
Pagi hari telah tiba. Sinar matahari pun mulai memasuki kamar Darren melalui celah - celah fentilasi. Kiran menggeliat, ia mengerang pelan lalu membuka matanya.
Kiran mengernyitkan dahi ketika merasakan hawa dingin di pundak dan juga lengannya. Kiran menoleh kesamping, pipinya mendadaj bersemu merah saat melihat tubuh polos Darren terpampang nyata di depannya.
Kiran tersenyum tipis. Ada Perasaan lega dan juga bahagia ketika ia teringat dengan dengan kejadian semalam. kejadian di mana ia kembali menyerahkan seluruhnya kepada Darren.
"Kamu tampan sekali, Mas," gumam Kiran sembari mengusap lembut pipi Darren. Senyumnya mengembang, rasanya ia ingin berlama - lama di dekat Darren.
"Sudah puas memandangi wajahku,hm?" tanya Darren dengan kedua mata yang masih tertutup. ia tersenyum simpul kemudian menarik tubuh Kiran agar semakin mendekat.
"E..Eh kamu sudah bangun, Mas?" tanya Kiran jantungnya berdetak dengan kencang, apalagi saat kakinya tidak sengaja menyenggol sesuatu yang telah menegang di bawah sana.
"Kamu semakin membuatnya tegak, Sayang," bisik Darren tepat di samping telinga Kiran. ia tersenyum nakal sembari memainkan tangannya di punggung Kiran.
Kiran menelan salivanya susah payah. ia bergidik ngeri kita melihat tatapan mata Darren. Akhirnya Kiran memilih mendorong dada Darren menjauh. Namun, sayangnya Darren justru semakin memgeratkan pelukannya.
"Ini sudah siang, Mas, aku mau mandi." kata Kiran. ia berusaha sekuat mungkin menahan godaan yang Darren berikan padanya.
"Kamu boleh mandi, tapi setelah menidurkan adik kecilku lagi," kata Darren tangannya mulai menelusup ke dalam selimut lalu kembali menyentuh bulatan kenyal yang sudah menjadi candunya
"Tapi ini sudah pagi, Mas. Lagi pula kan kita semalam telah melakukannya, Memangnya kamu tidak lelah?" tanya Kiran sembari mencengkal pergelangan tangan Darren agar tidak bergerak semakin jauh.
"Tidak ada kata lelah jika berkaitan denganmu, Ran. Kamu tahu? Rasanya aku tidak pernah puas untuk melakukannya denganmu," balas Darren.
"Tapi....." ucapan Kiran terhenti ketika Darren memilin puncaknya yang telah menegang. Kiran mengerang tertahan, matanya terpejam menikmati sensasi aneh pada inti tubuhnya.
Kiran memang tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Darren " Lakukanlah cepat! Karena aku tidak enak sama Mama kalau bangunnya kesiangan," ujar Kiran sembari mengalungkan tangannya pada leher Darren.
"Tentu, Sayang,
Akhirnya keduanya pun kembali memadu kasih dengan penuh kenikmatan.
***
Selesai mandi dan mengeringkan rambut, Kiran nemutuskan untuk keluar kamar tanpa menunggu Darren. Namun, sebelum itu ia sudah menyiapkan pakaian untuk di kenakan Darren.
__ADS_1
"Aku keluar dulu, Rasanya tidak enak kalau lama - lama di dalam kamar," kata Kiran sembari menatap Darren yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hm, Tapi ingat Ran! jangan melakukan apapun. Jangan masak ataupun beberes. Aku tidak mau kamu kelelahan," ujar Darren.
"Nggak mau kelelahan, padahal kamu sendiri yang sudah membuat aku lelah, Mas,"
"Loh, itu kan beda lagi, Sayang. Karena itu lelah nikmat dan berpahala," kata Darren sambil terkekeh geli.
"Terserah kamu saja deh," balas Kiran ia beranjak lalu berjalan menuju keluar.
Seperginya Kiran. Darren di kejutkan dengan dering ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia mengambilnya dan terkejut saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Ivan? Ada apa dia menghubungiku?" gumam Darren. Cukup lama ia berdiam diri sembari menatap layar ponsel. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya.
"Darren ke markas cepat! Aku ada informasi penting untukmu."
"Tapi aku tidak bisa pergi hari ini, Van. Lagi pula tumben kamu. Setelah sekian lama. Atau kamu su........,"
"Ini informasi penting, terkait dengan istrimu, Darren,"
"Kiran maksudmu? ada informasi apa maksudnya?"
