Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

"Tapi sayangnya aku tidak butuh Izin darimu, Tuan,"


"Tapi, Ran."


"Cukup,Tuan! bisakah kamu membiarkan aku tenang untuk beberapa saat? Kamu tahu? Luka yang kamu berikan kemarin, masih begitu terasa," lirih Kiran. matanya menatap sendu ke arah Darren.


"Aku tahu, aku salah Ran. Aku minta maaf, aku sudah menyakitimu lagi. Tapi aku mohon jangan pergi dengan Daniel! Aku akan mengantarmu," kata Darren.


"Tapi aku tidak ingin pergi denganmu,"


Darren menghela napas panjang. ia berkacak pinggang sembari menatap intens wajah Kiran. Akhirnya, Darren pun menyerah.


"Oke, tapi katakan padaku! kemana kamu akan pergi,"


"Membeli perlengkapan bayi untuk anakku," jawab Kiran sembari mengambil tasnya. Setelah itu ia pun benar - benar pergi meninggalkan Darren yang tampak terkejut setelah mendengar jawabannya.


"Dia mau membeli perlengkapan bayi dengan pria lain? lihat saja, Ran. Aku tidak akan berdiam diri di rumah," ujar Darren sembari menyunggingkan seringai nakal.


"kalau kamu main - main denganku, Maka akupun akan melakukannya," gumam Darren dengan pancaran mata penuh kelicikan.


***


"Wow, Sepertinya kita berjodoh, Ran. padahal kita tidak janjian, tapi baju kita sama" kata Daniel sambil menatap Kiran. ia mengulas senyum tipis ketika melihat penampilan Kiran yang sederhana tetapi tampak elegan



Anggap aja kaya gini ya cheu, penampilan Kiran dan Daniel. hehe


"Ah, Sayang sekali Daniel, Karena aku sudah menjadi Kakak iparmu. Mungkin kalau belum bisalah kita pacaran," gurau Kiran. ia terkekeh geli saat beradu pandang dengan Kiran.


"Apa - apaan ini? Ganti bajumu, Daniel! Aku nggak rela kamu dan Kiran memakai baju yang sama begitu," kata Darren yang baru saja keluar dari kamar. ia berkacak pinggang sembari menatap tajam ke arah Daniel.


"Apa urusanmu? ini bajuku, jadi kamu tidak berhak melarangku, Kak Darren." balas Daniel ia tersenyum miring sembari merangkul pundak Kiran. Tentu saja Daniel, hanya ingin membuat Darren cemburu.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mengizinkan kalian pergi kalau bajunya masih sama begini," tegas Darren. Tatapan matanya begitu tajam dan menghunus. Namun, tetap saja Daniel tidak peduli.


"Tidak ada yang membutuhkan izin darimu, Kak Darren," ujar Daniel. ia menyeringai, setelah itu mengenggam tangan Kiran lembut.


"Sialan! Kamu tidak boleh pergi, Ran! Demi Tuhan, Aku akan memberikanmu pelajaran jika sampai kamu keluar dari rumah ini," tukas Darren.Matanya memincing tajam menatap ke arah Kiran yang diam - diam merasa sedikit takut.


"Jangan pedulikan dia, Ran! Selama masih ada aku, kamu akan baik - baik saja," balas Daniel. ia tersenyum begitu manis sehingg membuat Kiran pun merasa lebih tenang.


"Kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku, maka begitulah aku, Tuan," kata Kiran. ia berbalik lalu menggandeng lengan Daniel.


Darren menggeram tertahan melihat Daniel dan Kiran juga berjalan keluar. Hatinya meradang kemesraan yang di tunjukan oleh Kiran dan juga oleh Daniel.


Darren menghembuskan napas panjang, Dadanya bergemuruh menahan sesak sekaligus luka yang membara. Darren marah tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Saat ini Kiran sedang marah dan mendiamkannya.


Darren mengacak rambutnya dengan kasar. ia merasa frustasi ketika Kiran tak kunjung memaafkannya. Rasanya ia ingin sekali mengurung di Kamar. Namun, tentu saja hal itu tidak bisa di lakukan.


"Sudahlah, Darren! Untuk apa kamu marah - marah begitu? Mereka sudah jelas - jelas berselingkuh di depanmu," Kata Shelvi yang telah diam - diam telah memperhatikan dari tadi.


