Menikahi Pembantuku

Menikahi Pembantuku
Pisah


__ADS_3

Kiran bergumam pelan. Setelahnya ia pun membuka mata. Kiran terdiam ketika matanya beradu pandang dengan Darren.


"Bangun dan minumlah! Setelah itu makan," ujar Darren sembari menatap gelas di atas nakas.


Selesai bicara, tanpa menunggu jawaban dari Kiran. Darren beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Darren memutuskan membersihkan diri sebelum nantinya makan malam bersama Kiran.


Kiran duduk sembari menatap segelas susu coklat yang berada di atas nakas. Kiran menghela napas pelan, Suasana hampa di hatinya tak kunjung padam meski Darren sudah pulang.


...'Entah hanya perasaanku saja, atau dia memang kembali seperti dulu?' ucap Kiran dalam hati....


*****


"Kenapa nggak di minum? Hari ini kamu belum minum itu, Kan?" tanya Darren yang melihat isi gelas masih utuh.


Kiran menggeleng pelan. ia menatap Darren lekat dan berkata, "Perutku nggak nyaman," jawab Kiran.


Darren mengangguk, tanpa banyak bicara ia berjalan menuju lemari untuk mengambil baju. Selesai berpakaian Darren kembali menghadap ke arah Kiran.


"Kalau begitu ayo makan!" ajak Darren sembari mengulurkan tangannya pada Kiran. Namun, alih - alih menerima uluran tangan Darren. Kiran justru menggeleng.


"Kamu makan sendiri sana. Aku capek mau tidur," kata Kiran. Setelah itu kembali berbaring membelakangi Darren.


"Tapi kamu belum makan, Ran. Nanti kamu...."


"Udahlah! Aku mau tidur, capek. Kalau kamu mau makan, sendiri aja sana!" tukas Kiran. Suaranya meninggi sehingga Darren pun mulai terbawa emosi.


Darren memejamkan mata sejenak. ia menghembuskan napas panjang guna meredam rasa marah yang membuat dadanya sesak. Setelah merasa cukup tenang, Darren menepuk pundak Kiran pelan.


"Jangan begin, Ran! Aku janji akan membawa Shelvi pergi dari rumah ini. Tapi aku mohon, kamu jangan marah - marah terus," kata Darren berusaha membujuk Kiran.

__ADS_1


"Terserah, aku tidak peduli. Kamu mau menikahi Shelvi atau mengusirnya pun, aku sama sekali tidak peduli," sentak Kiran sambil menatap ke arah Darren.


Tatapan matanya begitu tajam meski mulai berkaca - kaca. Deru napas Kiran semakin memberat. Emosinya sedang tidak stabil, tetapi Darren justru membahas Shelvi di depannya.


Darren tertegun mendengar kemarahan Kiran. " Baik, Sekarang apa maumu?" tanya Darren. Tatapan matanya begitu teduh saat beradu pandang dengan Kiran.


"Aku...., Aku..." Kiran tidak mampu melanjutkan ucapannya. Tangisnya pecah karena luapan emosi yang tak mampu ia tahan.


"Kamu benar - benar ingin berpisah denganku, hm? Kalau berpisah denganku bisa membuatmu memaafkan aku, aku rela Ran. Tapi aku mohon, jangan seperti ini!" ujar Darren. Tatapan matanya begitu sendu, begitu pula raut wajahnya.


Kiran terdiam, air matanya menggenang di pelupuk matanya perlahan mengalir membasahi pipi. Perkataan yang baru saja di ucapkan oleh Darren, sukses membuat hatinya semakin merasa tidak nyaman.


"Demi Tuhan, Ran! Aku menyesal sudah memukulmu. Aku berjanji akan segera mengusir Shelvi dari rumah ini. Tapi kalau kamu memang ingin kita berpisah, baik ayo kita lakukan," sambung Darren. Matanya memerah dan berkaca - kaca. Tangannya yang semula menggengam erat jemari Kiran, Kini perlahan melonggar.


Darren tertunduk lesu di depan Kiran. ia menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut. Tanpa Kiran sadari, Perlahan - lahan air mata yang sejak tadi Darren tahan mulai luruh membasahi pipinya.


"A...Aku" ucapan Kiran terhenti. Sama halnya dengan Darren, ia tertunduk dengan kedua tangan yang saling meremas. Kiran bimbang, perasaannya kacau. Hatinya kecewa dengan Daren Tapi di sisi lain ia amat mencintainya.