"Keluarga Kiran apa maksudmu? Dia sudah tidak memiliki siapa pun.Kiran...."
"Kiran masih mempunyai seorang, Ayah Darren!"
"Apa?! Kamu jangan bercanda, Van!"
"Aku tidak bercanda, Darren. Kamu tahu? Dia adalah se...."
Darren langsung memutus sambungan telfon dan bergegas untuk pergi ke markas dan menemui Ivan secepatnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara sepatu beradu dengan lantai menggema di seluruh ruangan. Darren yang baru saja selesai berpakaian berjalan tergesa - tergesa menuruni tangga sembari membawa kunci mobilnya.
__ADS_1
"Mau ke mana? kok buru - buru gitu?" tanya Kiran. ia merasa heran ketika melihat suaminya tersebut berjalan cepat tanpa menghiraukan dirinya.
"Aku ada urusan sebentar. Aku pergi dulu ya," jawab Darren. ia tersenyum tipis lalu mengecup Singkat kening Kiran.
"Urusan apa? Tapi kamu kan belum sarapan, Mas. Lagi pula memangnya kamu tidak kerja?" tanya Kiran lagi. ia mencekal pergelangan tangan Darren erat.
Darren menghembuskan napas pelan. ia melepaskan cekalan tangan Kiran. "Urusan penting, Ran. Aku pergi dulu, nanti kalau sudah pulang Aku janji akan menceritakannya kepadamu," kata Darren. ia tersenyum lembut sembari mengusap lembut pipi Kiran.
Kiran menganggukan kepala. Meski merasa sedikit cemas, tetapi pada akhirnya Kiran menyerah. ia membiarkan Darren pergi.
"Ya sudah kalau begitu hati - hati di jalan!"
"Oke" jawab Darren singkat
Darren berjalan cepat menuju garasi mobil. Setelah itu, ia mengemudikan dengan kecepatan tinggi. Darren membawa mobilnya menuju ke markas setelah tadi pagi mendapatkan telfon dari Ivan. Karena merasa begitu penasaran informsai yang di berikan oleh Ivan. Akhirnya Darren pun memutuskan untuk membicarakannya hal penting itu secara langsung.
Sementara di rumah, Kiran justru merasa semakin cemas. Hatinya merasa seolah - olah akan ada hal buruk yang terjadi. Namun, sebisa mungkin Kiran menyembunyikan rasa cemasnya.
"Darren mau kemana, Ran?" tanya Daniel. ia menatap Kiran yang terlihat gelisah sedang di duduk di sofa.
"Nggak tahu, Niel. Tadi katanya ada hal penting, terus keluar," jawab Kiran ia menghembuskan napas pelan. perasaannya semakin tidak karuan.
"Kamu tahu dia kemana? Tumben sekali dia tidak bilang padaku kalau ada urusan penting." ia bersedekap sembari mengernyitkan dahi. Daniel sendiri merasa, mulai ada yang aneh dengan Darren.
"Aku tidak tahu kemana. Tapi rasanya aku tiba - tiba menjadi cemas begini. Apa menurutmu dia akan baik - baik saja, Niel?" tanya Kiran. tatapan matanya begitu lekat pada Daniel yang sedang bersandar di dinding.
"Jangan cemas begitu,Ran! Mungkin Kak Darren sedang ada urusan dengan teman - temannya. Sudahlah lebih baik kamu sarapan dulu sana. Biar aku cari tahu kemana perginya, Kak Darren," jawab Daniel sambil tersenyum manis.
"Baiklah, Nanti kasih tahu aku ya,"
"Hm" Daniel hanya bergumam. Setelahnya ia berjalan menuju teras. Daniel duduk di emperan teras sambil menatap langit cerah yang berwarna biru.
Daniel memghembuskan napas panjang. ia menyugar rambutnya ke belakang lalu mengambil ponsel di saku celananya. Daniel mencoba menghubungi Kakaknya. Namun, sayangnya meski berkali - kali mencoba Darren tidak kunjung menjawabnya.
"Kemana dia? Astaga, Aku harap Kak Darren tidak melakukan hal buruk," kata Daniel.
__ADS_1
Kira - Kira siapa Ya, Ayah Kiran? Nantikan terus kisah mereka ya......!
Jangan lupa, like komen dan vote.