
"Kiran! Aku tidak bisa melakukan hal itu, Kasihan Shelvi kalau sampai dia pergi dari sini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya, hm?" tanya Darren ia menyentuh kedua pundak Kiran. Tatapan matanya begitu tajam dan intens saat beradu pandang dengan Kiran.
"Jadi kamu lebih memilih Shelvi dari pada aku, Mas? Kamu ternyata lebih kasihan dengan Shelvi dibandingka istrimu sendiri?" Kiran menatap Darren dengan pandangan tidak percaya. ia benar - benar tidak menyangka, ternyata Darren tidak seperti yang ia bayangkan.
Dulu, sewaktu memutuskan untuk kembali bersama Darren. Kiran pikir Darren akan memperlakukannya dengan baik. Kiran juga berpikir bahwa Darren tidak akan pernah menyakiti hatinya lagi.Namun, semuanya salah besar. Darren justru semakin menorehkan luka yang sangat besar di hatinya. Darren yang selalu mengatakan cinta kepadanya, tega membawa pulang seorang wanita yang jelas - jelas begitu tertarik dan ingin merebut Darren darinya. Jujur saja kini ada perasaan sedikit menyesal yang diam - diam hadir di hati kecil Kiran.
"Aku tidak bermaksud begitu, Va. Coba kamu bayangkan, bagaimana kalau Shelvi berada di jalanan? Pasti akan sangat bahaya untuknya." ucap Darren.
"Ah, kamu benar. Shelvi yang begitu berharga tidak pantas hidup di jalanan. Dia seorang ratu mana mungkin kau membiarkannya menderita," ucap Kiran ia tersenyum tipis, tetapi hatinya sakit menahan perih.
"Kamu memang benar. Aku tidak akan membiarkan Shelvi menderita. Kamu tahu? sebelum ini pun aku sama sepertimu. Tidak menyukai Shelvi. Tapi saat dia meminta maaf dengan tulus, masa iya, aku membiarkannya menderita?"
Kiran menggeleng perlahan. Sudah berulang - ulang kali Kiran menjelaskan kalau Shelvi tidak benar - benar tulus. Namun, Sayangnya Darren tidak pernah percaya. Dan Darren justru menganggap Kiran berbicara omong kosong hanya karena cemburu.
"Demi Tuhan Mas, Aku tidak mempermasalahkan kamu menolong Shelvi. Aku malah senang kamu memiliki sifat yang baik. Tapi, kenapa harus rumah ini? Apa kamu tidak bisa menghargai perasaanku sebagai seorang istri, Mas?"
Darren menghembuskan napas panjang ia mengacak rambutnya karena merasa kesal dengan Kiran. Darren berkacak pinggang tatapannya yang semula lembut berubah tajam.
"Jadi sebenarnya apa mau?!" tanya Darren to the point. ia sudah terlanjur lelah menghadapi sifat Kiran yang berubah setelah kedatangan Shelvi.
"Aku hanya ingin kamu membawa Shelvi pergi dari rumah ini. Kalau perlu antarkan dia kerumah orang tuanya. Aku tidak mau wanita jahat itu, merusak rumah tangga kita," jawab Kiran matanya terlihat serius ketika berhadapan langsung Darren.
Aku tidak bisa melakukannya, Ran. Kamu tahu sendiri, kan? Shelvi di usir dari rumah, jadi....."
"Kalau begitu carikan tempat lain untuknya. Sungguh aku tidak bisa jika harus satu rumah dengannya, Mas." ujar Kiran. ia menunduk sambil meremas daster bermotif batik yang ia gunakan.
Darren terdiam beberapa saat tatapan matanya semakin tajam dan intens ke wajah Kiran. Darren tersenyum miring, ia mulai mendekati Kiran.
__ADS_1
"Kenapa kamu bersikeras ingin mengusir Shelvi dari rumah ini, Ran? Ah, atau jangan - jangan kamu takut tidak bisa menguasai rumah ini setelah mamah pergi?"
Plak.
Tangan Kiran bergetar hebat setelah ia memberikan sebuah tamparan pada Darren. Air matanya kini semakin banyak mengalir dan membasahi pipinya. Napas Kiran tersengal. Dadanya bergemuruh menahan sesak karena ucapan Darren.
"Serendah itu kah aku di matamu, Mas? Bukankah kamu mencintaiku? Tapi kenapa kamu tega berkata seperti itu?" tanya Kiran. Suaranya benar - benar parau. lukanya semakin bertambah karena ucapan Darren yang sukses membuatnya merasa terhina.
