
Hari demi hari terus berlalu sudah satu minggu lamanya Kiran melakukan pemulihan. Kini kondisinya semakin membaik.
Tidak hanya Kiran. Kini kondisi Arka putra Darren dan juga Kiran pun semakin menunjukkan perkembangan. Bahkan, hari ini Kiran pun sudah di perbolehkan menggendong dan membawa Arka ke ruang rawat inapnya.
"Mas, apa anak kita tampan sepertimu?" tanya Kiran. wajahnya tampak berseri - seri, karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Arka untuk yang pertama kalinya.
"Tentu saja ia sama persis denganku," ujar Darren ia terkekeh pelan. Ia tersenyum manis sambil mendorong Kiran yan sedang duduk di kursi roda.
"Tidak ada yang mirip denganku, Mas?" jawab Kiran sedikit cemburu.
"Sepertinya tidak. memangnya kenapa?" tanya Darren. Ia terkekeh geli karena tahu jika Kiran tengah merajuk.
"Aku yang mengandung dan aku juga yang melahirkan. Tapi kenapa semuanya di ambil kamu? ih....., jahat." ucap Kiran sambil bersedekap dan cemberut.
Darren tertawa, ia lalu berjalan kehadapan Kiran dan berjongkok.Darren menggenggam kedua tangan Kiran lalu mengecupnya mesra.
"Jangan ngambek dong, Sayang! Janji deh besok kita bikin yang perempuan biar mirip sama kamu ya," kata Darren. Sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar! itu mah mau kamu, Mas. Anak baru lahir kok udah mikirin bikin yang baru," ketus Kiran namun tak ayal pipinya bersemu merah setelah mendengar ucapan Darren.
"Memangnya kamu nggak mau, kita udah lama kok nggak me...."
Pluk!
Kiran menepuk bibir Darren pelan. Ia menatap jengkel ke arah Darren yang terkekeh pelan. Dan berkata, " Nggak boleh ngomong sembarangan, Mas! kebiasaan deh."
"Iya..Iya. Sayang, Maafkan aku," balas Darren ia kembali berdiri dan mendorong kursi roda Kiran.
Suasananya kembali hening keduanya sibuk menormalkan detak jantung yang menggila hanya karena ingin bertemu degan Arka.
"M..Mas, rasanya aku mau menangis." Kata Kiran saat keduanya sudah sampai di depan ruang NICU.
"Jangan nangis, Sayang! Nanti Arka akan ikutan nangis juga." ucap Darren. Ia mengecup puncak kepala Kiran dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Hati Kiran menghangat, air matanya pun turun membasahi pipi. Rasanya ia tidak menyesal telah memaafkan dan memberikan kesempatan pada Darren.
"Ah, aku rasa aku semakin mencintaimu, Mas?"
"Kamu memang harus melakukan itu, Ran." balas Darren.
Kiran menganggukan kepala. Dan berkata " Kamu juga harus melakukannya, Mas"
"Tentu sayang, aku akan selalu mencintaimu. Terima kasih karena kamu sudah bertahan untuk aku dan juga anak kita," bisik Darren ia mengecup pipi Kiran.
"Dan terima kasih juga karena kamu sudah bersedia memaafkan kesalahanku, Ran. Sungguh, aku sangat mencintaimu,"
"Aku juga mencintaimu, suamiku. Terima kasih sudah setia untuk menungguku."
"Sama - sama. Sekarang saatnya kita menjemput pangeran kecil kita."
Tangan Kiran gemetar, jantungnya bergemuruh menahan rasa haru yang membuncah di hatinya. Selain itu, air mata pun tak luput membasahi pipinya.
"M...Mas dia tampan sekali," ujar Kiran dengan suara yang terbata - bata. Tatapan matanya tidak kunjung beralih pada Arka yang sedang di periksa oleh dokter. Sebelum nantinya di serahkan pada Kiran.
"Ya anak kita memang tampan. Dia bayi yang kuat meski sudah mengalami hal yang lebih buruk," balas Darren. Ia pun sendiri tak mampu menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.
Darren senang sebab putranya kini semakin berkembang. Organ - organ tubuhnya pun sudah berkembang dan berfungsi dengan baik.
"Kondisi Arka sudah semakin membaik, Pak Darren. Arka juga sudah bisa keluar dari inkubator," kata Dokter Amel yang kebetulan memeriksa Arka.
