Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Ancaman Dan Permintaan Ivan


__ADS_3

"Kamu pasti kalah karena Bima pasti menolong Kevin?" tebak Kenzo. Wajahnya terlihat santai. Tapi, meski begitu pancaran matanya menunjukkan sesuatu yang sulit di mengerti.


"Hm, dia menendangku saat aku ingin membunuh anak kesayangannya." jawab Darren.


"Tapi baguslah. Setidaknya kamu tidak mengotori tanganmu dengan hal - hal yang tidak perlu."


"Hm, sampai kapan ayah akan berada di negara ini?" tanya Darren.


"Entahlah. Tapi yang jelas Ayah dan Mamahmu tidak bisa berlama - lama karena Luna sedang sendirian di sana. Kamu tahu itu kan, Darren? kalau Alex sedang berada disini untuk melindungimu. Dan meninggalkan putrinya. Jadi untuk sementara Ayah dan Mamahmu yang akan menjaganya. Kalau urusan disana sudah selesai Ayah berencana mengajak Luna untuk tinggal bersama kita."


Darren mengangguk lalu terdiam. Pikirannya kembali melayang pada pembicaraan dengan Om Alex waktu itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu, Yah?" tanya Darren ia menatap Kenzo yang tengah sibuk memainkan ponsel.


"Tentu"


"Siapa itu Niko?" tanya Darren. Matanya begitu serius saat menatap raut wajah Kenzo yang tiba - tiba berubah.


Kenzo menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan ponsel di samping tubuhnya. Pancaran matanya berubah menjadi tajam.


"Dia orang jahat, Darren.Dulu dia hampir menguasai seluruh harta kekayaan keluarga Ayah. Saat ini dia sedang di penjara dan mungkin tidak akan pernah keluar." Kata Kenzo.


Darren menganggukan kepala. Sama seperti yang di ucapkan oleh Alex, cerita Kenzo pun sama.


Niko adalah adik tiri Kenzo yang jahat dan juga licik. Karena keserakahannya ia sampai menghalalkan segala cara untuk menguasai harta kekayaan keluarga Kenzo.


"Sudahlah jangan memikirkan dia lagi. Ngomong - ngomong, dimana anakmu? Aku ingin sekali melihatnya." tanya Kenzo penasaran


"Ada di ruang NICU, Yah,"


Kenzo tersenyum tipis saat melihat bayi yang kata Darren adalah cucunya. Bayi mungil yang tampak menggemaskan meski terpasang beberapa peralatan medis di tubuhnya.


"Darren, ada satu hal yang ingin Ayah katakan padamu. Dan Ayah rasa ini cukup penting," kata Kenzo


" Apa itu, Yah?"


"Berhati - hatilah dengan Bima! Sebisa mungkin jangan melakukan kontak apapun dengannya.


"Tapi...."


"Dia berbahaya Darren, Ayah takut dia akan melukaimu."

__ADS_1


"Aku tahu, tapi memangnya Om Bima berani melukaiku, Yah? Dia....."


Kenzo tersenyum miring. Dan menepuk pundak Darren pelan sambil berkata, "


Jangan bodoh! Dan satu lagi, berhati - hatilah dengan Shelvi!"


"Baiklah, aku akan berhati - hati,"


"Bagus, Jangan sampai menyesal. Kamu tahu? Di dunia ini ada banyak sekali sisi. Yang kamu lihat baik, belum tentu kalau memang dia baik."


****


Senyum Ivan tampak merekah saat bertandang kerumah Bima untuk bertemu Kevin. Wajahnya tampak berseri - seri, seolah - olah tidak ada lagi beban yang menghantui hati dan juga pikirannya.


Setelah keluar dari mobil, Ivan bergegas masuk dan mencari keberadaan Kevin. Ivan tersenyum tipis ketika melihat Kevin yang sedang duduk sendirian di sofa ruang keluarga.


"Pagi, Bos," Kata Ivan. Ia tersenyum ramah dan duduk di depan Kevin.


Kevin mengernyitkan dahi, ia bersedekap lalu menatap nyalang ke arah Ivan. Kevin tersenyum sinis, ia merasa kehadiran Ivan menganggu waktunya.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?" tanya Kevin. Ia bersedekap sambil menatap tajam kearah Ivan.


"Kabar apa? Kamu sudah melenyapkan anak, Darren?" tanya Kevin. Kini matanya mulai berbinar dan bersemangat setelah mendengar ucapan Ivan.


"Aku tidak melenyapkan anak Darren, Vin. Aku tidak tega melukai bayi yang tak berdaya itu," ujar Ivan sembari menghembuskan napas panjang.


