Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Penyusup


__ADS_3

Kevin terkekeh, tentu saja ia paham dengan apa yang di maksud oleh Shelvi. Kevin mencekal tangan Shelvi, setelah itu ia mengecup mesra.


"Kamu pintar sekali, Shel. Haha..., pas sekali malam ini aku sedang menginginkannya," ujar Kevin. Ia terkekeh kemudian mengecup singkat bibir Shelvi.


"Tentu saja, Aku juga sudah sangat merindukanmu, Vin. Ngomong - ngomong Om Bima dan tante Cindy tidak ada di rumah, Kan?" tanya Shelvi.


"Tidak, mereka sedang mengunjungi seseorang yang akan membantu kita." jawab Kevin.


"Membantu kita? Apa maksudmu? Siapa orang itu?" tanya Shelvi lagi. Ia merasa sangat penasaran dengan siapa yang di maksud oleh Kevin.


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas orang itu sangat hebat, Shel. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi"


"Syukurlah kalau begitu, ngomong - ngomong, kapan rencana itu akan di lakukan, Vin? Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat Darren hancur," ujar Shelvi. Tangannya yang semula berada di dada Kevin, kini mulai bergerak nakal menyentuh setiap titik sensitif Kevin.,


"Kita tunggu Darren dan keluarganya lengah, maka setelah itu, aku akan pastikan mereka tidak akan bisa melawan kita."


Shelvi tersenyum penuh kepuasaan. Setelah itu, tanpa banyak bicara lagi, Kevin lamgsung mengangkat tubuh Shelvi menuju salah satu kamar tamu.


"Malam ini kamu mililikku, Shel." ucap Kevin.


"Ya. Selama Vanesha pergi. Maka aku yang akan selalu memuaskanmu." balas Shelvi dan tersenyum lebar, seolah - olah rasa malau tidak lagi ia miliki.


Namun, sesampainya di kamar, Shelvi justru terdiam. Ia berpikir siapa orang yang akan berpihak pada Kevin untuk menghancurkan Darren.


"Siapa orang itu? Aku harap aku tidak mengenalnya? gumam Shelvi.


***


Darren tertidur sembari menyandarkan kepalanya pada brankar tempat Kiran berbaring. Ia merasa begitu lelah sebab seharian ini dirinya tidak bisa beristirahat sama sekali.


Sedangkan Om Alex dan juga Daniel, mereka memilih berjaga di ruang NICU. keduanya berjaga - jaga agar tidak sembarangan orang yang masuk ke ruangan tersebut.


"Kalau kamu sudah mengantuk tidur saja, Niel. Biar Om yang berjaga di sini." ujar Alex yang melihat Daniel tampak kelelahan.

__ADS_1


"Aku tidak mengantuk, Om. Aku hanya merasa sedikit lelah saja. Ngomong - ngomong kenapa kita harus berjaga di sini, Om?" tanya Daniel ia memang belum mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.


"Darren belum bercerita kepadamu?" tanya Alex. Ia bersedekap lalu bersandar pada dinding.


"Kak Darren tidak mengatakan apapun padaku, memangnya ada apa Om?"


"Jadi begini, Niel. Kemungkinan besar saat ini Kevin sudah menyuruh seseorang untuk datang ke rumah sakit. Dia memiliki rencana buruk untuk Kiran." ucap Om Alex.


"Kevin? dari mana Om tahu?" ucap Daniel penasaran.


"Dari teman Om. Dia memang sudah menyelidiki Kevin dan juga teman - temannya setelah kejadian buruk ini yang menimpa Kiran."


Daniel menganggukan kepala. "lalu kenapa kita justru berada disini? Bukankah lebih baik kita berjaga di depan ruang rawat inap Kiran?"


"Kamu benar, tapi bagaimana jika mereka juga mengincar anak Darren?."


"Benar juga. Tapi aku rasa tidak mungkin mereka berbuat buruk kepada bayi, Om. Lagi pula ruangan ini sangat di jaga ketat oleh dokter dan juga perawat.


