Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Penyesalan Darren


__ADS_3

Setelah berpikir beberapa saat Darren pun buru - buru merogoh saku celananya. ia hendak mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang yang sangat ia percaya. Cukup lama Darren menunggu panggilannya terjawab. Perasaannya semakin bertambah ketika orang di sebrang telfon tak kunjung menjawabnya. dan berkata "Brengsek!! kemana semua - semua manusia itu ketika aku sedang membutuhkan?" geram Darren dia menatap ke arah layar ponselnya yang memperlihatkan nama Ivan. Darren menghela napas panjang ketika mendengar suara parau Ivan dari sebrang telfon. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Darren pun meminta Ivan untuk melakukan sesuatu.


"Hai Darren ada Ap..?" ucapan Ivan terputus ketika Darren langsung memberikan perintah padanya.


"Cepat cari wanita yang baru saja aku kirimkan padamu," ucap Darren. Suaranya bernada tinggi meski tengah di liputi oleh ketegasan dan sedikit panik.


"Sebentar" balas Ivan. ia lalu membuka aplikasi pesan untuk melihat foto wanita yang baru saja Darren kirimkan.



Ivan mengernyitkan dahi. ia merasa tidak pernah melihat wanita tersebut. "Cantik sekali, tapi dia sia..." belum sempat Ivan menyelesaikan ucapnnya, Darren sudah lebih dahulu memotongnya. "Jangan banyak bertanya, Van! Cepat cari dia dan temukan secepatnya. kalau sampai besok pagi kamu belum menemukannya, maka nyawa kamu taruhannya," bentak Darren.


Mendengar nada suara marah - marah dari Darren, Ivan pun buru - buru menjawab " Baik, akan Aku pastikan satu jam lagi wanita ini akan ku temukan," ucap Ivan langsung mematikan sambungan telfonnya.


Napas Darren memburu. Selain marah dengan Kiran yang pergi begitu saja, ia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menahan diri ketika melihat Shelvi. dan Darren berkata "Brengsek! kenapa aku terluka hanya karena wanita bodoh itu pergi? Zivanna Kirannia..., aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa jauh dariku setelah ini," lirih Darren. tatapan matanya begitu tajam dan mengarah ke depan.


****


Sementara itu, Saat ini Bara dan Kenzo sedang melakukan perdebatan yang cukup rumit. Bara menyayangkan sikap Kenzo yang menyuruh Darren untuk menikahi Kiran tanpa melakukan penyelidikan terhadap Kiran terlebih dahulu.


"Saya pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengatasi hal ini Bara, Ada atau tidaknya penyelidikan, Darren memang harus menikahi Kiran" ujar Kenzo. Raut wajahnya yang biasanya tenang kini mulai menunjukkan guratan kemarahan.


" Tapi bagaimana kalau wanita itu hanya menjebak Darren, Ken? Apa yang menurutmu baik, belum tentu seperti itu kenyataannya." ucap Bara, ia menatap lelah kearah Kenzo.


"Saya tidak peduli dengan saranmu, yang terpenting untuk sekarang semuanya sudah jelaskan. jika Darren sudah menikah dan dia tidak akan mungkin menikahi anakmu itu." bentak Kenzo matanya beralih ke arah Shelvi yang sedari tadi diam dan hanya sibuk bermain ponsel, Kenzo benar - benar jengkel terhadap Shelvi yang tidak memiliki sopan santun.

__ADS_1


'Saat kecil dia begitu baik dan sopan. tapi kenapa setelah besar dia menjadi nakal seperti ini? Astaga, apa mungkin karena pengaruh budaya asing? batin kenzo.' Kenzo benar - benar menyayangkan sikap Shelvi yang jauh berbeda ketika ia masih kecil.


"Ken, kenapa kamu sangat percaya dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya itu." tanya Bara setelah berapa saat terdiam.


"Siapa yang kamu bilang tidak jelas hm,? Saya dan Helena sudah paham semua hal yang berkaitan tentang Kiran." balas kenzo tidak mau kalah.