"Tapi kenapa tubuhnya masih sangat kecil, Dok? Memangnya tidak apa - apa?" tanya Darren. Ia menatap Arka sambil mengernyitkan dahinya.
Dokter Amel terkekeh pelan. Ia juga menggeleng pelan kemudian berkata, "Berat badannya sudah naik, Pak. Lagi pula bayi, kan, memang kecil. Lihatlah! Bahkan Arka menjadi bayi yang paling besar di ruangan ini."
Darren menatap sekeliling dan mengangguk pelan saat melihat bayi - bayi yang lainnya. Darren tersenyum tipis kemudian berkata, "Kalau begitu, apa boleh saya membawanya ke ruang rawat Kiran, Dok?"
"Tentu saja Pak. Arka memang harus berada di dekat Bu Kiran. Tapi jangan lupa setiap dua jam Arka harus meminum ASI." ujar Dokter Amel tersenyum lembut sembari menatap Arka yang kini berada dalam gendongannya.
__ADS_1
"Ngomong - ngomong sampai kapan Arka harus berada di rumah sakit, Dok? Kalau saya pulang Arka juga boleh ikut, kan?" Kali ini giliran Kiran yang bertanya. Ia tersenyum lembut sembari menyentuh tangan Arka.
"Kalau itu saya belum bisa memastikannya, Bu. Tapi kalau kondisinya sudah semakin membaik, boleh kok," jawab Dokter Amel.
Kiran menganggukan kepala. Jantungnya semakin berdebar kencang saat melihat Dokter Amel mulia menyerahkan Arka padanya. Lagi - lagi air mata menetes di pipi Kiran. Rasanya ada ribuan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.
"Sayang ini Mama," ujar Kiran saat Arka ada berada di gendongannya. Kiran mendongak, ia menatap wajah Darren dengan mata yang berkaca - kaca.
Darren mengangguk lalu membungkukkan badannya untuk menatap Arka lebih dekat. Ia tersenyum manis sembari mengulurkan tangannya membelai pipi Arka.
"Alisnya mirip sekali denganmu," ujar Darren. Ia tak henti - hentinya merasa kagum saat melihat Arka. Wajahnya terlihat menggemaskan sekaligus sangat tampan." ucap Darren
"Iya, dan yang lainnya semua mirip denganmu, Mas," kata Kiran. kemudian ia tersenyum manis lalu mengecup singkat dahi Arka.
Darren mengangguk pelan. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara ia dan juga Kiran. Mereka memilih sibuk menatap Arka yang tampak menggeliat dan bergerak - gerak lucu.
Tatapan Kiran semakin intens pada wajah Arka. Ia tengah mencari perbedaan antara Arka dan juga Darren. Namun semuanya tampak sama dan tidak ada yang berbeda. Saat sedang mengusap pipi Arka, Kiran terpukau ketika melihat putranya membuka matanya.
"Lihatalah, Mas! Arka membuka matanya. Ya Tuhan, dia benar - benar sangat tampan sekali." ujar Kiran kemudian merengkuh tubuh mungil Arka.
"Kamu benar, tapi sepertinya kamu juga butuh istirahat, Ran. Sekarang ayo kita bawa Arka ke ruang rawat kamu," ajak Darren sembari mendorong kursi roda Kiran.
Sepanjang perjalanan menuju ruang rawat. Kiran tidak henti - hentinya mengajak Arka berbicara. Ia bahkan tidak mempedulikan tatapan orang - orang yang sedang tertuju padanya.
"Sekarang kamu istirahat dulu, Ran. Biar Arka aku yang akan menggedongnya." ucap Darren ketika ia dan Kiran sampai di ruang rawat.
"Tapi aku masih mau main sama Arka, Mas. Memangnya kamu tidak kasihan, hm? Kami sudah terpisah cukup lama. Biarkan aku menggendongnya lebih lama lagi," balas Kiran. Tatapan matanya berubah sendu dan berkaca - kaca.
Darren menghembuskan napas panjang. Ia mengusap puncak kepala Kiran dengan lembut. Setelah itu ia pun mengecup pipi Kiran. Dan berkata, " Aku tahu, tapi kondisi kamu belum pulih seutuhnya, Ran. Dan kamu masih harus beristirahat."
" Tapi...."
Jangan lupa like, komen dan Vote.
__ADS_1