Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Memberikan Harapan Palsu


__ADS_3

Pandu menghembuskan napas panjang. Tangannya yang mulai keriput tampak sedikit gemetar karena sedari tadi ia merasa gugup. Pandu memejamkan matanya sembari bersandar di kursi.


"Untung saja Lesti sangat percaya denganku. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia mengetahui semuanya. Dia mungkin akan mengusirku dari rumah ini," gumam Pandu sambil memijat pangkal hidungnya.


Setelah beberapa saat menenangkan diri, Pandu pun mulai sibuk dengan beberapa dokumen.


Sementara di sebuah kamar Arya tampak termenung sembari duduk di tepi ranjang. Sedari tadi helaan napas panjang keluar dari bibirnya.


Arya lelah, otaknya seolah - olah penuh padahal ia tidak tahu tengah memikirkan apa. Arya menggeram tertahan sembari menjambak rambutnya sendiri.


"Argh! Sialan, aku bisa gila kalau terus begini," gumam Arya matanya memanas dadanya bergemuruh menahan panas karena dirinya kembali teringat dengan Lesti.


"Apa benar dia ibu kandung saya? Kalau memang iya kenapa dia tidak menyayangi saya? Dia bahkan tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya," gumam Arya. Ia memejamkan mata lalu memutuskan untuk berbaring di ranjang.


Lelah memikirkan keluarganya yang begitu berantakan. Arya pun memilih tidur. Ia berharap dengan tertidur maka beban di hatinya bisa sedikit berkurang.


"Besok aku harus memgungkapn semuanya?" gumam Arya.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah sakit....


Darren menggeliat dan membuka matanya. Ia tersenyum tipis saat melihat Kiran masih tertidur lelap di sampingnya, Darren beranjak duduk setelah itu ia pun turun dari brankar.


Darren meregangkam otot - ototnya. Setelah itu ia berjalan mendekati Arka. Darren terkekeh saat melihat Arka yang sudah membuka matanya.


"Anak Papa kenapa bangun? Haus ya?" tanya Darren sambil mengusap pipi Arka.


Arka tersenyum, kakinya bergerak lincah sehingga membuat selimutnya tersingkap. Darren tertawa, setelah itu ia pun mulai mengecek popok yang di pakai Arka.


Darren tampak begitu bahagia. Berbeda dengan Daniel yang semakin murung.


Saat ini Daniel sedang berada di rumah. Setelah mengantar Citra, ia memang tidak sengaja pergi kemanapun. Ia berharap bisa berbicara dengan Citra. Namun, harapannya sia - sia. Citra justru masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apapun padanya.


Daniel menghembuskan napas panjang. ia meyugar rambutnya ke belakang sembari menikmati semilir angin yang berembus di balkon kamarnya. Darren memejamkan matanya saat teringat dengan kejadian siang tadi.


Daniel berbohong kepada Kiran tentang ia bertemu dengan seseorang dan tak sengaja melihat Citra. Sebenarnya Danielah yang menyuruh Citra untuk datang.

__ADS_1


Daniel berencana mengungkapkan semua perasaannya kepada Citra. Bahkan ia sudah menyiapkan surprise. Hanya untuk menyambut kedatangan Citra. Selain ingin mengungkapkan perasaan, Daniel juga berencana melamar Citra.


Namun, sayangnya harapan tinggalah harapan. Daniel begitu kecewa saat Citra memamerkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya, tepat saat ia hampir mengungkapkan semua yang ia rasakan.


"Sial! Sia - sia saja perjuanganku selama ini. Brengsek! kenapa dia tidak berbicara langsung saat aku datang kerumahnya beberapa waktu yang lalu," gumam Daniel. Ia meninju dinding sebagai pelampiasan rasa sakit di hatinya.


"Hah! Kak Darren benar, wanita bukan hanya Citra. Jadi untuk apa aku bersedih?" gumam Daniel untuk menyemangati dirinya.


"Tapi tetap saja dia keterlaluan. Brengsek! berani - beraninya memberikan harapan palsu untukku," tukas Daniel. Sembari mengacak rambutnya dengan kasar.


Daniel tidak marah dengan Citra yang sudah mempunyai kekasih. Ia hanya kecewa sebab citra tidak memberitahunya sejak awal.


"Oke, mulai sekarang jangan mengharapkan apapun dari Citra, Niel!" ujar Daniel ia tersenyum tipis kemudian memasuki kamarnya.


Belum mulai tetapi sudah kalah duluan ya, Niel.


Jangan lupa, like komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2