Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Suasana Rumah


__ADS_3

"What?! sejak kapan kamu menikah? Atau jangan - jangan gosip yang beredar itu memang fakta, Darren? Bahwa kamu menikahi pembantumu sendiri?" tanya Danu. Matanya menatap tidak percaya ke arah Darren.


"Hm, Kenapa? Masalah buatmu?" tanya Darren.


"Tidak, Hanya saja aku terkejut. Tapi aku benar - benar berharap padamu, Darren".


"Beri aku waktu untuk berpikir sekarang pergilah!" kata Darren sambil meneliti dokumennya kembali.


Setelah kepergian Danu, Darren termenung. ia memejamkan sembari menumpukkan dagunya pada tangan.


"Vanesha ya? Ah, sebaiknya aku bicarakan dengan Kiran setelah ini," ujar Darren. Darren tersenyum manis ketika membayangkan reaksi Kiran. Namun, tidak lama kemudian senyumnya luntur.


"Ah, Aku lupa sekarang Kiran sudah tidak peduli lagi denganku."


****


Hari sudah mulai beranjak malam. Namun, Suasana rumah Kenzo terasa begitu sepi. Tidak ada suara canda tawa yang biasanya selalu terdengar. Ruang keluarga yang biasanya ramai, kini sunyi dan hampa.


Makan malam yang biasanya bersama - sama, Kini hanya Kiran seorang. ia duduk sendirian sembari menatap berbagai hidangan yang telah tersaji di atas meja. Kiran menghembuskan napas pelan sembari menatap jam dinding.


"Sudah malam begini kenapa mereka belum pulang?" gumam Kiran. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menunda makan malamnya. ia merasa kurang jika harus makan sendirian.


Kiran berjalan menuju dapur dan menghampiri Bi Sumi, Asisten Rumah Tangga yang baru. " Bi, Tolong makanannya di simpan dulu ya. Nanti kalau Mas Daniel dan Mas Darren pulang di angetin lagi." kata Kiran.


"Loh kamu tidak makan, Ran? Nanti kamu sakit loh kalau nunda makan," ujar Bi Sumi sambil menatap khawatir ke arah Kiran.


"Enggak kok, Bi. Aku baik - baik saja. Ya sudah aku mau ke kamar dulu." ucap Kiran ia tersenyum manis lalu berjalan meninggalkan dapur.


Saat berjalan melewati kamar tamu, Kiran melihat Shelvi yang sedang bersandar di ambang pintu. Tatapan Shelvi begitu tajam dan intens ke arahnya. Kiran yang merasa tidak nyaman pun memilih berpura - pura tidak melihatnya.


"Heh kamu! Kesini sebentar!" perintah Shelvi. Suaranya terdengar begitu sinis sehingga membuat Kiran merasa sedikit terkejut. Pasalnya, Ketika sedang di hadapan Darren, suara Shelvi begitu lembut dan pelan.


"Ada perlu apa?!" tanya Kiran sembari menatap Shelvi.


"Darren kemana? Kenapa dia belum pulang?" Shelvi bersedekap, tatapannya semakin tajam mengarah pada Kiran.

__ADS_1


"Apa pantas kamu bertanya seperti itu, padaku?" Kiran bertanya balik. ia mendelik tajam pada Shelvi.


"Tentu saja. Karena kamu, kan tidak becus menjadi seorang istri. Suami belum pulang kok malah santai - santai," tukas Shelvi sambil tersenyum sinis.


Kiran menghela napas lelah. ia menggeleng perlahan kemudian memilih meninggalkan Shelvi. Karena jika berbicara dengan Shelvi hanya akan membuat perasaannya semakin tidak menentu.


"Aku belum selesai bicara! Jangan pergi kamu!" kata Shelvi dengan suara yang meninggi. Namun Kiran sama sekali tidak peduli dan terus melenggang menuju kamar."


Sesampainya di kamar, Kiran terduduk di tepi ranjang. ia menatap sekeliling ruangan yang terasa sepi dan hampa. Berkali - kali Kiran menghembuskan napas pelan. Berharap rasa sesak di dadanya akan berkurang.


Lelah memikirkan Darren yang tak kunjung kembali, Akhirnya Kiran memutuskan untuk tidur. ia berbaring lalu memejamkan matanya.


Sementara saat ini, Darren masih berkutat dengan kumpulan dokumen. Darren terlalu fokus hingga tanpa sadar ia melupakan waktu makan malamnya.


Fokus Darren pecah ketika ponselnya berdering. Darren memijat pangkal hidungnya sejenak kemudian mengambil ponsel di atas meja. Darren mengernyitkan dahi ketika melihat nama Daniel terpampang nyata di layar ponsel.


