
Tepat hari ini setelah Kiran di perbolehkan pulang. Arya memang sengaja membawanya ke rumah. Selain karena ia tidak tau harus melakukan apa, Arya juga meminta izin kepada kedua orang tuanya, agar mengizinkan Kiran tinggal untuk sementara waktu. sebab sore nanti ia harus segera kembali bekerja.
"Saya juga tidak tahu bu, saya menemukan Kiran dalam keadaan pingsan di sebuah taman. karena kasihan, saya membawanya kerumah sakit.
Mendengar ucapan dari anaknya, Lesti menggeleng pelan. ia menghembuskan napas pelan lalu kembali berbicara. " ibu tidak pernah melarang mu untuk menolong siapa pun Arya, tapi kali ini kamu sudah di luar batas! ucap Bu Lesti kesal.
" Di luar batas Apa maksudmu, Bu?" tanya Arya bingung sambil menatap ibunya.
" Ya, bagaimana kalau ada berita miring, akibat tindakan cerobohmu itu? Jangan sampai awak media membuat kita di terpa masalah, Arya! tanya Bu Lesti penuh penekanan.
" Apa ibu pikir saya sangat bodoh? sebelum saya membawa Kiran kesini. Saya sudah memastikan semuanya. jangan terlalu berlebihan seperti itu, Bu! jawab Arya
" Kamu yang berlebihan Arya! bisa - bisanya kamu membawa wanita hamil yang tidak jelas asal - usulnya ke rumah ini. kalau sampai Ayahmu tahu dia pasti sangat marah."
"Saya tidak peduli, Bu!!" ucap Arya singkat kemudian meninggalkan ibunya
*****
Sepulang dari mencari Kiran, Kini Darren sedang berada di balkon kamarnya sembari menyalakan sebatang rokok. Darren memejamkan mata sambil bersandar pada dinding. "Aku tidak pernah merasakan kehilangan yang begitu besar seperti ini rasanya begitu menyakitkan, padahal jelas - jelas aku membencinya." ucap Darren
Cukup lama Darren berada di balkon kamar. Setelah telah menghabiskan 6 batang rokok, Darren pun kembali memasuki kamar. Langkahnya terhenti ketika samar - samar ia melihat bayangan Kiran yang sedang duduk di tepi ranjang. Darren membelalakan matanya. ia merasa begitu terkejut dan bahagia, hingga tanpa sadar senyum manisnya mengembang sempurna. Namun semuanya itu hanyalah khayalan belaka. tepat ketika Darren mendekat, bayangan Kiran pun mulai lenyap seiring dengan hembusan angin yang masuk melalui pintu balkon.
"Sepertinya aku memang sudah gila karena dia." gumam Darren sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan sedikit pikirannya yang kacau.
Beberapa jam kemudian, Darren mulai terbangun. Kini tatapan Darren tertuju pada sebuah cincin bermotif emas yang sederhana yang tergeletak di atas meja. Perlahan - lahan tanpa aba - aba air mata Darren turun membasahi pipi. perasaan sesak yang sebelumnya tak pernah ia rasakan, kini mulai hadir dan mengisi relung hatinya. Darren tercekat napasnya memburu. sekelebat bayangan tentang Kiran kembali menari - nari di pikirannya.
__ADS_1
"Sial! Aku benar - benar tidak akan memaafkanmu Kiran! Aku bersumpah, Aku akan segera menemukanmu. Dimanakah kamu sayang?". ucap Darren ia mengacak rambutnya kemudian beranjak keluar kamar.
Darren menghembuskan napas panjang. ia menuju dapur untuk mengambil segelas air mineral. Langkah Darren terhenti ia terkejut melihat ibunya duduk sendirian di dapur. senyum hangat yang biasanya Helena sunggingkan kini seolah padam, Mamahnya berubah sejak Kiran pergi dan tak kunjung di temukan.
"Mah...," panggil Darren dia mencoba untuk mulai mendekati mamahnya.
"Kamu jangan bicara dulu dengan mama sebelum kamu membawa Kiran kembali ke rumah." ucap Helena tanpa melihat wajah putranya.
"Aku sudah berusaha untuk mencari keberadaan Kiran Mah! tapi aku mohon mama jangan seperti ini! mamah jangan murung hanya karena wanita itu." balas Darren sambil duduk tepat di hadapan mamahnya.
"Mah...Kiran pasti baik - baik saja. Atau mungkin saja dia sedang bersenang - senang dengan pria lain di luaran sana. Mamah jangan khawatir yah." ucap Darren dengan santai namun berbeda dengan hatinya yang mulai merasakan sesak setelah ia menyelesaikan ucappanya sendiri.
"Jaga bicaramu, memang kamu pikir Kiran wanita yang seperti apa, hmm? dia itu wanita baik - baik Darren..," ucap Helena menatap tajam kearah Darren.
Darren mengacak rambutnya dengan kasar "Kenapa mamah lebih percaya dengannya? kenapa mamah lebih memilih membela Kiran dari pada aku?". tanya Darren kesal.
"Karena Kiran hanyalah gadis lugu Darren, yang telah menjadi korban kejahatan kamu.. dan dia tidak bersalah. selama ini dia menderita tetapi tetap bertahan hanya untuk pria kejam sepertimu." jawab Helena ia sudah benar - benar kecewa dengan sikap dan juga kelakuan putranya.
Helena menggeleng kepala. dia hanya bisa menghela bernafas lelah kemudian menatap sendu kearah Darren "Kamu benar, diantara kamu dan juga Kiran tidak ada yang bersalah. Yang salah itu mamah karena tidak bisa mendidikmu dengan benar!"
Deg!
Jantung Darren seolah berhenti berdetak ketika melihat tatapan penuh kecewa dari mamahnya. Darren terluka karena baru kali ini Darren melihat kalau Helena begitu kecewa padanya.
"Kamu tahu Darren? Andai waktu bisa di putar kembali, mamah pasti akan meminta Daniel untuk menikahi Kiran. Meski jahil, tapi Daniel tau betul bagaimana memperlakukan seorang wanita dengan baik." lirih Helena. tetes demi tetes air mata semakin membasahi pipinya.
'Jangan bicara seperti itu Mah? itu sangat menyakitkan.' rasanya Darren ingin sekali meneriakkan kalimat itu di hadapan mamahnya. tapi gengsinya masih terlalu besar. Darren tidak ingin semua orang mengetahui perasaannya.
__ADS_1
"Kiran sudah tidak memiliki siapa - siapa lagi Darren, dia hidup sebatang kara. dia juga belum mengenal kota ini dengan baik. lalu bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya!"
ucap Helena. dengan suara bernada tinggi hingga suaminya Kenzo pun terbangun dan bergegas menghampirinya.
Mendengar semua penuturan Mamahnya, Darren hanya terdiam. ia menunduk dan mencengkram erat gelas yang sedari tadi dia pegang. Darren ingin marah, tapi dia tahu jika semua hal yang terjadi karena kesalahannya. Ya... dan Darren tak berhak untuk marah.
"Kiran pasti baik - baik saja, Mah? ucap Darren lirih.
"Dari mana kamu tahu kalau Kiran baik - baik saja Darren?" balas Helena penuh selidik.
Darren tidak mampu menjawab. Namun, yang jelas Darren sangat yakin kalau Kiran baik - baik saja. Kini Darren terlihat mulai begitu Kesal karena dia melihat kedatangan Kenzo yang mulai menghampirinya. Darren enggan berhadapan dengan Kenzo karena Ayahnya tidak mau membantunya untuk menemukan Kiran.
"Lain kali kamu jangan membuat mamah mu menangis Darren! Kalau sampai Ayah tahu kamu melakukan lagi. Maka tidak ada maaf untukmu." ucap ketus Darren
Darren berdehem pelan lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Dimanakah kamu sayang..? Aku berjanji Akan segera menemukan mu Kiran. Setelah itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepas kanmu." ucap Darren dalam hati.
************
Lesti sedang menunggu Kiran di ruang tamu. Tidak berselang lama Kiran berjalan sambil menunduk dan mulai mendekati Lesti.
"Siapa nama mu..?" tanya Lesti ketika Kiran tepat sudah duduk di depannya
" Ki..Kiran Bu,?" jawab Kiran pelan.
"Hmm, Saya tidak tahu apa tujuanmu mendekati anak saya, Entah hanya karena tidak sengaja atau kamu memang sudah merencanakan sesuatu.." ucap Lesti sinis.
__ADS_1
"Saya sama sekali tidak merencanakan sesuatu Bu, sungguh! saya hanya tidak sengaja bertemu dengan Mas Arya. Saya Jug.....
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote.