
"Nik, kapan kamu akan bertindak? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ucap Bima kepada Niko.Wajahnya tampak gusar seolah - olah rasa gelisah begitu besar di hatinya.
Niko tidak langsung menjawab. Pria itu justru terlihat begitu santai sembari menyeruput secangkir kopi hitam. Niko menatap Bima, setelahnya ia tersenyum miring.
"Kenapa buru - buru, Bima? Kita nikmati dulu semua ini. Kita biarkan dulu mereka bersenang - senang sebelum nantinya hancur berkeping - keping," balas Niko ia bersedekap sembari menyilangkan kedua kakinya.
"Tapi, ini sudah terlalu lama, Nik. Bahkan saat ini Alex dan Bastian pun sudah kembali sehat. Kita akan kesusahan kalau harus melawan mereka," ujar Bima lagi. Ia benar - benar gelisah memikirkan segala kemungkinan yang menghantui pikirannya.
"Bukankah itu justru bagus, Bim? dengan begitu kita bisa menunjukkan kekuatan kita berdua," ujar Niko. Ia menyandarkan kepalanya pada sofa lalu memejamkan matanya.
"Astaga..., kamu benar - benar bodoh, Nik. Apa kamu pikir mereka bisa kita kalahkan untuk yang kedua kalinya?" tanya Bima. Suaranya meninggi. Kini ia begitu kesal pada Niko yang terlalu meremehkan semuanya.
"Jadi kamu takut, Bim? Ck! Manusia seperti mereka tidak perlu kau takuti." sambung Niko. Ia beranjak dari duduknya kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Bima menggelengkan kepala pelan, ia bersedekap sembari menatap lurus ke arah Niko yang membelakanginya. Bima menggeram tertahan, kalau bukan karena membutuhkan Niko, ia pasti sudah menghabisi pria itu.
"Aku bukannya takut, Nik. Tapi semuanya akan semakin rumit kalau terus begini. Apalagi sekarang keuanganku semakin menipis. Sejak beberapa hari yang lalu kamu selalu meminta uang. Tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Kalau begini terus aku bisa kehabisan uang, Nik!" Sergah Bima.Ia menghembuskan napas lega karena sudah berhasil mengungkapkan segala unek - uneknya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bima sontak Niko langsung menoleh. Tatapan matanya begitu sinis saat beradu pandang Bima
"Jadi kamu keberatan dengan kehadiranku, dirumahmu, Bima? Kamu juga keberatan jika aku meminta uang untuk mempersiapkan rencana kita?"
'Ya aku sangat keberatan,' batin Bima menjerit. Namun, tentu saja ia tidak berani mengatakannya langsung pada Niko.
Bima tidak bisa membantah apapun yang di ucapkan oleh Niko. Sebab, saat ini ia sangat bergantung pada Niko kalau bukan karena di iming - iming gelimang harta dari Kenzo Wijaya, tentu saat ini ia sudah mengusir Niko.
Bima menghembuskan napas lelah, ia mengacak rambutnya dengan kasar lalu duduk di sofa. Tatapan matanya begitu tajam dan luris menatap dinding yang ada di depannya.
"Lancang sekali ucapanmu, Bima! Kalau kamu tidak percaya, tidak masalah. Aku bisa pergi dari rumahmu dan menyelesaikannya sendiri," ujar Niko dengan perasaan marah yang begitu besar di hatinya.
Niko sangat jengkel karena hampir setiap hari Bima selalu menyuruhnya untuk mengambil alih perusahaan Kenzo Wijaya.
Bima gelapan setelah mendengar ucapan Niko. Ia menghembuskan napas pelan dan mencoba mengurangi rasa emosinya. Setelah itu, ia pun kembali berdiri dan mendekati Niko. Bima tersenyum tipis sembari menepuk pelan pundak Niko.
"Jangan emosi, Nik! Aku hanya bercanda saja. Mulai sekarang, aku tidak akan bertanya lagi tentang rencana kita. Aku serahkan semuanya padamu,"
__ADS_1
"Hm, menyusun rencana itu susah, Bima. Kamu pikir Kenzo dan antek - anteknya mudah di taklukan?"
"Ya aku tahu, Kenzo memang susah di taklukan.Tapi aku juga takut jika Kenzo akan menyerang kita lebih dulu,"
"Mereka tidak akan berani bertindak sebelum kita yang memulainya. Kalaupun mereka bertindak, aku pun sudah menyiapkan sebuah rencana,"
"Baiklah, kalau begitu aku serahkan semuanya padamu. Aku menginginkan yang terbaik dari hal ini, Nik,"
"Hm, jangan khawatir,"
Hening...
Tidak ada yang lagi berbicara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing - masing. Hingga kemudian, Bima memutuskan untuk meninggalkan Niko sendirian di ruang kerjanya.
Bersambung...
Jangan lupa untuk selalu like, komen, vote dan juga hadiahnya.
__ADS_1