Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Balas Dendam Part 2


__ADS_3

Kenzo tersenyum tipis saat melihat semangat yang di tunjukkan oleh Bara. Ia beranjak dari duduknya lalu menepuk pelan pundak Bara.


"Kalau begitu, saya pulang dulu Bara. Jangan bersedih lagi, Shelvi sudah tenang di alam sana."


"Ya, terima kasih banyak, Ken." ucap Bara pada Kenzo.


"Sama - sama," jawab Kenzo.


Setelah itu, Kenzo pun berlalu pergi meninggalkan Bara. Ia menghampiri Helena yang sedang berbicara dengan Diah.


"Helena, kita pulang sekarang," ujar Kenzo sembari tersenyum tipis ketika beradu pandang dengan Helena.


"Pulang sekarang, Mas? Tapi aku masih mau menemani Diah dulu. Aku sudah terlanjur berjanji akan menginap di sini malam ini.


Kenzo mengangguk lalu berkata, "Kalau begitu baiklah, saya akan pulang sendiri. Kamu baik - baik ya di sini,"


"Kamu nggak pa - pa kan, kalau aku menginap? Atau aku pulang aja deh," tutur Helena. Ia merasa tidak enak jika harus membiarkan Kenzo pulang sendirian.


"Tidak perlu. Lagi pula setelah ini saya mau ke rumah sakit, jadi kamu tidak perlu khawatir begitu," jawab Kenzo.


"Oh begitu, baiklah. Nanti, kalau sudah sampai ke rumah sakit sampaikan salam ku untuk Darren," balas Helena.


"Hm, saya pergi," pamit Kenzo. Ia mengecup singkat kening Helena lalu berbalik dan meninggalkan kediaman Bara.


Rencananya Kenzo ingin datang ke rumah sakit untuk membicarakan semuanya kepada Darren. Meskipun nantinya, Darren mungkin akan marah, tetapi Kenzo sudah merasa siap akan hal itu.


"Saya rasa Darren tidak mungkin akan marah. Apalagi selama ini dia sangat menderita akibat ulah dari Bima." gumam Kenzo sembari fokus mengemudi.


******


"Bagaimana keadaanmu Darren?" tanya Kenzo. Ia bersedekap sembari menatap datar ke arah Darren yang kini hanya sendirian. Sebab, saat ini Kiran sudah kembali pulang sejak pagi hari tadi.


"Sudah lebih baik lagi, Yah. Mungkin satu atau dua hari lagi aku sudah boleh pulang, Yah." jawab Darren.

__ADS_1


"Baguslah. Ngomong - ngomong kamu sudah tahu, kalau Shelvi sudah meninggal?" tanya Kenzo lagi.


Darren mengernyitkan dahinya. Ia benar - benar terkejut setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Kenzo.


"Meninggal? Bagaimana bisa, Yah? Atau jangan - jangan wanita kemarin yang di temukan terbunuh adalah Shelvi?" tanya Darren memastikan.


"Ya, dia menjadi korban pembunuhan sangat tragis. Dan kamu tahu, siapa pelakunya? Darren?" tanya Kenzo lagi. Ia tersenyum sipul lalu duduk di sofa.


"Siapa, Yah?"


"Mantan sahabatmu... Kevin," jawab Kenzo.


"Apa?! Kevin berani membunuh Shelvi? Astaga, aku benar - benar tidak menyangka. Aku pikir meski dia jahat, dia tidak akan berani melakukan itu," balas Darren tak percaya.


"Hmm, dia mengalami gangguan mental. Tapi sudah jangan memikirkan hal itu. Sekarang Ayah mau bicara sesuatu denganmu," kata Kenzo yang mulai menunjukkan wajah penuh keseriusan.


"Ayah mau bicara apa?" tanya Darren.


"Apa kamu keberatan jika Ayah melakukan sesuatu kepada Bima?" tanya Kenzo to the point.


"Maksud Ayah apa?"


"Ayah dan Bara ingin memberikan pelajaran kepada mereka,"


"P.. Pelajaran?" suara Darren mulai terbata - bata. Ia gugup karena melihat raut kemarahan yang begitu besar dari kedua manik mata Kenzo.


"Pelajaran yang akan membuat mereka jera. Ayah sudah tidak tahan lagi, Darren. Ayah tidak mau mereka kembali berulah dan membuat keluarga kita menderita lagi."jawab Kenzo memegang kedua pundak, Darren.


Darren terdiam. Sembari menatap lekat wajah Kenzo, ia menghembusakan napas panjang kemudian berkata, "Lakukan saja, Yah. Aku tidak masalah. Justru aku sangat senang jika bisa membuat Om Bima dan Kevin sadar akan perbuatannya selama ini."


"Jadi kamu setuju Darren. Tapi, Ayah tidak janji kalau Bima akan hidup setelah itu," ujar Kenzo.


"M... maksud Ayah?"

__ADS_1


"Kamu tahu betul dengan apa yang Ayah katakan, Darren. Jadi bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?"


"Aku keberatan, Yah. Aku tidak ingin Ayah masuk penjara karena hal itu. Aku....."


"Jangan pikirkan tentang hal itu! Ayah tidak masalah, meski harus mendekam di balik jeruji besi. Bagi Ayah, keselamatan keluarga adalah yang paling penting.


Mata Darren memanas ia begitu terharu dan merasa sangat di sayangi oleh Kenzo.


"Kenapa Ayah melakukan hal itu? Ayah tidak takut kalau reputasi Ayah menjadi buruk?"


"Kenapa? Karena Ayah sangat menyayangimu. Ayah tidak terima dengan apa yang sudah mereka perbuat padamu,"


Darren mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar ucapan Kenzo. Ia mengalihkan pandangannya untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca - kaca dan akhirnya ia pun tidak bisa menahan laju air matanya. Darren benar - benar merasa tersentuh dengan apa yang di ucapkan oleh Ayahnya itu.


"Astaga... kamu akan segera memiliki dua anak Darren? Jadi tolong jangan cengeng seperti ini!"


"Ayah benar - benar membuatku terharu sampai aku tidak bisa menahan laju air mataku,"


"Cih! Kata - katamu sangat menjijikan Darren!" Ketus Kenzo sambil berbalik dan membelakangi Darren.


Darren mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia merasa heran, sebab Kenzo bisa cepat sekali berubah. Padahal Kenzo baru saja bersikap manis tetapi dengan mudahnya Kenzo kembali menjadi sosok yang menyebalkan.


"Jadi bagaimana? Kamu tidak keberatan bukan?" tanya Kenzo memastikan.


Darren terdiam sejenak. Sebelum akhirnya menganggukan kepalanya, dan berkata, "Lakukan yang terbaik, Yah. Mereka memang pantas mendapatkan hukuman yang setimpal,"


"Bagus, kalau begitu malam ini Ayah pastikan semuanya akan selesai,"


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


Jangan lupa, like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2