Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Mengabaikan Darren


__ADS_3

Di kamar Kiran dan Darren


Malam semakin larut tetapi Kiran tak kunjung tertidur. Meski sudah memejamkan mata tetapi Kiran tidak bisa terlelap dengan nyenyak. Sementara itu, Darren justru tidur dengan nyenyak di sampingnya.


"Hanya melihat wajahnya pun hatiku rasanya begitu sakit sekali," gumam Kiran. Lagi - lagi air matanya menetes ketika ia memandangi wajah Darren.


Kiran menghembuskan napas panjang. Karena merasa lelah, Akhirnya Kiran memutuskan untuk pergi dari kamar. ia merasa tidak sanggup jika harus berlama - lama di dekat Darren.


Kiran mengambil selimut dan juga beberapa bantal. Setelahnya, ia pun pergi menyisakan Darren yang diam - diam menatap sendu kearahnya.


Ya, Darren terbangun setelah mendengar gumaman Kiran. Darren merasa begitu sedih saat melihat Kiran meninggalkan kamar.


"Aku memang bersalah. Tapi apa pantas dia melakukan hal ini pada suaminya?"


Darren mendengus kasar. Setelahnya ia pun beranjak dari ranjang. Darren menatap kearah jam dinding yang menujukkan pukul 03.00 dini hari. Darren menyugar rambutnya ke belakang dan berjalan menuju balkon.


Suasana sepi dan juga hampa begitu terasa di hati Darren. ia yang biasanya tidur nyenyak sambil memeluk Kiran, Kini harus berdiam diri di balkon.


"Apa yang harus aku lakukan agar Kiran mau memaafkan aku?" lirih Darren. ia mendongak, dan menatap hamparan bintang yang bersinar indah.


Darren memejamkan mata. Tanpa sadar, ia kembali teringat dengan apa yang sudah ia lakukan pada Kiran. Seketika itu, Darren menatap ke arah tangan kanannya.


"Tapi mungkin benar, aku tak pantas di maafkan. Aku sudah melukai hati dan juga fisik Kiran." gumam Darren lirih. Suaranya parau sebab ia menahan tangis.


Cuku lama Darren berdiam diri di balkon sembari bersandar dinding. setelah hatinya merasa lebih tenang, ia pun kembali masuk ke kamarnya yang sepi dan hampa.


"Apa aku harus mengikuti kemauannya untuk berpisah? Tapi rasanya aku tidak sanggup hidup tanpa Kiran."


Darren pun kembali berbaring di ranjang. ia memejamkan mata dan berharap esok ia bisa mendapatkan maaf dari Kiran.


"Namun apa mungkin Kiran akan memaafkannya begitu saja?"



****


Pagi telah datang. Hari ini di rumah Kenzo cukup ramai. Selain itu suasana rumah cukup sendu karena sang pemilik rumah harus pergi dan menetap sementara waktu diluar negeri.

__ADS_1


"Jaga istrimu baik - baik, Darren! Jangan sampai kebodohanmu menyebabkan Kiran menderita," peringat Kenzo. ia menatap tajam ke arah Darren yang sedari tadi diam dan murung.


"Hm, aku tahu, Yah"


"Dan ayah harap kamu segera membawa pergi wanita itu. Tempat ini bukan penampungan, Darren." Sambung Kenzo. Sesekali ia milirik tidak suka ke arah Shelvi.


"Ayah tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik - baik saja. Sudahlah, lebih baik Ayah berangkat sekarang jangan sampai telat," ucap Darren.


Kenzo menghela napas lelah. Kali ini fokusnya beralih pada Kiran yang sedang menangis di pelukkan Helena. Meski hanya dalam sekali lihat, tetapi Kenzo tahu Kiran tengah memendam beban yang cukup besar.


"Jangan menangis lagi, Ran! Mama pasti akan kembali ke rumah ini lagi. Kamu jaga diri baik - baik yah," kata Helena sambil melepaskan pelukannya.


"Mama jaga diri di sana. Jangan lupa hubungi aku kalau sudah sampai," balas Kiran. Air matanya tak kunjung berhenti. jujur saja Kiran merasa begitu kehilangan.


"Iya, ya sudah Mama sama Ayah berangkat dulu. Jangan sampai bertengkar lagi dengan Darren ya!"