Darren tercengang melihat Kiran menatapnya dengan penuh luka. Dadanya berdesir hebat, seketika rasa bersalah memenuhi relung hatinya. Darren benar - benar tidak sengaja berbicara seperti itu. Dirinya terlalu kalap karena Kiran terus memintanya untuk mengusir Shelvi.
"Ran, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud untuk berbicara seperti itu padamu. Aku hanya...."
"Katakan, Mas! untuk apa kamu mengatakan cinta dan berjanji akan membahagiakan aku kalau pada akhirnya begini?" tanya Kiran suaranya bergetar karena menahan perihnya luka yang diberikan oleh Darren.
"Sayang, Maaafkan aku. Aku tidak bermaksud berbicara seperti itu. Aku hanya...." Darren menghentikkan ucapannya ketika melihat Kiran menggelengkan kepala.
"Ran, aku meminta maaf. aku sudah bersalah dan berbicara kasar kepadamu. Tapi aku tidak bermaksud melukai hatimu," kata Darren sambil menggenggam kedua tangan Kiran. raut wajahnya berubah sayu. Darren benar - benar bersalah kepada Kiran.
"Sejak awal kamu hanya ingin mempermainkan, aku, kan, Mas? Sejak awal kamu juga tidak pernah mencintaiku, Kan?" Kiran menarik tangannya dari genggaman Darren. ia berjalan menjauhi Darren lalu duduk di tepi ranjang.
"Kiran, Aku tidak pernah mempermainkan kamu. Aku cinta sama kamu. Aku...."
"Cinta?! Apa gunanya kata cinta kalau kamu berbuat seperti ini?" sentak Kiran. Tangisnya terdengar menyayat hati.
Darren tertunduk sembari berlutut di hadapan Kiran. ia menghela napas pelan melihat Kiran terlihat begitu marah dan kecewa padanya.
"Sekarang aku serahkan semuanya padamu. Kalau kamu memang ingin bersama Shelvi, Pergilah! Jangan memikirkan aku atau pun anakku!" kata Kiran tanpa menatap ke arah Darren. Wajahnya terlihat sayu dan minim ekspresi.
__ADS_1
Darren reflek menoleh. Perkataan Kiran seolah - olah bagaikan petir yang menyambar di hari yang cerah. " Jangan bicara seperti itu lagi, Ran! Aku tidak suka mendengarnya," kata Darren.
"Lalu bagaimana denganku? Apakah kamu pikir aku suka mendengarmu menghinaku seperti itu? Hatiku sangat sakit, Mas!" balas Kiran
"Aku sungguh sangat menyesal, Ran. Maafkan aku. Setelah ini aku janji akan membawa Shelvi pergi," Kata Darren ia menatap Kiran dengan lekat. Darren berharap Kiran mau memaafkannya.
"Untuk apa? tidak perlu berbuat seperti itu. Bukankah kamu tidak tega melihat Shelvi hidup di jalanan?" ucap Kiran.
"Ran....."
"Lakukan apa maumu, Mas. Aku tidak peduli meskipun nantinya kau akan menikahi Shelvi,"
lirih kiran. tatapan matanya begitu kosong mengarah pada jendela.
"Jangan berc....." Darren menghentikan ucapannya ketika melihat Kiran mengangkat satu tangannya.
"Tapi ingat satu hal ini, Mas! Meski dulu aku hanya seorang pembantu. Tapi aku tidak pernah sekalipun gila harta. Jadi tolong, lain kali hati - hatilah saat berbicara."
"Sayang....."
"Jangan memanggilku seperti itu lagi, Rasanya aku tidak pantas mendapatkan panggilan sebagus itu lagi, Tuan!!" kata Kiran, sambil menekankan kata 'Tuan' kepada Darren.
"Dengarkan aku dulu, Kiran. Tolong maafkan aku. Aku sungguh tak bermaksud untuk melukai hatimu. Aku sangat menyesal," kata Darren. Tangannya menggenggam erat jemari Kiran.
"Menyesal? Kamu tahu? Jika memang kamu mencintaiku, Aku yakin kamu tidak akan pernah berbicara seperti itu. Ah, tapi ya sudahlah," sambung Kiran tatapan matanya semakin kosong, Seoalah - olah tidak ada gairah hidup. di benaknya.
Jangan lupa like, komen dan vote
__ADS_1