"Kalau begitu, ya sudah kita keruang rawat Kiran saja. Biar nanti Om menyuruh seseorang untuk berjaga - jaga disini." kata Alex sambil beranjak dari duduknya.


Pria itu tersenyum lebar. Matanya memincing memperhatikan beberapa bayi yang tampak sama persis. Ia mengernyitkan dahi sembari mencari anak Darren dan juga Kiran.


Yah, Pria itu adalah Ivan. Ia tersenyum aneh saat melihat bayi mungil yang merupakan anak dari Kiran dan juga Darren.


"Maafkan aku, Darren. Aku terpaksa melakukan ini," gumam Ivan ia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya melakukan rencana gilanya itu.


Sementara itu, perasaan Daniel mendadak tidak tenang. Ia yang sudah berada di dalam ruang rawat Kiran mendadak terdiam. "Ada apa ini?" kenapa perasaanku mendadak tidak enak?" gumam Daniel.


Namun, Daniel segera menepis perasaan buruknya tersebut. "Mungkin ini hanya perasaanku saja." batin Daniel.


"Kenapa kamu ada disini, Niel?" tanya Darren yang baru saja terbangun dari tidurnya. Kemudian Ia mulai meregangkan otot - ototnya sembari menatap ke arah Daniel.


"Aku mengkhawatirkan Kiran setelah mendengar ucapan Om Alex, Kak Darren." ucap Daniel nada suaranya terdengar khawatir.

__ADS_1


"Lalu siapa yang menjaga anakku?!" tanya Darren tatapan matanya begitu tajam dan menghunus tepat pada kedua manik mata Daniel.


"Tidak ada. Di sana tempatnya aman. Lagi pula dokter dan perawat pasti akan sering menjenguknya." jawab Daniel dengan tenang.


"Astaga kamu benar - benar tidak mengerti. Aku takut terjadi sesuatu dengannya, Niel!" sentak Darren. Ia beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruang rawat Kiran.


Daniel menghembuskan napas pelan. "Dia semakin sensitif setelah menjadi seorang ayah." gumamnya.


Darren berjalan cepat keluar dari ruang rawat inap Kiran. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak nyaman dan teringat dengan bayi mungilnya yang masih rapuh.


"Mau kemana Darren?" tanya Oma Alex. Ia heran saat melihat Darren tampak terburu - buru.


"Mau melihat anakku, Om. Perasaanku tidak enak aku takut terjadi sesuatu dengannya."ucap Darren sedikit gelisah.


"Dia baik - baik saja. Lagi pula di sana tadi ada perawat yang berjaga. Jadi..." Om Alex tidak melanjutkan ucapanya saat Darren langsung menyelanya.


"Tapi tetap saja aku khawatir, Om. Tolong jaga Kiran dulu ya." ujar Daniel pada Om alex


Alex menghela napas pelan kemudian menganggukan kepala. Dan berkata, "Baiklah setelah itu cepatlah kembali."


Darren kembali berjalan. Ia mempercepat langkah kakinya. Sesampainya di depan ruang NICU, Darren menatap ke arah bayinya berada. Darren menghembuskan napas lega saat melihat bayinya tampak bergerak di dalam inkubator.


"Syukurlah kamu baik - baik saja, Nak. sebenarnya papah ingin melihat bagaimana wajahmu. Tapi dokter belum mengizinkan papah untuk melihatmu." gumam Darren sambil menatap putranya melalui kaca jendela.


Setelah puas memandangi bayinya dari kejauhan. Darren pun memutuskan untuk kembali ke ruang rawat inap Kiran. Darren berjalan santai sambil tersenyum lega, tanpa tahu jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada putranya.


Dan dari kejauhan, seorang pria (Ivan) tampak tersenyum penuh kepuasaan setelah melihat Darren pergi menjauh.


"Sial! untung saja para perawat bodoh itu mau di ajak kerja sama. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa melakukan hal gila itu." gumam Ivan tersenyum penuh kepuasaan.


Kira - kira apa yang sudah di lakukan oleh Ivan terhadap anak Kiran dan juga Darren?


Nantikan kisah mereka terus ya...!

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like


__ADS_2