Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Tawaran Alex dan Bastian


__ADS_3

"Dimana aku?" tanya Ivan. Ia melenguh merasakan pegal di sekujur tubuhnya. Ivan menoleh kesamping kanan dan kiri. Dan menghembuskan napas pelan ketika melihat Dika duduk di sampingnya.


Ivan hendak berdiri, tetapi sayangnya kedua tangan dan kakinya terikat kuat. Ivan memberontak, ia berteriak sekuat tenaga. Namun, semuanya sia - sia belaka.


"Kita dimana, Dik?" tanya Ivan. Dadanya bergemuruh dan jantungnya berdetak kencang saat teringat dengan dua orang yang mengaku dari anggota Red Wolf.


Dika tidak menjawab apapun. Ia hanya terdiam sembari menatap lurus ke arah depan. Ivan yang merasa penasaran pun ikut menoleh.


Deg!


Detak jantung Ivan semakin tidak terkendali. Napasnya memburu dan matanya melotot. Ivan ternganga bahkan untuk sekedar bicara pun rasanya begitu sulit.


"D...Dika? Kita ada di markas besar Wolf Red?" tanya Ivan setelah perasaannya sedikit lebih tenang. Ivan menoleh ke arah Dika yang kini raut wajahnya telah memucat.


"Sepertinya, Kita terjebak, Van. Niat hati lari dari buaya, tapi sekarang kita justru masuk ke dalam kandang singa," ujar Dika suaranya bergetar dan sedikit terbata - bata.


"Kamu benar,Dik. Dan tamatlah riwayat kita sekarang. Kita tidak mungkin selamat dari sini." ucap Ivan menghembuskan napas lelah sembari menatap poster bertuliskan nama Red Wolf.


Dika hanya terdiam, napasnya memburu, selain itu keringat dingin pun mulai membasahi telapak tangannya ketika mendengar suara langkah kaki seseorang. Ivan dan Dika saling berpandangan, keduanya lantas berpegangan tangan dengan erat.


"Matilah, kita Dik. Sialan! Aku tidak menyangka kalau Darren sampai menyewa Red Wolf. Aku pikir dia tidak akan mampu. tapi ternyata....," Ivan meracau. Ia benar - benar kacau setelah mendengar derit pintu terbuka.


"Yo, apa kabar kalian?" tanya Bastian yang baru saja membuka pintu. Ia terkekeh hambar sambil melihat kedua mangsanya.


"Lepaskan Kami!" ucap Ivan.Ia menatap tajam kerah Bastian dan juga Alex yang baru saja menyusul. Ivan gelagapan, apalagi setelah melihat Alex memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.


"Bagaimana kalau di dalam situ ada pistol? Astaga, nyawaku benar - benar ada di ujung tanduk," gumam Ivan kini tangannya pun semakin erat menggenggam tangan Dika.


"Kami akan melepaskan kalian, tapi dengan satu syarat." ucap Bastian sambil duduk di kursi. Ia bersedekap sambil menatap ke arah Ivan dan juga Dika yang sedang duduk di lantai.


"Syarat? Apa itu?" tanya Dika. Rasanya ia begitu takut karena suasana ruangan yang panas dan begitu mencekam.


"Kalian harus bekerja untuk kami. Kalau perlu, kalian harus menjadi bawahan kami untuk selama - lamaya," ujar Bastian. Ia tersenyum miring sembari memainkan sebilah pisau di tangannya.

__ADS_1


"Berani bayar berapa kalian sampai berani memerintahku untuk menjadi bawahan?" tanya Ivan sambil memalingkan wajahnya dari Bastian.


"Kau berani berbicara seperti itu di depanku? Baiklah, berarti kamu memang harus di berikan pelajaran," kata Bastian. Ia menyeringai kemudian berjongkok di depan Ivan.


Ivan menelan salivanya susah payah. Ia meringis saat melihat Bastian mendekatkan sebilah pisau yang tampak tajam pada pipinya.


"Bagian mana yang harus aku potong terlebih dahulu? Ah, mungkin kalau aku memotong bagian 'itu' akan sangat menyenangkan," ujar Bastian. Matanya berkilat aneh sambil menatap ke arah celana Ivan.