"Ada apa?" tanya Darren. Suaranya terdengar datar dan tidak bersahabat dengan Daniel. Tentu saja Darren masih cemburu dengan adiknya tersebut.


"Hari ini aku tidak bisa pulang, Kak Darren. Aku sedang berada di luar kota."


"Lalu? Apa urusannya denganku?" tanya Darren lagi.


"Di kantor. Aku sedang sibuk dan kamu malah mengangguku," ketus Darren. ia hampir saja mematikan sambungan telepon jika Daniel tidak menghentikannya.


"Kak Darren kamu gila? Ini sudah jam sembilan malam. Dan Kamu membiarkan Kiran sendirian di rumah?" ucap Daniel nada suaranya terdengar kesal.


"Kiran di rumah tidak sendirian, ada banyak o......." ucapan Darren terhenti ketika daniel menyelanya.


"Bodoh! Jangan membuat Kiran sendirian dengan Shelvi! Cepat pulang, Kak Darren!" ucap Daniel dengan nada suara yang meninggi


"Apa masalahnya? Apa menurutmu, mereka akan bertengkar hebat, Niel? Sudahlah aku sibuk."


Tut.


Darren langsung mematikan sambungan teleponnya. ia mendengkus kesal kemudian meyugar rambutnya ke belakang. Darren memejamkan mata lalu berkata, "Shelvi tidak mungkin berbuat buruk, kan?"

__ADS_1


Namun karena merasa khawatir dengan keadaan Kiran. Akhirnya Darren memutuskan pulang. ia membawa dokumen yang belum di kerjakan pulang ke rumah.


Tubuh Darren terasa begitu lelah. Pungungnya mulai terasa pegal karena sejak tadi ia hanya duduk dan bekerja. Bahkan, Darren sampai melupakkan jam makan siang dan juga malamnya.


Sesampainya di parkiran mobil khusus untuknya. Darren mendesah kecewa karena tiba - tiba hujan turun dengan derasnya, "Persetan dengan hujan, aku harus tetap pulang," gumam Darren.


Darren memasuki mobil. Tatapan matanya tertuju pada foto Kiran yang berada di dashboard mobil. Darren tersenyum tipis.


"Apa dia sudah makan? Atau jangan - jangan masih menungguku?" gumam Darren.


Butuh waktu yang cukup lama bagi Darren untuk sampai di rumah. Selain karena hujan, ia juga tidak bisa mengebut lantaran jalanya licin.


"Den Darren, sudah pulang?" tanya bi Sumi. Ketika melihat Darren sedang duduk di ruang tamu.


"Ya. Kenapa sepi sekali, Bi? Dimana Kiran?" tanya Darren.


"Loh ini kan sudah malam, Den. Kiran tadi ke kamar, Dia belum makan malan, Den," ujar Bi Sumi.


"Kenapa Bibi tidak menyuruhnya untuk makan?" tanya Darren. ia beranjak berdiri dan menatap ke arah asisten rumah tangganya tersebut.


"Katanya Kiran menunggu Den Darren pulang. Tapi mungkin sekarang dia sudah tidur," kata Bi Sumi.


Darren menyugar rambutnya ke belakang. Ada rasa berbunga - bunga ketika mendengar Kiran menunggunya.


"Ya sudah, Bibi buatkan makanan untuk Kiran ya. Aku mau membuatkan susu untuknya," ujar Darren. Ia berjalan menuju dapur, lalu di susul oleh Bi Sumi.


Darren membuatkan susu ibu hamil rasa coklat. Ia meringis pelan ketika merasakan punggungnya pegal.


"Den Darren, istirahat saja sana. Biar Bibi yang buatkan," kata Bi Sumi yang hampir merebut gelas di tangan Darren.


"Tidak apa - apa, Bi. Lagi pula Kiran tidak mau meminumnya kalau bukan aku yang membuat." ujar Darren.


Selesai membuat susu untuk Kiran, Darren pun bergegas menuju kamar.


Sesampainya di kamar, ia tersenyum tipis ketika melihat Kiran tampak terlelap dengan posisi terlentang. Darren meletakkan susu gelas ke atas nakas. Setelahnya ia duduk di samping Kiran Tangan Darren terangkat hendak membangunkannya. Namun, hatinya mendadak ragu. Darren takut istrinya akan marah dan semakin membencinya.

__ADS_1


Namun, Akhirnya Darren tetap membangunkan Kiran. Ia mengusp bahu Kiran lembut. " Ran, bangun!" kata Darren.


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2