"Ya, Mama hati - hati"


Helena menganggukan kepala. Setelah itu Helena pun memeluk Daniel dan Darren bergantian. Helena meneteskan air mata rasanya begitu berat meninggalkan kedua putranya.


"Jangan membuat Kiran menangis lagi, Darren!"


"Kalau begitu mama pergi dulu, Ya! Jaga diri kalian baik - baik!"


Akhirnya, mobil yang membawa Kenzo dan Helena pun berlalu pergi.


Darren menghembuskan napas panjang dan ia melirik ke arah Kiran.


Darren berjalan mendekati Kiran. ia hendak mengajak Kiran untuk kembali berbicara.Namun, belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Kiran justru berbalik dan menatap Daniel.


"Hari ini jadi, kan, Niel? tanya Kiran ia tersenyum manis sambil menatap adik iparnya tersebut.


"Jadi dong, kita berangkat sambil bersiap - siap ya," jawab Daniel sambil senyumnya mengembang.


"Ya sudah kalau begitu aku siap - siap dulu," balas Kiran yang di balas anggukan oleh Daniel.


Setelah itu, Kiran berjalan pelan menuju kamarnya. Sesekali ia bersenandung untuk memendam rasa kecewa dan gundahnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana dengan Daniel?" tanya Darren tepat ketika ia dan juga Kiran berada di dalam kamar.


Kiran tidak menjawab ia lebih mrngabaikan Darren dan duduk sembari mengoleskan make up. Kiran tersenyum manis setelah mengoleskan lipstik berwarna nude pada bibirnya.


"Jawab aku, Kiran! Kamu mau kemana?" tanya Darren lagi. ia menatap tajam kerah Kiran. Sementara Kiran? ia tidak mempedulikan Darren.


"Aku mau pergi, Kenapa memangnya?" Kiran bertanya balik tanpa menatap ke arah Darren.


"Kemana?"


"Jalan - jalan," jawab Kiran singkat.


"Kenapa harus dengan Daniel. Kamu itu punya suami, Ran. Seharusnya kamu mengajakku, bukan dia" tukas Darren. Hatinya mendadak cemburu setelah mendengar Kiran akan pergi dengan Daniel.


"Loh, aku lupa kalau aku punya suami," balas Kiran. ia terkekeh santai lalu merapikan rambutnya.


Darren menggeram tertahan ia mengepalkan tangannya kuat.


"Jangan bercanda Kiran, aku tidak pernah mengizinkanmu pergi dengan Daniel. Kalau pergi harus bersamaku." sentak Darren


"Bukankah kamu sedang sibuk menjaga Shelvi, Tuan? Jadi biarkan aku pergi dengan Daniel. Lagi pula kita sudah berjanji untuk pergi bersama - sama," ia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah lemari.


"Jangan membahas Shelvi, Ran! Aku sedang berbicara serius denganmu. Dan satu lagi jangan pernah memanggilku, Tuan!"


Darren mengikuti langkah Kiran. ia berdiri sembari memperhatikan Kiran yang sedang fokus memilih baju.


"Aku juga sedang serius memilih baju, Tuan? Jadi bisakah kamu diam. Ah iya, Aku merasa tidak pantas jika memanggilmu seperti sebelumnya,"


Darren tercengang. Matanya membulat dan mulutnya terbuka lebar. Rupanya Darren tidak mudah mendapatkan maaf dari Kiran.


"Ran, Kamu...." ucapan Darren terhenti. Matanya melotot ketika melihat Kiran membuka baju di depannya.


Darren menekan salivanya susah payah. Terlebih lagi ketika melihat Kiran hanya memakai pakaian dalam.


"Aku sudah mengatakan padamu, Tuan. Aku tidak akan mengurusi hidupmu. Jadi tolong, jangan ikut campur urusanku juga!" kata Kiran. ia berbalik dan memakai bajunya tepat di hadapan Darren.


"Tidak bisa gitu, Ran! Kamu itu masih sah menjadi istriku. Jadi apapun yang ingin kamu lakukan, harus mendapatkan izin dariku," tegas Darren. sembari sesekali curi pandang pada tubuh Kiran yang semakin Sexy.

__ADS_1



Jangan lupa like komen dan Vote.


__ADS_2