
"Kalau begini, bagaimana saya bisa memberitahu suaminya?"
Farhan menggeram tertahan. Ia mengepalkan tangannya sembari menatap wajah Citra.
Perhatian Farhan kini tertuju pada buku kecil milik Citra. Oleh karena rasa penasaran ia pun nekat membukanya. Farhan mengernyitkan dahi saat membaca tulisan yang merupakan curahan hati Citra.
Farhan tersenyum miring lalu menatap Citra. Ia sangat terkejut saat membaca salah satu curahan hati Citra yang berisi :
*** Hari ini Andi memaksaku lagi. Kali ini ia mengancam akan mencelakai Ayah dan Ibu. Aku ingin menolak, tapi aku takut . Rasanya aku sudah sangat lelah. Aku ingin menyerah, tapi siapa yang akan membantu Ayah dan Ibu kalau aku menyerah? Aku benci dengan tubuhku yang kotor . Aku benci semua hal yang ada pada diriku . Tuhan..., kalau boleh memilih aku ingin sekali tidak terlahir ke dunia ini. ***
"Harusnya dia bisa melaporkan hal ini ke Polisi. Tapi, yah...., mungkin wanita ini memang murahan." gumam Farhan
****
Menjelang malam, Daniel baru saja sampai di rumah. Ia berjalan gontai saat memasuki rumah. Wajahnya pun terlihat murung, seolah - olah tidak ada rasa semangat di hatinya.
Daniel menghembuskan napas pelan. Hatinya kembali gundah saat teringat dengan Citra. Ia merasa bersalah tetapi hatinya membenarkan tindakannya tadi pada Citra.
"Aku harap kamu baik - baik saja, Cit" gumam Daniel.
"Kenapa, Niel? Tumben wajahmu murung begitu?" tanya Darren yang heran saat melihat ekspresi sang adik.
Daniel menatap ragu ke arah Darren. Ia menatap sekeliling lalu mendekati Darren.
"Kak Darren. Citra..., hamil?"
"Apa?! Kamu menghamili Citra, Niel? Astaga aku tidak menyangka." ucap Darren kaget.
Daniel memutar bola matanya malas. Ia bersedekap kemudian berkata, "Aku bukan kamu yang hobi bercocok tanam sebelum menikah, Kak Darren?" sindir Daniel pada Kakaknya.
Darren melotot. "Apa kamu bilang?" jawab Darren tak terima.
"Aku benar bukan?" balas Daniel sambil tersenyum tipis.
"Ck! Jadi siapa yang menghamili, Citra?" tanya Darren.
"Laki - laki yang waktu itu menemani Citra datang kesini?" ujar Daniel malas.
Darren menganggukan kepalanya, setelah itu ia berkata, " Lalu, kenapa sekarang kamu murung? Apa kamu sedang cemburu?"
"Bukan karena cemburua, Kak Darren. Tapi ini jauh lebih penting dari itu."
__ADS_1
"Apa memangnya?" tanya Darren ingin tahu.
"Citra memintaku untuk menikahinya. Dia bi...."
"Daniel Atha Wijaya! Apa yang telah kau lakukan kepada Citra?"
Daniel dan Darren menoleh. Keduanya terkejut saat melihat Helena berdiri sambil berkacak pinggang tidak jauh dari mereka.
"Mama? Sejak kapan Mama di situ?" tanya Daniel.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Daniel! Apa yang sudah kamu lakukan pada Citra!" Ulang Helena. Wajahnya tampak tegang sebab amarah yang mulai muncul di hatinya.
"Aku tidak melakukan apapun, Ma?" jawab Daniel.
"Tapi kenapa kamu bilang Citra hamil dan minta menikah? Jangan kau coba - coba bohong sama Mama!" Sentak Helena sambil menatap Daniel.
Daniel menghembuskan napas panjang. Ia menyugar rambutnya lalu memilih duduk di sofa. Daniel memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya kembali berhadapan dengan Helena.
"Mama salah paham. Daniel tidak pernah menghamili Citra," kata Darren yang mencoba menenangkan Helena.
"Kamu diam dulu, Darren! Mama sedang berbicara dengan Daniel," ucap Helena.
"Tapi aku serius, Ma. Daniel tidak pernah melakukan apa pun pada Citra. Citra itu hamil dengan pria lain," ucap Darren berusaha menjelaskan lagi.
