
"Lawanmu itu saya, bukan Darren! ujar seorang pria paruh baya yang mencekal pergelangan tangan Bima. Tatapan matanya yang tajam dan raut muka penuh amarah tercetak jelas di wajahnya.
"Om Alex?" Darren terkejut. Namun ia merasa bersyukur sebab terbantu dengan kedatangan Alex. Kakak kandung Helena.
" Berdiri, Darren! Pria sejati tidak boleh lemah hanya karena sebuah pukulan," ujar Alex. Ia melirik Darren sekilas lalu menghujani Bima dengan aura yang mencekam.
"Jangan ikut campur urusan keluargaku! Sial! Kamu tidak berhak untuk ikut campur," kata Bima. Ia menghempaskan tangan Alex yang sedari tadi mencengkram tangannya.
"Tapi saya tidak butuh izin darimu untuk membantu keponakan saya sendiri," balas Alex Ia tersenyum miring sambil bersedekap.
"Kau..." Darren menggeram marah. Ia mengepalkan tangannya kuat - kuat sembari menatap nyalang wajah Alex. Ia mendekati Darren kemudian merangkul pundaknya.
"Brengsek! Awas kau Alex! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun terhadap keluargaku," balas Bima. Ia menggeram marah. Rasanya ia ingin sekali memukul Alex. Namun kondisinya tidak baik. Oleh karena itu, Bima memilih diam saat Alex membawa Darren pergi.
setelah kepergian Alex dan juga Darren. Dengan susah payah Kevin mendekati Bima. Napasnya sesekali masih memburu, tapu kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya
" Siapa dia, Pa? Kenapa Papa hanya diam saja saat mereka pergi? Seharusnya Papa menghajar orang itu sial! Aku marah sekali dengan mereka." kata Kevin. Tangannya mengepal kuat sembari menatap punggung Darren.
"Papa masih waras, Vin. Papa pasti akan kalah kalau melawan dia," balas Bima. Ia berkacak pinggang lalu menatap sekeliling ruangan yang berantakan.
"Apa dia orang hebat, Pa? tapi wajahnya sangat tidak meyakinkan," sambung Kevin. Ia sangat meragukan Alex, sebab Pria itu terlihat begitu lemah.
"Dia salah satu orang kepercayaan Kenzo, Vin. Dan kamu tahu dia juga merupakan Kakak kandung dari Helena. Kamu pasti akan terkejut mendengar kisah hidupnya," ujar Bima. Ia menghembuskan napas panjang.Kemudian duduk di sofa.
Apa maksudmu, Pa? Jangan membuatku penasaran begitu. Sebenarnya siapa dia?" Ucap Kevin merasa penasaran.
"Namanya Alex, dia mantan ketua mafia Red Wolf." jawab Bima santai.
"Red Wolf? Oraganisasi terkuat yang sekarang tidak pernah terdengar lagi kabarnya? Astag, Jangan bercanda, Pa!"
Ya...., Alex merupakan ketua dari organisasi Red Wolf yang terkenal pada zamannya. Organisasi terkuat yang membuat siapapun enggan berurusan dengan mereka.
Namun, Sekarang semuanya telah berubah. Alex dan anggotanya yang lain memilih untuk hidup seperti orang normal lainnya. Akan tetapi, sesekali anggota Red Wolf akan berkumpul membahas hal - hal yang cukup penting.
__ADS_1
"Papa tidak bercanda. Dia memang ketua Red wolf. Meski terlihat agak tua dan tidak meyakinkan, tetapi jangan sekali - kali kamu meragukan kemampuan bertarungnya."
"Hati Kevin seolah mendidih setelah mendengar uacapan Bima. Ia cemburu dan juga iri sebab Darren memiliki orang - oranf yang begitu kuat di sisinya.
"Brengsek! Kenapa Darren selalu di kelilingi oleh orang - orang yang kuat? Kalau begini caranya aku tidak mungkin bisa mengalahkannya," tukas Kevin. Ia berkacak pinggang dadanya bergemuruh. Menahan rasa sakit karena iri
Bima memijat pangkal hidungnya. Sejujurnya ia tidak ingin melihat Kevin dan Darren berseteru. Namun jika Alex sudah turun tangan, maka Bima pun tidak akan tinggal diam.