"Bodoh! Kalau begitu keluargamu yang akan aku musnahkan, Van. Sialan! Kamu benar - benar gila," sentak Kevin sambil berdiri. Ia mengacungkan jari telunjuk tepat di hadapan Ivan.


"Santai dulu, Vin! Dengarkan penjelasan aku dulu. Aku belum selesai bicara denganmu," kata Ivan. Ia membalas tatapan tajam Kevin.


"Jadi apa maksudmu? Kenapa kamu tidak melenyapkan anak Darren?!" ucap Kevin emosi.


"Aku memang tidak melenyapkannya, Bos? Tapi apa kamu tahu? Aku sudah memisahkan dia dari keluarganya," jawab Ivan. Dia tertawa sembari menatap bangga ke arah Kevin.


"Memisahkan dia bagaimana maksudmu? cepat katakan, Van! Jangan bertele - tele seperti itu" Kata Kevin. Ia menggeram marah karena Ivan terlihat begitu santai.


"Sabar dong, Vin! Kita bicara santai saja lah dulu. Jangan terburu - buru begitu!" Kata Ivan. Setelah itu, Ia pun berbaring di sofa panjang tanpa mempedulikan Kevin yang semakin emosi.


"Brengsek! Pergi dari sini kalau kamu hanya ingin tidur, Van!" tukas Kevin. ia berkacak pinggang, tatapan matanya begitu tajam menghunus pada Ivan.


Ivan menghembuskan napas panjang. Akhirnya ia kembali duduk mengahadap Kevin. Raut wajahnya terlihat begitu serius. Bahkan, kini tidak ada lagi senyum tipis yang tersungging di bibir Ivan.

__ADS_1


"Kamu ini tidak sabaran sekali, Vin. Ngomong - ngomong di mana Shelvi? Bukankah setiap harinya dia selalu menginap disini, Kan?" tanya Ivan. ia terkekeh sembari bersedekap dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Haha, Kenapa kamu gugup begitu, Vin? Tenang saja aku tidak akan memberitahu Vanesha?" sambung Ivan.


"Hm, jadi? Apa yang sudah kamu lakukan? Cepat katakan sebelum aku retakkan tulang kakimu," sentak Kevin. Matanya berkilat sinis. dan tangannya pun mulai mengepal.


Ivan diam dan membalas tatapan Kevin. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya berkata, " Aku akan memberitahumu, tapi dengan satu syarat."


"Syarat apalagi, Van? Bukankah kemarin aku sudah mentransfer uang untukmu?"


"Bukan itu yang aku maksud, Vin." Ivan menyeringai, sebuah ide tiba - tiba tercetus di otaknya.


"Lalu?"


"Berikan Shelvi untukku! Ya, Maksudku biarkan aku mencicipi tubuhnya." kata Ivan dengan senyum nakal yang begitu memuakkan.


Kevin bergidik ngeri, Ia menggeram tertahan lalu beranjak dan mendekati Ivan. Dengan cepat Ivan mencengkram kuat baju yang di pakai oleh Ivan.


"Jangan gila, Van! Shelvi bukanlah barang yang bisa seenaknya kamu pakai. Sialan! Dia hanya milikku!" Kata Kevin penuh penekanan.


"Kalau begitu aku tidak akan memberitahumu. Dan satu lagi, aku juga akan memberitahukan kepada Vanesha, kalau kamu menjalin hubungan terlarang dengan Shelvi.


Mendengar ucapan Ivan. Alih - alih takut Kevin justru tertawa keras. "Kamu pikir Vanesha akan percaya dengan ucapanmu, Van? Dia sangat percaya padaku?" ucap Kevin.


"Oh ya? Bagaimana kalau ternyata aku sudah merekam pembicaraan kita ini, hm. Kamu yakin Vanesha akan tetap percaya padamu?"


"Bajingan Kamu, Van! Berani sekali kamu mengancamku!"


"Aku tidak mengancammu, Vin. Aku hanya ingin memberikan penawaran yang menarik," balas Ivan.


"Sialan! Oke, kamu boleh bersama Shelvi dan memakainya sepuasmu! Tapi ingat, jangan sampai kamu melukainya."


"Tenang saja, aku tidak akan mungkin melukai wanita secantik Shelvi."


"Hm, sekarang katakan! Apa yang sudah kamu lakukan di rumah sakit waktu itu, hm?"


Ivan tersenyum miring lalu berkata, "Kamu tidak perlu tahu. Tapi yang jelas Darren dan istrinya tidak akan sadar jika mereka telah kehilangan bayi mungil itu."


Terima kasih sudah membaca.


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2