
"Bagaimana rasanya, Niel? Menangis di depan umum menyenangkan, bukan?" goda Alex sembari tersenyum miring. Ia bersedekap sedangkan matanya terus tertuju pada Daniel.
Daniel berdecak marah. Kalau Alex dan yang lainnya bukan orang tua. Mungkin, saat ini juga Daniel sudah memberikan pelajaran kepada mereka. Tentu saja Daniel sangat marah ia tertipu bahkan sampai menangis di depan umum.
"Kalian sangat keterlaluan. Bagaimana kalau tadi saya terkena serangan jantung karena hal ini," tanya Daniel ia berkacak pinggang sembari menatap sinis ke arah Bara, Alex dan Bastian.
"Serangan jantung? Rumah sakit di dunia ini, masih banyak, Niel. Jadi tidak usah khawatir begitu," balas Bastian. Ia tertawa pelan lalu berjalan meninggalkan Daniel.
Daniel menghembuskan nafas panjang ia duduk di sofa ruang keluarga sambil memejamkan mata. Tadi setelah Kenzo menjelaskan semuanya, ia sangat terkejut dan tidak menyangka jika pria yang kini telah terbujur kaku adalah Bima.
"Mungkin ini jalan yang terbaik. Tapi sekarang aku menyesal karena tidak ikut Ayah menyelesaikan semuanya," gumam Daniel.
"Ah, tapi ada untungnya juga aku tidak ikut," sambung Daniel. Ia tersenyum tipis lalu bersandar di sofa.
Kini hati Daniel tengah berbunga - bunga. Rasa bahagia pun begitu besar di hatinya. Kemarin, setelah perjuangannya yang sangat panjang. Akhirnya ia kembali mendapatkan Citra.
Citra? Ya... wanita itu kini telah resmi menjadi kekasih Daniel. Awalnya Citra ragu, apalagi setelah mengetahui jika Daniel sudah memiliki Bunga. Namun, setelah melihat perjuangan Daniel yang begitu besar ia pun luluh.
__ADS_1
Tidak mudah bagi Daniel untuk meyakinkan Citra. Apalagi ia harus melawan Farhan yang notabennya selalu menemani Citra sejak kejadian kecelakaan itu. Selain itu, diam - diam Farhan juga menyukai Citra. Pria itu sangat marah saat Daniel datang dan meminta Citra untuk kembali.
Namun, lambat laun Farhan pun mulai mengerti. Ia tidak bisa memaksa Citra untuk berada di sisinya. Apalagi, Citra juga menolak ungkapan cintanya.
"Ah, aku jadi tidak sabar ingin segera menikahi Citra," gumam Daniel senyumnya semakin mengembang dan wajahnya pun terlihat sumringah.
"Ngapain kamu senyum - senyum sendiri, Niel?" tanya Mama Helena yang kebetulan saja baru datang. Ia heran melihat Daniel yang tersenyum manis padahal suasananya sedang dalam keadaan berduka.
"E...Eh Mama? Kapan Mama pulang?' tanya Daniel. Ia berdiri kemudian menyalami tangan Helena.
"Aku hanya sedang bahagian Ma. Dan aku juga tidak sedang kemana - mana. Bukankah Mama tahu sendiri kalau aku sedang sibuk? Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan?" ucap Daniel ia sengaja berbohong karena belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Helena.
"Jangan bohong, Niel! Kamu pikir Mama tidak tahu kemana kamu selama ini, hm?" Helena menatap Daniel penuh selidik.
"Kantor sedang banyak kerjaan, Mah. Oleh karena itu aku sibuk...."
"Sibuk mengejar wanita maksudmu? Dengar Daniel! Ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini. Tapi Mama benar - benar harus bicara dengan kamu." kata Helena matanya menatap penuh keseriusan ke arah Daniel.
__ADS_1
Melihat Helena yang sudah dalam mode serius, Daniel pun langsung terdiam. Kali ini ia tidak bisa berbohong lagi. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengangguk pelan.
"Jadi apa yang mau Mama bicarakan?" tanya Daniel.
"Bagaimana hubunganmu dengan Bunga semuanya baik - baik saja, bukan?"
Daniel menggeleng, hubungannya dengan Bunga sudah berakhir. Meskipun Bunga tidak terima karena Daniel memutuskannya secara sepihak, tetapi Daniel sama sekali tidak peduli. Baginya semua sudah berakhir.
"Kami sudah berakhir, Ma. Sebenarnya aku tidak cinta dengannya. Aku ha....."
Plak!
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca.Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1