
Cindy menatap ke arah Bima. Ia lega karena melihat Bima masih menghembuskan nafas. Setelah itu, Cindy pun mulai memikirkan cara apapun agar Kenzo bisa kembali memaafkan dirinya dan juga Bima.
"He.. Helena pasti akan marah, kalau kamu tidak memaafkan kami. Dia wanita yang sangat baik, jadi...." ucapann Cindy terhenti. Ia meringis kesakitan karena Kenzo tiba - tiba berjongkok di depannya dan menarik rambutnya dengan kasar.
"Kamu benar, Helena memang wanita yang sangat baik.Tapi, sayangnya dia sudah muak dengan kalian semua. Dia bahkan menyuruh saya untuk melakukan ini," balas Kenzo sembari menyeringai.
Rasanya Kenzo benar - benar puas melihat Cindy dan Bima yang mulai tidak berdaya. Wajah sombongnya beberapa waktu yang lalu, kini seolah lenyap di telan ketakukan.
Cindy terdiam setelah mendengar ucapan Kenzo. Semua usahanya untuk membujuk Kenzo terasa begitu sia - sia. Cindy menangis, seluruh tubuhnya gemetar. Hidupnya pun terasa lebih hancur.
"K..kalau begitu bunuh saja kami. Bunuh kami agara kami tidak merasakan penderitaan lagi,"kata Cindy. Ia menatap penuh harap ke arah Kenzo.
"Tanpa kamu minta pun, saya akan melakukannya. Tapi, setelah saya pikir - pikir, saya akan berdosa jika melakukan itu. Jadi...." Kenzo sengaja menggantungkan ucapannya. Ia tersenyum sinis sembari memperhatikan kedua manusia yang kini sudah tidak berdaya.
"Jadi, saya pikir akan lebih bagus kalau saya mengirim kalian semua ke daerah pedalaman," sambung Kenzo.
"Sialan! Manusia kejam kamu, Ken!" Tukas Bima yang kini sudah duduk meski dengan sedikit kesusahan.
"Kejam? Sebenarnya siapa yang kejam, Bim? Saya atau kamu, hm?" tanya Kenzo ia berjongkok di depan Bima sembari memegang kedua pundaknya.
Bima tidak langsung menjawab. Ia justru membalas tatapan tajam dari kedua mata Kenzo. Perasaan takut dan juga gemetar yang sejak tadi ia rasakan, kini seiring menguap dengan rasa marah yang begitu besar.
__ADS_1
Bima marah melihat Kenzo yang terlihat begitu santai, tanpa merasa bersalah atas apa yang ia lakukan kepada Cindy. Ia juga benci karena Kenzo selalu menang darinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, dan dalam keadaan selamat, Ken. Meskipun aku mati, maka kamu juga harus mati bersamaku," kata Bima yang sukses membuat Kenzo menatap datar ke arahnya.
"Dengan seluruh luka di tubuhmu ini, memang kamu bisa membunuh saya, Bim? Bahkan, untuk bernafas saja kesulitan," balas Kenzo. Ia kembali berdiri kemudian bersedekap.
Rasanya, kini Kenzo sudah sangat malas jika harus berlama - lama menghadapi Bima. Akan tetapi, hatinya semakin ragu. Ia bimbang antara menghabisi atau membiarkan Bima dan keluarganya di penjara.
Setelah cukup lama berunding dengan rasa bimbangnya, Kenzo pun memutuskan sesuatu. Ia tidak akan menghabisi Bima, tetapi dirinya akan membuat kehidupan Bima dan keluarganya menjadi penuh penderitaan.
Sementara itu, Bima semakin merasa putus asa. Pikirannya kalut dan hatinya pun benar - benar kacau. Bima merasa begitu membenci Kenzo. Namun, di sisi lain ia tahu jika semua hal yang terjadi adalah karena ulahnya sendiri.
Bima menggeleng kuat sembari menutupi telinganya dengan tangannya. Masalah demi masalah yang akhir - akhir ini menimpanya, sukses membuat dirinya frustasi.
Bayang - bayangan buruk semakin menguasai pikirannya. Bahkan rasanya Bima merasa begitu pusing. Bima semakin depresi apalagi setelah melihat Cindy yang kini mulai tidak sadarkan diri, karena darahnya keluar terlalu banyak.
Bima menggeram marah seolah dirinya menjadi pria yang tidak berguna.
"Jadi sebelum kamu benar - benar di penjara, nikmatilah hidupmu. Bersenang - senanglah se...."
Set!
__ADS_1
Dor!
Kenzo yang bahkan belum menyelesaijan ucapannya sangat terkejut. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan mengerikan yg ada di sana.
Tepat di depan mata kepalanya sendiri, Bima dengan sengaja melakukan bunuh diri dengan cara menembak dadanya sendiri. Melihat hal tersebut Kenzo reflek langsung mendekati Bima.
"Bima.... sepertinya kamu memang sudah gila," ucap Kenzo sembari menatap Bima yang kini terkapar di lantai.
Napas Bima terengah - engah, ia menatap intens ke arah Kenzo. Senyum sinisnya terukir, meski kini nyawanya sedang berada di ujung tanduk
"Kamu tidak akan bisa membuatku menderita, Ken. Aku akan mati dan justru kamu Ken, yang akan menderita. Hahaha... aku akan menghantuimu seumur hidup," kata Bima dengan suara yang terbata - bata.
Mendengar kata - kata kesombongan dari bibir Bima, rasa iba Kenzo mendadak hilang. Ia merasa Bima tidak pantas untuk mendapatakan maaf apapun darinya.
"Kamu akan menderita, Ken. Kamu akan hidup dalam ketakutan selama seumur hidup. Kamu p... pasti akan sen..." Bima terkulai lemah. Ia bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1