
"Kamu masih memikirkan Citra, Niel?"
"Bohong kalau aku berkata tidak, Ka Darren. Tapi aku juga tidak mungkin menikah dengannya.Ya, meskipun aku ingin sekali melakukan hal itu." ujar Daniel gusar.
"Kalau kamu ingin, kenapa tidak di lakukan? Aku yakin Ayah sama Mama pasti akan setuju. Ya, meskipun agak sulit sih," ujar Darren sembari menatap serius ke arah Daniel.
"Masalahnya bukan di situ. Aku sudah terlanjur berjanji untuk menikahi Bunga. Dan dia adalah gadis yang baik. Aku tidak mungkin menyakiti hatinya." jawab Daniel.
Darren tersenyum tipis lalu menepuk pundak Daniel. Ia merasa bangga karena Daniel begitu dewasa dalam bertindak. Darren juga sangat bangga karena Daniel adiknya selalu menepati janjinya.
"Kalau begitu, Aku punya ide bagus,Niel?" ujar Darren sambil terkekeh pelan. Ia menatap Daniel sembari menaik turunkan alisnya.
Daniel berdecak kesal iya yakin Darren akan memberikan ide yang aneh kepadanya.
"Apa?" ujar Daniel dengan penuh curiga.
"Kenapa tidak kau nikahi saja mereka berdua? Lumayan, kan. Kamu langsung dapat Istri dua." ujar Darren. Tentu saja ia hanya bergurau untuk mencairkan suasana.
"Brengsek!" Umpatnya kesal pada Kakaknya itu.
Darren tertawa tetapi setelahnya ia mengacak rambut Daniel.
"Aku bangga kepadamu? Sebagai lelaki sejati kamu memang harus menepati janji." ujar Darren pada Daniel.
"Hm, ngomong - ngomong Kak Darren, bagaimana kabar tentang Kevin? Apa di...." ucapan Daniel terputus karena mendengar suara dering ponsel dari Darren.
"Sebentar, Niel. Om Bastian menelepon, sepertinya ada hal yang penting yang ingin ia bicarakan," ujar Darren sembari menatap ke arah layar ponselnya.
"Baiklah..."
Darren menempelkan ponsel pada telinganya.
"Halo, Om. Ada apa?" tanya Darren to the point.
"Kamu sedang ada dimana, Darren?" tanya Bastian dari sebrang telepon.
"Aku di rumah. Ada masalah apa, Om?" tanya Darren.
__ADS_1
"Cindy sedang berada di Rumah Sakit dia tertembak oleh Bima?"
"Apa? Kok bisa? Memangnya apa yang sudah terjadi, om?" tanya Darren beruntun. Ia benar - benar terkejut setelah mendengar ucapan dari Bastian
"Ceritanya sangat panjang, Darren. Yang pasti Bima sudah berulah dia hampir saja mencelakai aku dan Alex." ujar Bastian pada Darren.
Darren menghembuskan napas pelan setelah itu ia pun memijat pelipisnya. Jujur, Darren sangat marah dengan kelakuan Bima.
"Lalu, bagaimana keadaan dia sekarang, om?"
"Cindy, masih di periksa oleh dokter. Tapi kalau Bima, dia sedang bermain bersama dengan Alex." ujar Bastian.
Darren mengangguk meski tidak mungkin Bastian melihatnya. Ia mengepalkan tangannya. Saat perasaan marah mulai muncul di hatinya.
"Om, boleh minta tolong, Darren?" tanya Bastian setelah beberapa saat ia dan Darren hanya terdiam.
"Tentu saja, Om. Apa yang bisa aku lakukan?" jawab Darren.
"Datanglah ke Rumah sakit. Kamu awasi Cindy agar dia tidak berbuat macam - macam," pinta Bastian dengan suara yang begitu serius.
"Iya, tapi Om harus menemenui Alex. Kamu tahu sendiri, bukan? Karena Alex tidak akan bisa di kendalikan saat marah. Om takut dia bisa menghabisi Bima"terang Bsstian.
"Oke baiklah, nanti aku dan Daniel akan segera kesana?" balas Darren.
"Bagus. Ya sudah Om tuggu sekarang!" Jawab Bastian kemudian memutus sambungan teleponnya.
Tut.
Sambungan telepon terputus dan Darren menghela napas panjang kemudian menatap ke arah Daniel.
"Kita kerumah sakit sekarang, Niel!" ucap Darren tiba - tiba.
"Mau apa? Siapa yang sakit, Kak Darren?" tanya Daniel heran.
"Tante Cindy. Dia tertembak saat sedang melindungi Om Bima. Kata Om Bastian kita harus mengawasi dia." ujar Darren.
Daniel mengangguk paham. Setelah itu keduanya lantas bersiap menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit yang sudah di beritahukan oleh Bastian mereka berdua pun langsung menghampiri Bastian.
"Om," Panggil Darren tepat setelah ia berada di depan Bastian.
"Ah, akhirnya kamu sampai juga, Darren," kata Bastian sambil ia berdiri dari duduknya. Bastian menatap Darren dan Daniel bergantian. Setelah itu ia pun menghela napas pelan.
"Jadi, sebenarnya ada apa, Om. Mengapa kita harus mengawasi Tante Cindy?" tanya Daniel.
"Kalau kita tidak mengawasi bagaimana jadinya kalau dia menghubungi seseorang?" tanya Bastian.
Mendengar hal itu, Daniel pun mengangguk ia mengerti apa yang di maksud dengan oleh Bastian.
"Tapi sampai kapan, kita harus menunggu disini, Om?" ujar Darren.
"Entahlah..., tapi yang jelas jangan biarkan Cindy melakukan apapun. Dia memang wanita, tapi hatinya sangat licik."
"Benar, wanita itu memang sangat licik dan jahat," balas Darren.
Ketiganya berbincang mengenai Cindy dan banyak hal yang lainnya. Hingga kemudian, Bastian menatap serius ke arah Darren. Tatapan matanya seolah menyiratkan sebuah hal yang cukup besar.
"Darren, boleh Om bertanya sesuatu padamu?" tanya Bastian serius.
"Boleh, apa itu, Om?"
"Jika waktunya tiba siapkah kamu melawan Bima?" tanya Bastian.
"Maksud, Om? Tapi selama ini aku memang sudah sering melawan Om Bima, jadi aku sudah siap,"
"Kalau begitu, siapkah kamu menghambisinya?"
Deg.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1