"Kamu jangan khawatir begitu, Vin. Papa akan mengenalkanmu dengan seseorang yang jauh lebih hebat dari, Alex." kata Bima sembari tersenyum sinis.
"Siapa dia, Pa? Pokoknya aku tak mau kalah dari Darren. Aku tidak mau dia mengalahkanku," tukas Kevin. Tatapan matanya berapi - api dan penuh akan kebencian.
"Kamu tunggu saja. Papa yakin Darren dan semua orang - orangnya tidak akan berani dengannya," ujar Bima. Ia tersenyum sinis dan penuh akan keyakinan.
*****
"Darimana Om tahu, Kalau aku ada di rumah Kevin?" tanya Darren. Ia meringis
sembari mengusap sedikit perutnya yang sedikit membiru di bagian pinggir.
"Mama memang begitu. Tapi seharusanya, Om tidak datang untuk menghentikanku. Rasanya aku ingin sekali membunuh Kevin dan juga Vanesha," kata Darren dengan suara yang menggebu - gebu.
"Jangan bodoh, Darren! Om tahu Kamu marah, tapi bukan begitu caranya," sentak Alex. Tatapan matanya sinis seperti biasa.
"Tapi mereka sudah keterlaluan, Om! Karena ulah Vanesha sekarang istriku kritis. Bahkan anakku harus lahir prematur," balas Darren. Matanya kembali menggelap karena gejolak marah yang begitu besar di hatinya.
Alex menghembuskan napas panjang. Ia terkekeh lalu menepuk pundak Darren. Dan berkata, " Kamu memang seperti Ayahmu, Darren. Sekarang bagaimana keadaan istrimu?" tanya Alex.
"Ya, Karena dia ayahku. Hm, Entahlah aku tidak tahu, Om. Sampai saat ini Daniel belum mengirimkan pesan apapun padaku."
" Istrimu masih kritis dan kamu berniat untuk bunuh diri, Darren? Benar - benar pria lemah," ucap Alex. Ia terkekeh dan sinis menatap Darren.
" Aku tidak bunuh diri, Om!" balas Darren yang masih kesal.
"Benarkah? Tapi asal kamu tahu Darren, balas dendam tanpa rencana itu sama saja dengan bunuh diri."
__ADS_1
" Tapi...." ucapan Darren terhenti saat Alex langsung memotongnya.
"Kalau kamu memang ingin balas dendam kepada sahabatmu. Maka carilah bukti tentang kesalahannya sebanyak mungkin. Jangan menggunakan kekerasan kalau kamu memang ingin menang!"
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan diri, Om! Aku sakit hati saat melihat mereka berdua. Bahkan, rasanya aku ingin sekali membunuh Kevin.
"Om tahu, tapi bukan begitu cara mainnya, Darren," ucap Alex datar.
Darren terdiam. ucapan Om Alex memanng benar. Tidak seharusanya ia melakukan kekerasan seperti tadi.
"Setelah ini Om yakin mereka tidak akan tinggal diam begitu saja. Bima pasti akan membuat rencana besar." ucap Alex
" Lalu apa yang harus aku lakukan, Om?". tanya Darren.
Alex terkekeh pelan. Wajahnya terlihat begitu santai. Seolah - olah tidak ada beban apapun di hatinya.
" Kamu tenang saja selama masih ada ayahmu dan juga Om, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan."
" Hm, Aku harap mereka tidak akan berbuat buruk lagi dengan istri dan juga anakku." ujar Om Alex
" Mereka tidak akan berani kecuali.....," Alex menghentikkan ucapannya. Ia sengaja menggantung perkataannya untuk membuat Darren penasaran.
" Kecuali apa, Om?" tanya Darren penasaran.
"Kecuali mereka bekerja sama dengan kelompok yang berbahaya." Ucap Alex sedikit kahawatir.
Benarkah demikian?
Setelah apa yang telah terjadi di masa lalu, masih beranikah Bima melawan keluarga Kenzo?
Bersambung..
Nantikan terus kisah mereka selanjutanya Ya....!
Terima kasih sudah membaca.Maaf kalau masih banyak typho
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote.