Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Butuh Liburan


__ADS_3

Akan tetapi Kiran juga tidak berani berpamitan untuk pergi ke kamar. Terlebih lagi, saat ini Kenzo dan juga suaminya sedang berbicara hal yang cukup serius.


Kiran menunduk, ia menghembuskan napas perlahan guna mengurangi rasa gelisahnya. Setelah itu, ia pum mencoba untuk bersikap tenang sembari melanjutkan sarapannya.


"Apa perlu Ayah turun langsung, untuk menyelidikinya? Ayah takut ka..." Kenzo menghentikkan ucapannya. Ia meringis saat merasakan cubitan dari Helena.


"Ini di ruang makan, Mas. Jangan berbicara mengenai masalah rumit seperti itu! Lebih baik cepat selesaikan sarapannya. Lihat tuh! Kiran sudah sangat gelisah dari tadi," ujar Helena. Ia menatap tajam ke arah Kenzo sembari berkacak pinggang.


Mendengar ucapan Helena tentang Kiran, Darren pun langsung menoleh. Ia menatap intens wajah Kiran dari samping. Darren terkekeh pelan, ia senang saat melihat semburat merah di pipi Kiran.


"Kamu kenapa gelisah, hm?" tanya Darren. Ia menggenggam tangan Kiran lalu mengecupnya singkat.


"Eh, nggak kok, Mas," ujar Kiran. Ia buru - buru menarik tangannya karena merasa malu di lihat oleh semua orang saat berada di ruang makan.


"Kalau nggak kok, dari tadi diam aja? Atau kamu nggak suka makan ini?" tanya Darren lagi. Kini tatapan matanya tertuju pada piring Kiran yang masih berisi cukup banyak makanan.


"B..Bukan begitu, Mas. Aku suka kok, aku hanya tidak bersemangat makan saja," jawab Kiran berbohong. Padahal sebenarnya ia sedang merasa begitu kelaparan. Mau buru - buru makan tapi gengsi, sebab sedari tidak ada yang makan selain dirinya. Semuanya sibuk mendengarkan Kenzo berbicara.


"Benarkah? Mau makan di luar?" tanya Darren lagi.


"A.. Ah nggak usah. Lagian nanti kamu kerja, kan?" Kiran tersenyum canggung sembari sesekali melirik ke arah Helena dan Kenzo.


"Kalau kamu mau, nanti aku nggak berangkat dulu. Kan sudah lama juga, kita nggak pergi berdua, Ran." bujuk Darren sembari mengusap lembut pipi Kiran.


Kiran semakin menunduk. Jantungnya bedebar kencang karena ulah Darren. 'Aduh... apa suamiku tidak sadar kalau aku ini malu?' batin Kiran.


"Darren benar, Ran. Sepertinya kalian berdua butuh jalan - jalan sebentar," kata Helena. Ia tersenyum manis saat menatap sang menantu.


"T... Tapi, Mah..


"Kamu pasti jenuh ada di rumah terus, kan? Arka juga butuh melihat dunia luar, Nak. Pergilah bersama Darren." ujar Helena.


Kiran menghela napas pelan.Ia kemudian menatap ke arah Darren sebentar kemudian menganggukan kepala.


"Baiklah, hari ini aku ingin pergi bersama kamu, Mas," ujar Kiran.


Darren tersenyum tipis tangannya terangkat kemudian mengacak rambut pelan Kiran. " Oke, setelah sarapan, aku bantu kamu siap - siap,"

__ADS_1


Helena dan Kenzo saling berpandangan. Kedua tersenyum tipis melihat kemesraan Darren dan juga Kiran. Mereka senang, sebab Darren sudah tak bersikap jahat pada Kiran.


"Kalian liburan, dan aku harus tetap bekerja ? Cih! Itu sangat tidak adil," ujar Daniel yang tiba - tiba potes. Ia bersedekap sembari menatap jengkel ke arah Darren.


"Tidak ada yang meminta pendapatmu, Niel! Kewajibanmu kan memang bekerja. Jadi lakukan saja dengan ikhlas," balas Darren sambil tersenyum miring.


"Tapi itu tidak adil, Kak Darren! Aku juga butuh liburan. Astaga, aku juga bisa stres kalau terus bekerja." sambung Daniel. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kamu mau liburan, Niel?" tanya Kenzo, yang sedari tadi diam menatap Daniel dengan penuh keseriusan.


