
"Sejak kapan kamu tahu tentang ini, Alex?" tanya Bara suaranya terdengar begitu parau.
"Baru beberapa hari yang lalu. Kami tahu? Anakmu sudah terlanjur jatuh pada Kevin dan bekerja sama dengannya," kata Alex sambil menatap beberapa lembar foto yang keluar dari amplop coklat.
Foto - foto tersebut memperlihatkan kedekatan antara Kevin dan Shelvi -- anak Bara. Bahkan, ada beberapa foto yang menunjukkan hubungan terlarang diantara keduanya.
Bara menyugar rambutnya ke belakang. Hatinya runtuh saat tahu putrinya telah terperosok pada jurang yang akan menghancurkannya.
"Sepertinya aku sudah gagal menjadi seorang Ayah, Alex? Hatiku sangat sakit melihat putri yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang justru berbuat seperti ini,"
"Hm, jadi apa keputusanmu?"
"Keputusan apa? Aku tidak mengerti,"
"Jangan berpura - pura bodoh, Bara! Saya tahu kamu pasti mengerti apa yang saya maksud."
"Alex, aku...."
"Kalau kamu tidak bisa melawan putrimu, saya sarankan jangan ikut campur. Karena mau tak mau kamu pasti akan berhadapan dengannya sebagai musuh.
Bara memejamkan matanya erat. Bayangan tentang Shelvi kembali berputar di ingatannya. Bara sangat menyayangi Shelvi, tetapi di sisi lain ia sudah terlanjur berjanji untuk setia kepada keluarga Gilang.
Bara bimbang ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Bara?"
"Aku akan menghadapinya, Alex."
"Kamu yakin?"
"Ya,"
"Tapi bagaimana kalau aku menyuruhmu untuk menghabisinya,"
Deg!
Jantung Bara berpacu kencang. Ucapan Alex benar - benar tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
"Alex..... kau...."
"Saya serius Bara! Suatu saat nanti, jika kamu tidak segera mengundurkan diri, maka akan ada waktunya bagi kamu untuk menyuruhmu menghadapi Shelvi." ucap Alex ia menatap serius ke arah Bara.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak mungkin menyuruhku untuk menghabisi Shelvi kan, Alex?" tanya Bara sambil menatap ragu ke arah Alex.
"Kalau memang itu yang terbaik, kenapa tidak? Asal kamu tahu Bara. Shelvi sudah terjerumus terlalu dalam," jawab Alex. Matanya mendelik tajam, seolah - seolah tidak ada belas kasihan di dalamnya.
"Tapi aku tidak mungkin menghabisi anakku sendiri, Alex. Aku tidak bisa berbuat sekeji itu," ucap Bara sembari menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal menahan segenap perasaan yang tiba - tiba masuk ke hatinya.
"Kalau begitu, kamu juga harus siap kehilangan rasa kepercayaan dari saya atau pun Kenzo. Begini Bara, saya tidak bermaksud menakut - nakuti, hanya saja putrimu sudah kelewat batas. Dia bahkan sudah bekerja sama dengan Kevin untuk menghancurkan Darren dan Istrinya.
"Aku tahu Alex. Kamu tenang saja. Aku berjanji agar segera membuatnya sadar. Shelvi hanya salah melangkah, aku yakin Shelvi akan akan menuruti ucapanku,"
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin membujuknya dan di habisi oleh teman - temannya?"
"Alex, aku yakin Shelvi hanya sedang mencari jati dirinya. Beri aku waktu untuk membawanya kembali," kata Bara dengan penuh kesungguhan. Tatapan matanya begitu serius ketika beradu pandang dengan Alex.
Alex menghembuskan napas panjang. Ia menatap malas ke arah Bara kemudian duduk. Alex bersedekap, sementara matanya menatap begitu tajam sehingga membuat Bara cukup terintimindasi.
"Sampai kapan kamu akan membawa putrimu,"
"Aku tidak tahu, tapi jika Shelvi tidak bisa kembali. Maka aku sendiri yang akan menghadapinya. Aku bersedia dengan segala resikonya," jawab Bara sembari tersenyum tipis.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat satu hal, Bara! Kalau kau sampai ikut terjerumus maka akan ku pastikan semuanya berakhir sia - sia,"
"Bagus! Kalau begitu ayo sekarang kita keluar, ada hal lain yang harus kita bahas."
Bara menganggukan kepala. Setelah itu ia beranjak dari duduknya. Bara berjalan di belakang Alex dengan perasaan yang sedikit gundah.
Ya...., setelah percakapannya dengan Alex tentang Shelvi. Ia merasa beban di pundaknya semakin bertambah. Bahkan, rasa - rasanya Bara ingin menangis dan memutar waktu kembali ke masa lalu.
"Kalau tahu begini, mungkin tidak menikah adalah jalan terbaik," gumam Bara. Ia menghembuskan napas panjang, setelahnya ia memilih menatap punggung tegak Alex.
"Alex, ngomong - ngomong dimana Bima? Sepertinya ini sudah cukup lama, setelah kita mengurungnya," kata Bara sembari mensejajarkan langkahnya dengan Alex.
"Entahlah, saya jarang melihatnya. Hanya Bastian dan kedua tikus itu yang sering mendatangi ruang tempat Bima dan istrinya di kurung."
"Kalau begitu, boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja. Ayo!" Ajak Alex.
Keduanya pun berjalan menuju ruang tempat Bima di sekap. Sesampainya di depan ruangan, keduanya terkejut saat melihat Bastian tampak di kuasai oleh amarah.
"Kamu kenapa Bastian? Apa yang terjadi?" tanya Alex sembari menatap lurus ke arah Bastian.
__ADS_1
"Bima, benar - benar keterlaluan, Alex. Ternyata selama ini dia masih menyimpan sebuah pistol," ujar Bastian.
"Jangan bercanda, Bas! Bukankah kamu sendiri yang sudah membuang semua senjatanya?" tanya Alex lagi. Wajahnya yang semula santai, kini mulai panik.
"Kalau begitu kenapa kamu justru berdiri di luar? Masuk dan berikan pelajaran padanya!" Tukas Alex. Ia mengepalkan tangannya sembari menatap tajam ke arah pintu yang sedikit terbuka.
"Kamu bilang aku tidak boleh sembarangan memukul, Bima, Alex. Jadi....."
"Kali ini pengecualian, Bas! Kalau dia bertindak di luar batas, maka sudah saatnya kita beraksi," ujar Alex sambil menyeringai sinis.
Bastian ikut tersenyum sinis. Rasa - rasanya ia sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada Bima yang hampir saja mencelakainya.
"Tapi bagaimana caranya kita masuk? Bukankah Bima memiliki senjata?" tanya Bara.
"Kamu tenang saja Bara. Kaalau sudah ada Alex,semuanya akan baik - baik saja," kata Bastian sambil terkekeh.
Bara hanya mengangguk patuh. Meski sedikit ragu, tetapi ia tetap memberanikan diri untuk mengikuti Bastian dan juga Alex.
Brak!
Pintu terbuka dengan kasar. Dan benar saja, Bima tampak mengacungkan sebuah pistol ke arah pintu.Namun, Alex justru tersenyum remeh sembari memainkan pistolnya.
"Keluarkan aku dari sini!" Kata Bima sembari mengacungkan pistolnya tepat mengarah pada kepala Alex.
"Tidak, sebelum kamu menyudahi semuanya, Bima. Saya tahu kamu dan juga anak buahmu sedang menyusun rencana jahat, bukan?"
"Itu bukan urusanmu! Sialan! Kalian akan benar - benar mati di tanganku!" Sentak Bima napasnya tampak memburu.
"Sebelum hal itu tiba, saya rasa kamu sendiri yang akan mati," ucap Alex.
"Kau...." Bima semakin murka. Tangannya masih gemetar, tetapi seringai di bibirnya semakin terlihat. Bima menghembuskan napas pelan kemudian mulai menarik pelatuk pistol di tangannya.
Sama halnya dengan Bima, Alex maupun Bastian telah bersiap. Keduanya begitu fokus menatap pergerakan tangan Bima.
Set!
Dor!
Bunyi pistol begitu membahana di seluruh penjuru ruangan. Bara yang melihatnya pun tampak tercengang. Pasalnya, Alex sama sekali tidak terluka.
Jangan lupa like komen dan vote.
__ADS_1