
Kiran senang melihat keluarga Darren dan keluarganya tampak akur. Tapi di sisi lain, ia merasa ada sesuatu yang kosong. Ya...., Kiran merasa kurang lengkap karena tidak ada Larasati dan juga Bagas.
"Bu, aku harap kamu tenang di alam sana," lirih Kiran sembari menundukkan kepalanya.
"Ibumu pasti senang melihatmu, mau memaafkan Ayah kamu, Ran. Dan aku juga bangga, memiliki istri yang begitu baik sepertimu," ujar Darren yang kini sudah duduk di samping Kiran. Darren tersenyum manis kemudian merengkuh pinggang Kiran dengan mesra.
Kiran mengangguk pelan, lalu berkata, "Maaf, karena tadi aku tidak bisa mengendalikan diri, Mas. Aku bahkan sudah berbicara keras di hadapanmu. Aku minta maaf ya?" Kiran tersenyum sendu sembari menatap Darren.
"Tidak apa - apa aku mengerti. Tapi lain kali jangan seperti itu lagi. Aku takut sayang," balas Darren. Ia mengecup lembut pipi Kiran.
"Ya, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Terima kasih banyak, Mas. Kamu sudah menyadarkanku untuk memaafkan," balas Kiran. Ia memeluk lengan Darren kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Darren.
"Sama - sama, Sayang."
Darren dan Kiran saling berpandangan kemudian tersenyum. Kini semuanya berakhir dengan sebagaimana mestinya.
Darren mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut rambut Kiran. Kedua bermesraan tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang kini mengarah ke arah mereka.
"Mentang - mentang udah nikah, seenaknya saja kalian bermesraan begitu," ujar Daniel yang baru saja bergabung ke ruang tamu. Wajahnya tampak lelah karena sedari tadi ia bertugas mengatur para tamu.
"Kamu iri, Niel. Makanya nikah. Eh, iya pacarmu kan sudah punya calon suami ya?" ledek Arya sambil tersenyum miring. Rasanya ia begitu puas saat meledek Daniel yang tidak mudah marah seperti Darren.
"Sialan! Kamu sendiri juga jones, Arya. jadi stop mencari gara - gara denganku!" Sentak Daniel. Ia berdiri sambil memeluk Helena dari samping.
"Jangan bercanda, Arya! Siapa calon istrimu?" kali ini Pandulah yang bertanya. Ia terkejut saat mendengar ucapan Arya.
"Tentu saja Luna. Bukankah Ayah dulu menyuruh saya untuk mendekati keponakan dari Kenzo Wijaya"
"Apa?!" Alex dan Kenzo membelalakan matanya. Aura emosi perlahan - lahan mulai muncul, sehingga membuat Pandu dan juga Arya terdiam seketika.
"Itu dulu, Arya. Saat ini, Ayah tidak ingin mengatur hidupmu lagi. Terserah kamu mau melakukan apa saja," kata Pandu.
"Tapi saya sudah terlanjur suka dengan Luna, Yah. Dan saya tidak akan menyerah," ucap Arya dengan penuh kesungguhan. Namun, setelahnya ia terkekeh sembari duduk di sofa.
__ADS_1
"Jangan pernah macam - macam dengan anak saya! Sial! Sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan Luna untuk menikah denganmu!" Balas Alex dengan suara yang begitu tegas.
"Tapi bagaimana kalau Luna sendiri yang jatuh cinta dengan saya? Apa Om yakin akan melarang saya untuk menikahinya?" tantang Arya. Wajahnya terlihat santai berbeda sekali dengan Alex.
"Kau cih! Anak muda zaman sekarang memang tidak punya sopan santun. Kamu tidak bisa menikahi Luna tanpa izin dari saya. Lagi pula, saya yakin Luna tidak mungkin suka dengan pria sepertimu.
"Apa Om yakin? Kalau begitu mari kita buktikan. Kalau saya berhasil membuat Luna jatuh cinta, maka Om harus merestuinya,"
"Kamu mengancam saya? Heh! Kamu pikir anak saya barang taruhan?" ujar Alex. Rasanya ia begitu geram melihat wajah tengil Arya.