"Tapi, Darren. Dia sudah keterlalua! masa dia tega berkencan dengan adik tirinya sendiri. Bukankah itu memalukan"


"Yang memalukkan itu aku. Tidak seharusnya aku bertindak kasar kepadanya begitu. Ah sekarang menyesal pun tidak ada gunanya."


Shelvi merengut, rasanya ia begitu kesal karena Darren tidak kunjung termakan omongannya. Padahal, Shelvi sejak tadi sudah membayangkan hal yang tidak - tidak bersama Darren. Namun, ia tak mampu meluluhkan Darren dalam sekejap mata.


"Kalu begitu aku kan bersabar. Hahaha, lihat saja, Sebentar lagi Darren akan jatuh ke pelukanku," gumam Shelvi sembari mentap licik ke arah Darren.


"Kamu mengatakan sesuatu, Shel?" tanya Darren yang merasa mendengar ucapan Shelvi.


"Ah tidak ada. Ngomong - ngomong terima kasih banyak karena kamu sudah mau membantuku. Maaf ya, karena aku, kamu bertengkar dengan Kiran." ucap Shelvi matanya menatap sendu ke arah Darren.


Darren menggelengkan kepala pelan. ia menepuk pundak Shelvi lalu berkata "Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak bersalah, Shel. Aku yang bersalah karena tidak menjaga hati Kiran."


Mata Shelvi berkaca - kac ia semakin mendekati Darren untuk memeluknya. Namun, sebelum Shelvi sempat memeluk, Darren justru mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Aku harus pergi, Shel. Kamu baik - baik di rumah. Kalau ada apa - apa hubungi penjaga di luar, kata Darren sambil berlalu pergi meninggalkan Darren.


Melihat kepergian Darren, Shelvi mengepalkan tangan erat. Emosinya mulai memuncak. "Sialan! Awas saja kamu, Darren. Aku pastikan kamu akan tergila - gila denganku,"


Sementara di tempat lain, Saat ini Kiran dan Daniel sedang berada di dalam mobil. Keduanya terlibat percakapan yang cukup serius. Apalagi, raut wajah Kiran tampak murung dan matanya berkaca - kaca.


"Apa menurutmu, Aku harus bertahan dengan dia, Niel?" tanya Kiran tatapan matanya begitu kosong.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa masalahmu dengan Kak Darren sangat besar, Ran? Bukankah kalian hanya bertengkar karena Shelvi?" tanya Daniel. ia melirik Kiran sekilas kemudian kembali fokus menghadap jalanan.


Kiran tertunduk lesu. ia menggeleng sembari tertawa hambar. Hati Kiran kembali meradang saat teringat dengan kejadian semalam, dimana Darren menamparnya di depan Shelvi.


"Darren menamparku, Niel. dia lebih memilih membela Shelvi dari pada diriku," lirih Kiran yang sukses membuat Daniel menghentikan mobilnya secara mendadak. Beruntung, jalanan tidak terlalu ramai, Sehingga tidak ada hal buruk yang terjadi.


"Apa?! Kak Darren menamparmu, Ran? Ya tuhan, kamu tidak bercanda, Kan?" tanya Daniel. ia menyentuh kedua pundak Kiran dan mengguncangkan pelan.


"Aku tidak mungkin berbohong, Niel. Dia menamparku tepat di depan Shelvi," jawab Kiran matanya kembali berkaca - kaca.


Daniel menyugar rambutnya ke belakang. Setelah itu ia memejamkan matanya dan bersandar pada kursi kemudi. Napas Daniel tidak beraturan karena emosi yang mulai muncul di hatinya.


" Kak Darren sudah keterlaluan. Sepertinya dia memang harus di berikan pealajaran, Ran"


"Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa? Aku bahkan sudah mengajaknya berpisah tapi sepertinya dia tetap tidak mau."


"Maksudku bukan dengan berpisah, Ran. Memangnya kamu tidak akan kasihan dengan anakmu nanti? Dia pasti sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ayah,"


Kiran tidak menjawab. ia memilih diam sembari mengalihkan pandangannya. Melihat Kiran yang hanya diam, Daniel pun melanjutkan perjalanannya menuju pusat perbelanjaan.


"Tenangkan hatimu, Ran. Setidaknya demi anakmu" kata Daniel.


"Aku tahu, tapi mungkin suatu saat nanti aku akan menyerah," ujar Kiran sembari tersenyum tipis.


Jangan lupa like, komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2