" Mas, sudahlah jangan memperkeruh suasana! lebih baik sekarang kita segera cari Kiran," kata Helena sambil mengelus pelan pundak Kenzo.


"Tidak! saya tidak akan mencari Kiran! Saya ingin melihat betapa hancurnya Darren tanpa kehadiran Kiran di sisinya" ucap Kenzo sinis sambil tersenyum miring. Kini kenzo si pria dingin dan kejam telah muncul.


"Tap, Mas...."


" Biarkan dia Mah, Darren memang perlu di berikan pelajaran, Mah? dan biarkan Kiran untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Saya Yakin menantu kita, Yaitu Kiran akan kembali" ucap Kenzo sambil menatap wajah sang istrinya.


"Kiran tak mungkin akan menyesal, justru sebaliknya Darren yang akan menyesal karena telah kehilangan wanita sebaik Kiran?" balas Kenzo rasanya kenzo mulai begitu kesal dengan sikap Shelvi yang sudah sangat berubah semenjak dia pulang dari luar negeri.


" Ah, Masa Sih om Menurutku Darren pasti tak akan pernah menyesal hanya karena seorang pembantu. Aku yakin dia akan segera melupakannya." Ujar Shelvi suaranya terdengar begitu santai, seolah dirinya tidak merasa bersalah atas apa yang telah ia ucap kan tadi.


Helena yang mendengar ucapan Shelvi benar - benar merasa kaget dia tidak menyangka dengan perubahan yang ada pada dirinya Shelvi. Gadis manis yang dulu dia sayangi dan cintai kini telah tumbuh menjadi gadis yang memiliki kata - kata kejam dan menyakitkan.


" Shelvi! jaga bicaramu papih tak pernah sekali pun mengajarimu untuk merendahkan pekerjaan seseorang." ucap Bara sambil menatap mata putrinya penuh peringatan.


"Tapi Kan, aku memang jujur pih?. Dia hanyalah seorang pembantu yang tidak berpendidikan ting....."


Brak!

__ADS_1


Prang!


Semua yang berada di ruang keluarga terlonjak kaget. Mereka reflek menoleh kearah Darren yang baru saja meninju dinding kaca di ruang keluarga hingga pecah.


" Jaga bicaramu! kamu tidak pantas menghina istriku." ucap Darren suarnya mengalun rendah tapi tatapannya begitu tajam dan menghunus tepat kearah manik mata Shelvi.


"Darren? kamu lebih membela dia dari pada aku? Astaga, padahal dulu sewaktu kamu masih bersama dengan Vanesha, kamu selalu memprioritaskan aku. Tapi kenapa sekarang kamu..." ucapan Shelvi terhenti. ia menghentikan ucapannya karena tidak percaya dengan semua tindakan Darren.


Darren menghembuskan napas panjang. dia mengacak rambutnya Frustasi sembari menatap kearah Shelvi. Ada perasaan bersalah ketika melihat tatapan polos Shelvi yang di tujukkan padanya.


"Shel, A..aku...."


" Daripada berdiam diri disini, lebih baik kamu cari Kiran, Darren! Jangan sampai kamu terlambat dan menyesal." ucap Kenzo ia tersenyum miring ketika melihat sang putra terlihat kalut dan kacau.


Mendengar ucapan Kenzo, Darren tersentak kaget. Setelahnya tanpa mengatakan apapun ia mengambil kunci mobilnya yang ada di kamar.


"Bagaimana apa kamu sudah menemukannya?" tanya Darren ketika dia berhasil menghubungi Ivan kembali.


" Astaga, ini bahkan belum ada sepuluh menit, setelah kamu memberikan aku perintah Darren! Sial! Siapa sebenarnya dia! dan kenapa kamu sangat panik?" tanya Ivan dari sebrang telfon, jujur saja, Ivan merasa sangat penasaran sekaligus juga heran dengan Darren yang biasanya tidak biasa untuk bersikap seperti saat ini.


Darren terdiam beberapa saat. ia bimbang antara harus berbicara jujur atau tidak dengan Ivan. Akhirnya Darren pun membuat keputusan yang cukup besar.


"Dia istriku." jawab Darren


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2