"Citra tertipu, Ma? Calon suaminya merusaknya kemudian saat Citra sudah hamil dia langsung membatalkan pernikahan mereka. Citra stres dan kalut karena semua orang menyalahkan dia." jawab Daniel.
Helena langsung terdiam mendengar penjelasan dari Daniel. Kemudian ia ikut duduk dan menatap ke arah Daniel.
"Kamu serius kan, Niel? Kamu tidak sedang berbohong sama Mama, kan?" tanya Helena lagi. Kali ini ia menatap Daniel dengan penuh selidik.
"Untuk apa aku berbohong, sudahlah jangan membahas dia lagi. Lebih baik Mama istirahat saja sana," ujar Daniel dengan malas.
"Tapi Mama ingin menanyakan beberapa hal sama kamu, Niel. Ini tentang kamu dan juga Citra."
Daniel mengernyitkan dahinya ia menatap heran ke arah Mamanya. Karena selama ini Helena tidak pernah menyinggung perihal Citra. Itulah yang membuat Daniel bertanya - tanya mengapa Helena ingin membahas Citra.
"Mama mau nanya apa? Aku dan Citra tidak ada hubungan apapun. Dan aku juga tidak pernah melakukan hal buruk sama dia."
"Bukan itu yang Mama mau tanyakan, Niel? Jadi...." Helena menghentikan ucapannya sembari menatap ragu ke arah Daniel.
"Jadi apa, Ma?" tanya Daniel penasaran.
__ADS_1
"Kamu sungguh tidak memiliki perasaan apapun pada Citra?" tanya Helena yang sukses membuat Daniel terdiam.
Daniel mengalihkan pandangannya dari Helena. Ia justru memilih menatap lukisan yang terpajang di dinding.
"Daniel..." ucapan Helena terhenti.
"Ma, jangan membahas apapun tentang Citra. Saat ini aku sudah memiliki Bunga. Aku tidak mau membuat Bunga salah paham." ujar Daniel memotong perkataan Helena.
Mendengar ucapan Daniel, Helena pun menghela napas pelan. Di tatap putranya itu dengan kasih sayang.
"Justru itu yang Mama takutkan, Niel? Mama takut kamu tidak akan bahagia jika bersama dengan Bunga. Mama takut kamu akan terbebani dengan semua itu?"
"Ma, jangan berpikiran yang tidak - tidak. Aku baik - baik saja dan Mama tidak perlu khawatir, sebentar lagi aku pasti bisa mencintainya," ucap Daniel dengan nada yang tedengar sedikit kesal.
"Tapi Niel.."
"Sudah - sudah Ma! Daniel sudah dewasa. Dia pasti tahu mana yang baik dan mana yang enggak. Lebih baik jangan membahas masalah ini lagi! Biarkan Daniel dengan jalannya sendiri," ucap Darren yang sedari hanya diam. Ia menatap Helena lalu tersenyum tipis untuk menenangkannya.
Helena memejamkan mata. Ia mengangguk kemudian membalas senyuman dari Darren.
"Kalau begitu baiklah, Mama percaya sama kamu, Niel. Jangan pernah kecewakan Ayah sama Mama, ya!"
"Aku tahu." balas Daniel dengan singkat.
"Baiklah, kalau begitu Mama ke kamar dulu, kalian berdua beristirahatlah!" Ucap Helena pada kedua putranya.
Setelah kepergian Helena, suasana ruang tamu menjadi hening. Darren dan Daniel tidak saling berbicara. Keduanya justru tengah sibuk dengan pemikiran mereka masing - masing.
"Setelah ini kau mau bagaimana, Daniel?" tanya Darren sambil melirik ke arah Daniel.
"Bagaimana apanya?" tanya Daniel bingung.
"Maksudku hubunganmu dengan Bunga. Kamu tentu tidak mungkin hanya berdiam diri seperti ini, Kan?" jawab Darren menjelaskan.
"Rencananya aku akan melamar Bunga.Tapi entahlah, untuk saat ini aku tidak bisa memikirkan hal itu." balas Daniel lesu.
"Kamu masih memikirkan Citra, Niel?"
Bersambung....
Nantikan kisah mereka terus ya..! Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.
Untuk Kisah Daniel dan Citra. Akan di lanjut ke Novel berikutnya yah...🤗