Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Hanya Bersandiwara


__ADS_3

"Kiran!" Panggil Arya. Ia mendekati Kiran berniat ingin menenangkan adiknya itu. Namun, Kiran justru menjauhinya.


"Jangan mendekat kalian semua sudah berbohong padaku.Dia tidak mungkin pergi," ujar Kiran. Tatapan matanya begitu sendu dan tampak kosong.


Daniel, Helena atau pun Kenzo tidak ada yang berani angkat bicara. Ketiganya hanya duduk sembari menatap Kiran yang sedang menangis histeris dan kacau.


"Zivanna Kirannia!" Arya menaikan suaranya. Ia berharap adiknya itu bisa tenang dan berpikir jernih.


Kiran menggelengkan kepalanya kuat - kuat. Ia mendekati ruang rawat inap Darren lalu membuka pintunya dengan kasar. Setelah itu, ia pun berjalan gontai mendekati ranjang rumah sakit tempat Darren berbaring.


Tatapan mata Kiran begitu sayu. Napasnya memburu saat melihat Darren memejamkan mata. Selain itu peralatan medis pun sudah terlepas dari seluruh tubuhnya.


"Mas! Kamu tidak boleh meninggalkan aku!" Ujar Devan sambil mengguncangkan tubuh Darren. Tangisnya semakin menjadi - jadi karena perasaan hampa yang tiba - tiba merasuki hatinya.


"Kamu selalu bilang akan selalu ada untukku. Kamu juga berjanji akan terus melindungiku. Tapi kenapa kamu berbohong, Mas?! Kenapa kamu mengikari janji?


Kiran terduduk lemas di atas kursi. Di pandanginya wajah suaminya itu yang terlihat begitu damai. Wajah Darren begitu tenang dan damai.Seolah - olah, kini tidak ada lagi beban yang ia tanggung.


"Demi Tuhan, Mas! Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Aku tidak rela kamu meninggalkan aku. I... Ini sangat menyakitkan, Mas"lirih Kiran yang mulai putus asa.


Kiran menggenggam tangan Darren. Kiran mengernyitkan dahi dan sontak menghentikkan tangisannya ketika merasakan tangan Darren yang hangat.


"Kamu hanya membohingiku kan, Mas? Tanganmu masih hangat. Aku yakin kamu belum pergi," ujar Kiran sembari menangkup kedua pipi Darren.


Namun, Darren sama sekali tidak memberikan respon. Tubuhnya memang seolah sudah tidak bernyawa.


Kiran menunduk tubuhnya benar - benar gemetar merasakan sakit yang begitu terasa di hatinya. Kiran mengecup tangan Darren dengan begitu lembut dan menatap wajah Darren.


Bibir Kiran bergetar karena menangis. " Kamu tahu, Mas ini sudah lebih dari lima bulan setelah Arka lahir. Aku tidak pernah membayangkan kita akan berpisah secepat ini,"


"Aku sangat merindukanmu, Mas. Aku sangat ingin melihatmu lagi," lirih Kiran.


Kiran terdiam beberapa saat ia memejamkan mata lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Mas... kamu yakin tidak mau bangun? P....Padahal aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Aku menyimpannya sendirian dan berharap bisa mengatakannya pertama kali hanya padamu,"


Kiran menarik napas panjang kemudian ia pun menghembuskannya perlahan.


"Mas..... a...aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. T... Tapi aku hamil lagi, Mas."


Kiran menundukkan kepala setelah mengatakan sesuatu yang selama ini dia telah rahasiakan. Ia sengaja tidak mengatakan kepada siapapun karena ingin memberikan kejutan untuk Darren.


Beberapa hari lalu, tepatnya ketika Kiran pingsan setelah berhasil di selamatkan oleh Darren dari penculikkan. Kiran dinyatakan positif hamil oleh dokter. Awalnya Kiran pun tidak menyangka. Bahkan ia juga sempat tidak percaya dengan ucapan dokter.


Namun, setelah dokter menjelaskan beberapa hal, barulah Kiran mengerti dan percaya. Memang saat Arka berumur empat bulan, ia merasakan beberapa perubahan. Akan tetapi Kiran tidak pernah mengira jika dirinya akan hamil secepatnya ini.


Menurut penjelasan dari Dokter, Kiran hamil karena ia dan Darren tidak menggunakan pengaman atau pun menggunakan alat kontrasepsi yang lainnya. Selain itu, Kiran juga tidak terlalu sering memberikan ASI pada Arka karena produksi ASI nya tidak terlalu banyak. Oleh karena itu, Kiran memberikan susu formula untuk Arka.


Tentu saja Kiran sangat senang, tetapi ia juga khawatir dengan kesehatan janin yang ia kandung. Terlebih lagi, beberapa hari ini ia tidak menjaga kesehatannya dengan baik. Apalagi usia kandungannya baru menginjak angka Lima minggu.


Selain khawatir dengan kesehatan si janin, Kiran juga sangat takut jika kelak anak keduanya itu tidak bisa melihat Darren. Dan kini, ketakutan itu semakin nyata.


"Mas...., aku hamil kamu tidak mau melihat anak kedua kita?" tanya Kiran.


Air mata Kiran semakin banyak membasahi pipinya, Bahkan kini penampilannya semakin tak karuan. Rambutnya kusut dan matanya sembab.


Kiran lelah, rasanya begitu putus asa saat melihat wajah Darren yang pucat. Di sisa - sisa rasa putus asanya, Kiran menggenggam erat tangan Darren. Ia menatap penuh hampa kepada wajah Darren.


"A.. Aku sangat mencintaimu, Mas. T... Tapi kalau kamu tidak bangun, mungkin aku akan mencari pengganti," ujar Kiran Tentu saja ia berbohong.


"Jangan coba - coba melakukan hal itu, Ran!"


"Eh," Kiran mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Darren tampak membuka mata dan baik - baik saja.


"Jangan pernah memikirkan untuk mencari penggantiku, Ran! Astaga...., kamu benar - benar membuatku tidak tahan untuk bersandiwara." ujar Darren sembari menatap datar ke arah Kiran.


Kiran terdiam, tangannya gemetar. Matanya kembali berkaca - kaca dan bahkan kini napasnya mulai tersengal. Kiran beranjak dari duduknya kemudian memeluk Darren dengan erat.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku, Mas! Jangan pergi, kumohon tetaplah di sampingku!" Bisik Kiran tepat di samping telinga Darren.Suaranya terdengar begitu pilu, sehingga membuat Darren pun ikut merasa sedih.


Darren menghembuskan napas pelan. Setelahnya ia pun membalas pelukan Kiran. Darren tersenyum tipis dan mengecup pelan pelipis Kiran.


"Maaf sudah membuatmu khawatir sekarang aku baik - baik saja, jangan menangis!" Balas Darren tak kalah lirih.


"Kamu membuatku hampir mati, Mas. Aku benar - benar mengkhawatirkan kamu." ujar Kiran ia melepaskan pelukannya kemudian menatap lekat wajah Darren


"Maaf Sayang, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Kamu tahu? Tadi hanya sandiwara saja," kata Darren. Ia tersenyum tipis sembari menggenggam tangan Kiran.


Kiran membelalakan matanya setelah mendengar ucapan Darren. Ia tidak menyangka jika Darren akan berpura - pura mati.


"Sandiwara ? Untuk apa?"


"Seharusnya aku ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi ternyata justru aku yang terkejut setelah mendengar pengakuanmu," jawab Darren.


"Jahat!" Rancau Kiran. Ia mengusap air matanya dengan kasar kemudian kembali memeluk Darren.


"Hm, ini semua rencana Daniel, Ran. Sebenarnya aku sudah sadar dua hari yang lalu. Rencanya hari ini aku ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi ternyata Daniel memiliki rencana yang cukup menarik," kata Darren sambil terkekeh pelan.


"Ini semua tidak menarik, Mas. Kamu sudah sadar dua hari yang lalu, tapi kamu tidak memberitahuku? Kamu itu sungguh keterlaluan!"


Darren tertawa pelan mendengar gerutuan Kiran. Ia memgecup bibir Kiran singkat kemudian melepaskan pelukannya.


"Aku hanya ingin memberikan hadiah ualng tahu yang berkesan untukmu. Dan aku benar, bukan? Kamu pasti sangat berkesan dengan kejutan ini."


"Ulang tahun? Ah, aku sampai melupakan kalau hari ini aku berulang tahun. Ah, ngomong - ngomong apa Daniel marah karena bagian dari sandiwara, Mas?"


Darren menggeleng dan berkata, "Bukan, dia benar - benar kecewa karena ucapan kamu tadi. Dan jujur aku pun juga merasa sedikit kecewa dengan ucapanmu tadi."


Bersambung...


Jangan lupa untul selalu like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2