"Saya tidak bicara seperti itu. Bagi saya Luna sangat penting, jadi mana mungkin saya menganggapnya sebagai barang taruhan," balas Arya sambil tersenyum aneh saat beradu pandang dengan Alex.
Sementara itu, Daniel mendadak mual setelah mendengar ucapan dari Arya. Bahkan ia juga membuat pose seolah - olah sedang muntah.
"Menjijikan sekali ucapannya," gumam Daniel pelan. Ia bergidik ngeri saat membayangkan Luna sepupunya yang imut dan cantik itu harus menikah dengan Arya.
"Baik, tapi kalau sampai Luna tidak mencintaimu. Maka kamu harus menjauhinya!" Ujar Alex final.
Darren dan Daniel membelalakan matanya. Keduanya menyayangkan keputusan Alex yang begitu cepat. Namun, apa salahnya jika Arya menjadi bagian dari keluarga Wijaya?
'Lumayan sopir pribadi gratis,' batin Darren. Ia menyeringai sembari menatap ke arah Arya yang begitu percaya diri.
Sementara Kenzo? ia menepuk keningnya. Ia mendadak menyesal melihat kebodohan Kakak iparnya itu telah menyuruh Arya untuk menikahi keponakannya itu.
"Astaga, Arya benar - benar mengerikan," kata Pandu sembari menatap ke arah Lesti.
"Dia memang seperti itu, Mas. Ya, kita berdoa sajalah. Semoga tidak ada kejadian buruk yang menimpa keluarga kita lagi." balas Lesti.
"Ya kamu benar. Ah, kamu tahu, Les? Aku sangat bahagia bisa merasakan hal yang seperti ini. Sekarang semuanya baik - baik saja dan sekarang kita memiliki dua anak."
"Ah, aku juga bahagia sekali, Mas. Ah, aku menyesal karena selama ini tidak pernah memperhatikan Arya. Dan sekarang dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan."
"Ayo kita perbaiki semuanya. Kita bangun keluarga yang bahagia!" Ucap Pandu sambil merengkuh pinggang Lesti. Lesti mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada pundak Pandu.
__ADS_1
Senyum serta canda tawa menguar di ruang tamu. Semuanya tampak berbahagia dan tanpa beban. Begitu juga dengan Kiran. Sekarang keluarganya sudah utuh dan saling menyayangi.
"Terima kasih untuk hadiah yang begitu indah ini, Tuhan. Maaf jika selama ini aku masih sering mengeluh," gumam Kiran dengan rasa penuh syukur.
***
Beberapa jam yang lalu, acara atas syukuran Arka telah selesai. Meski sedikit tertunda akhirnya berakhir sesuai rencana.
Kini, malam pun semakin larut. Di dalam sebuah kamar, Kiran dan Darren tampak duduk bersama. Keduanya saling berpandangan sembari menatap ke arah box bayi.
"Hari ini sangat luar biasa ya, Mas." ujar Kiran sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Darren.
"Kamu benar, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil."
"Iya dan sekarang aku lega karena tidak lagi memendam kebencian,"
"Hm, aku bangga sama kamu. Aku bangga memiliki istri yang baik hati seperti kamu," ujar Darren sembari menangkup kedua pipi Kiran.
Kiran tersipu malu. Pipinya bersemu merah karena saat ini jarak dirinya dan juga Darren begitu dekat.
Jantung Kiran berdegup kencang saat jemari Darren menyentuh bibirnya. Ia gugup apalagi sudah cukup lama ia dan Darren tidak bermesraan dengan cukup intim sebelumnya.
"Ran...."
"Y.. Ya? Kamu butuh sesuatu, Mas?"
"Aku butuh kamu, Ran." bisik Darren semakin parau karena luapan rasa yang semakin membuncah di hatinya.
"T... Tapi, Mas....."
"Boleh aku melakukannya sekarang, kan?" tanya Darren matanya begitu lekat memandangi setiap inci wajah Kiran.
Melihat Darren yang begitu berharap akhirnya, Kiran pun menganggukan kepala. Lagi pula... diam - diam ia juga merindukan sentuhan lembut, Darren.
__ADS_1
"I Love You," ucap Darren sebelum ia mulai berbuka 'puasa'.
Jangan lupa like, komen dan vote.