"Tentu saja, Yah. Aku ju....."


"Kalau begitu menikahlah! Ayah pasti akan memberikanmu banyak cuti jika kalau kamu menikah," balas Kenzo, yang sukses membuat Daniel tak bisa berkata - kata.


"Jangan begitu dong, Yah? Memangnya menikah itu gampang! Astaga, menikah itu butuh kesiapan yang besar."


"Memangnya kamu belum siap, Niel? Pekerjaan kamu sudah mapan. Rumah kamu, juga sudah punya sendiri, kan?" tanya Helena. Ia menatap lekat wajah Daniel.


"Bukan itu masalahnya, Mah. Aku hanya belum siap, jika harus membimbing istriku. Aku masih ingin bebas." kata Daniel. Ia terkekeh kemudian kembali fokus pada piring.


"Ya sudah, kalau begitu terserah kamu saja." ucap Helena.


"Hm..."


Setelah percakapan itu, ruang makan pun menjadi hening. Semuanya sibuk memakan makanan masing - masing.


***


"Hari ini kamu mau ikut kemana?" tanya Darren kepada Kiran. Ia menatap Kiran yang sedang memandikan Arka.


"Terserah kamu saja, Mas." jawab Kiran.


"Kok terserah?" balas Darren yang merasa bingung.


"Ya iya terserah. Aku kan, nggak tahu mau kemana? Aku ngikut aja kemana kamu mau pergi." balas Kiran tanpa mau menatap ke arah Darren.


Darren berdecak kesal. Ia memang paling tidak suka jika mendapat jawaban 'Terserah' dari Kiran. Menurutnya Kiran terlalu bertele - tele.

__ADS_1


"Apa susahnya ia menyebut apa yang ia inginkan? Ck! Dasar, wanita memang susah di mengerti," gumam Darren sembari bersedekap.


"Kamu bilang apa, Mas?" tanya Kiran sambil menoleh sembari menatap tajam ke arah Darren.


"Aku tidak bilang apa - apa? Kamu pasti salah dengar," jawab Darren ia buru - buru tersenyum lebar untuk menutupi kebohongannya.


Kiran mengalihkan pandangannya, ia menggendong Arka kemudian membawanya menuju ke ranjang.


"Jadi, kamu pikir aku tuli, Mas? Kamu pikir aku tidak mendengar apa yang kamu ucapkan,hm?" ujar Kiran dengan nada suara yang terdengar kesal.


"Ran, aku....."


"Sudahlah! Kalau kamu tak mau mengajakku keluar, maka jangan menawari," ucap Kiran. Matanya berkaca - kaca. Dan bibirnya pun bergetar karena menaham tangis.


"Loh, kamu kok malah nangis, Ran? Aku hanya bercanda saja, sayang. Aku tidak bermaksud untuk berbicara seperti itu tadi. Aku hanya...."


"Sudahlah, Mas! Lebih baik kita tidak usah pergi. Aki malas berdekatan dengan kamu. Kamu sudah berubah," kata Kiran sembari memakaikan baju untuk Arka.


Darren menganga, matanya pun terbelalak setelah mendengar ucapan Kiran. Ia bingung, karena Kiran tiba - tiba begitu marah padanya.


Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian mencoba mendekati Kiran. Darren menyentuh kedua pundak Kiran. Setelah itu, ia pun mulai berbicara.


"Sayang, kok kamu jadi marah - marah begini? Nanti cepat tua loh kalau...."


"Tadi kamu bilang, kalau aku susah di mengerti. Dan sekarang kamu bilang ke aku kalau aku tua, Mas? Kamu benar - benar keterlaluan. Aku tidak menyangka kamu bisa setega seperti itu."


Darren menggeram tertahan. Ingin rasanya ia meremas - meremas pipi Kiran lalu mencium bibirnya. Eh...., Darren gemas karena tiba - tiba saja Kiran berubah menjadi sosok wanita yang sangat menjengkelkan.


"Ran, aku tidak mengatakan kalau kamu tua. Aku hanya...."


"Apa sekarang kamu sudah tidak cinta lagi denganku, Mas? Apa kamu sudah memiliki kekasih baru?"


"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam kenapa aku harus menghadapi sikap Kiran yang menjengkelkan seperti ini,?" gumam Darren, ia menatap malas ke arah Kiran. Yang kini sudah terduduk karena menangis.


Bersambung..


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2