oleh Kiran. Setelah terbuka seluruhnya, tatapan mata Darren menggelap. Gairah yang sudah sejak lama ia tahan membuncah sudah.
Darren Kalah! ia tidak mampu menahan gelora panas yang semakin menyesakan dadanya. "Kamu cantik........, Cantik sekali, Zivanna Kirannia" bisik Darren sembari mengusap puncak Kiran yang sudah menegang.
Mendengar pujian dari bibir Darren, Kiran tersipu malu.
Dengan penuh kelembutan Darren pun membaringkan Kiran di atas ranjang. "Ran, aku boleh melakukannya?" tanya Darren dengan suara parau.
Kiran tersenyum lembut. sama halnya dengan Darren gairahnya pun membara ingin segera di puaskan. Kiran mengangguk perlahan kemudian berkata "Aku milikmu, kan, Mas?"
__ADS_1
Bagaikan mendapat lampu hijau dari Kiran. Darren dengan semangat menjelajahi titik sensitif Kiran. Suasana semakin memanas, terlebih lagi ketika Darren mulai mengulum lembut puncak Kiran.
Saat sedang larut dalam gairah yang begitu membukkan. Kiran dan Darren di kejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar kamar. Kiran reflek mendorong Darren dan membenarkan bajunya yang berantakan.
Darren! sudah waktunya kita berangkat. Ayo keluar! Ayah sama Daniel sudah menunggu," kata Helena dari luar kamar.
"Iya, Ma. Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu," balas Darren dengan suara yang sedikit kencang.
" Baik, Tapi jangan lama - lama Darren!" ucap Helena penuh peringatan.
Darren menghembuskan napas panjang. ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang sembari memijat kepalanya yang mendadak pusing. Darren memejamkan mata sejenak lalu menatap Kiran.
"Kita lanjutkan besok di rumah ya, Ayo sekarang keluar! ajak Darren, ia tersenyum lembut sambil beranjak dari ranjang.
Kiran mengangguk. Kini wajahnya sudah memerah karena gairah sekaligus rasa malu. Kiran menghembuskan napas panjang. Setelah itu, ia merapikan rambut serta riasan tipis di wajahnya.
"Ngomong - ngomong, pinggang kamu bagaimana? Sudah mendingan, kan?" tanya Darren.
"Sudah kok, Mas." jawab Kiran singkat.
"Syukurlah, Terima kasih ya karena kamu sudah mengizinkan aku untuk merasakannya lagi," bisik Darren sambil memeluk Kiran dari belakang. ia menupukkan dagunya pada bahu Kiran.
"Jangan berterima kasih, karena itu sudah menjadi tugasku," ucap Kiran
Darren mengangguk pelan, Setelah itu ia membalikkan tubuh Kiran dan memeluknya erat.
"Terima kasih banyak karena sudah memberikan kesempatan lagi untukku, Selamat datang kembali istriku." ucap Darren nada suara yang bahagia.
Terima kasih sudah membaca, Maaf jika masih banyak thypo.
__ADS_1
Nantikan terus kisah selanjutnya Ya.....!
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Selalu di tunggu komentar ya..., hehe dan jangan lupa tekan tombol like..like...like..like..like yang banyak