"Brengsek! Dasar tua bangka nggak punya akhlak! Masa depanku akan suram kalau 'dia' kamu potong," tukas Ivan. Tetntu saja ia tahu betul apa yang akan dilakukan oleh Bastian.


"Masa depan? memangnya kau punya masa depan, hm?" ucap Bastian


"Tentu sa..."


"Diam!! Brengsek kalian semua." tukas Alex yang sedari tadi sudah merasa muak dengan ulah Bastian dan Ivan. Ia menggeram marah, matanya berkilat tajam dan tangannya pun mengepal.


Bastian menghela napas panjang. Ia mengangguk kemudian berjalan mendekati Alex kembali. Dan berkata, "Baiklah, dan sekarang tugasmu untuk menyuruh mereka menuruti kita,"


Alex melangkah maju.Ia menatap malas pada ke dua orang yang berada di depannya. Dan berkata " Tentukan pilihan kalian sekarang juga! Kalau kalian tidak mau menerima tawaran saya, maka saya terpaksa akan melakukan kekerasan pada kalian." ujar Alex.


Ivan terdiam beberapa saat. Ia tersenyum licik ketika sebuah ide tersusun rapi di otaknya. ' Aku akan menerimanya, tapi setelah itu, aku akan meminta pertolongan pada Kevin,' batin Ivan.


"Tapi sedikit saja kalain berkhianat, nyawa kalian yang akan menjaditaruhannya," kata Alex seolah - olah bisa membaca pikiran buruk Ivan


Ivan berdecak kesal. Akhirnya ia pun tidak mempunyai pilihan selain menuruti ucapan Alex. Dan berkata, " Oke! Tapi sebagai gantinya kalian harus melindungi kami berdua dari pihak Kevin."


"Itu masalah gampang.Tapi dengar dan ingat baik - baik! Sedikit saja kalian berkhianat maka semuanya selesai." jawab Alex.


"M..Memangnya kalian tahu, kalau misalkan kami akan berkhianat?" tanya Dika.


"Tentu saja kami akan tahu. Karena semua gerak - gerik kalian bisa kami pantau melalui alat pelacak yang sudah terpasang di gelang kaki kalian." ujar Alex. Ia berjongkok kemudian menyingkap celana Ivan.


Ivan dan Dika membelalakan matanya. Mereka baru menyadari jika Alex sudah memasang alat pelacak di kaki mereka.

__ADS_1


"Sial! Kalau begini aku tidak bisa berkhianat," kata Ivan. Ia mendengkus kasar kemudian menatap tajam ke arah Alex.


"Tentu saja. Dan satu lagi, ponsel kalian juga sudah kami pasang sesuatu agar kalian tidak bisa menyembunyikan apapun dari kami,"


Ivan mendesah panjang. Ia pasrah dan menuruti semua permintaan Alex dari pada harus mati.


"Baik! Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ivan sambil menatap lekat wajah Alex yang menurutnya sedikit mengerikan.


"Kau pikir ini sesi tanya jawab? Dasar cecenguk lemah," ujar Bastian.


"Diam kau tua bangka!" bentak Ivan.


"Mau bertanya apa?" tanya Alex. lama - lama ia merasa muak mendengar ocehan Bastian dan juga Ivan.


"Sebenarnya kenapa kamu mau membantu, Darren? Kenapa kamu rela bersusah payah demi pria lemah seperti dia?" kata Ivan penasaran.


Alex tersenyum miring ia bersedekap tepat di depan Ivan.


"Karena Darren adalah keponakan saya." jawab Alex sambil tersenyum dan menatap sinis ke arah Ivan.


"Apa?! Sial kalau begini aku sangat menyesal karena sudah berkhianat pada Darren." kata Ivan. Ia melotot setelah mendengar ucapan Alex.


"Manusia bodoh," tukas Alex.


Ivan menatap nanar ke arah Alex. Wajahnya mendadak muram. " Jadi selama ini aku sudah menggali lubang kuburanku sendiri," gumam Ivan. Ia tampak merana setelah mendengar semua pengakuan Alex.


"Ya, dan kamu pasti akan sangat menyesal karena sudah mengkhianati kepercayaan Darren!" balas Alex sambil tersenyum misterius.


Bersambung...


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.


Jangan lupa like komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like. Dan jangan lupa hadiahnya ya....

__ADS_1


__ADS_2