"Aku akan segera mengurusnya kalau kamu memang ingin berpisah dariku. Setelah itu, aku berjanji padamu. Tidak akan menganggu ataupun ikut campur dengan semua hal yang kamu lakukan," ujar Darren dengan suara yang begitu parau.


"K...Kamu yakin dengan ucapanmu? Kamu ingin melepaskan aku?" tanya Kiran sambil menyentuh lengan Darren. Dadanya bergemuruh menahan segala emosi yang melandanya.


"Bukankah itu kemauanmu? Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar kamu bisa memaafkanku, Ran. Jika jalan satu - satunya hanya dengan berpisah, aku rela." lirih Darren. ia menatap nanar ke arah Kiran yang juga sedang menatapnya.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu lakukan? Bukankah aku sudah mengajakmu untuk berpisah beberapa hari yang lalu?" tanya Kiran. Tatapan matanya terlihat begitu datar. Namun, meski begitu terlihat pancaran penuh kecewa dari kedua manik Kiran.


Mendengar ucapan Kiran, Darren menghembuskan napas pelan. ia menatap wajah Kiran yang beberapa hari ini selalu mendiamkannya. Tangan Darren terangkat lalu menyentuh perut Kiran dengan lembut.


"Aku sangat mencintaimu, Jadi aku pikir aku bisa mendapatkan maaf darimu. Aku juga berpikir jika mungkin aku bisa mempertahankankan hubungan ini. Tetapi ternyata aku salah. Kamu lebih memilih pernikahan ini hancur, Kan?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah sekalipun menginginkan pernikahan kita hancur. Aku juga tidak ingin berpisah darimu. Tapi sayangnya, kamu telah menghancurkan semuanya. Kamu juga telah membuatku kecewa," balas Kiran. ia menyingkirkan tangan Darren yang berada di atas perutnya.


"Apa kamu pikir aku juga tidak kecewa denganmu, Ran? Kamu membuatku merasa tidak di hargai sebagai seorang suami."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kapan aku tidak menghargaimu?" tanya Kiran sambil mengernyitkan dahi.


"Aku tahu semuanya, Ran. Diam - diam kamu masih sering berhubungan dengan Arya, Kan? Kalian berdua masih berkirim pesan, Kan?" tanya Darren. Tatapan matanya yang sendu menatap lurus tepat pada kedua manik mata Kiran.


Kiran terdiam beberapa saat. Matanya mengerjap pelan. Ia menghembuskan napas panjang kemudian berkata, "Tapi itu hanya pesan biasa. Lagi pula kami hanya bertukar cerita saja. Tidak ada hubungan yang spesial." jawab Kiran.


"Kalau begitu sama denganku, Ran. Aku juga tidak pernah menganggap Shelvi itu spesial. Aku hanya menganggap Shelvi, sebagai seorang adik."


"Tapi kamu lebih membela dia dibandingkan aku. Kamu juga tega menampar aku hanya karena membela wanita gila seperti dia!" tukas Kiran matanya berapi - api, rasa kesalnya semakin besar berkali - kali lipat.


Darren tersenyum tipis. Ia mendekati Kiran kemudian menangkup ke dua pipinya. "Kamu tahu? Kenapa aku bisa memukulmu dan membela Shelvi?" tanya Darren.


"Karena kamu membenciku, Kan? Kamu lebih memilih Shelvi yang cantik dan berpendidikan itu! balas Kiran. Ia mencoba melepaskan dirinya dari Darren.


"Bukan! Kamu salah besar, Ran. Mungkin caraku memang salah dan fatal. Tapi ketahuilah! Aku hanya tidak suka mendengarmu berbicara kasar Dan ada satu hal yang tidak bisa aku katakan terkait Shelvi." jawab Darren.Matanya begitu teduh dan menenangkan saat beradu pandang dengan Kiran.


"Bohong! Seharusnya kamu bisa menegurku dengan baik. Tapi kamu malah......" ucapan Kiran terhenti.


"Istriku adalah wanita yang baik dan lugu. Selama ini kamu tidak pernah berbicara kasar seperti itu. Jadi, aku terkejut dan tidak sadar menamparmu. Tapi sebenarnya ada hal lain yang memb....


Apa sebenarnya rencana Darren terhadap Shelvi? Sehingga Darren sampai berbuat kasar pada Kiran?


Nantikan terus kisah mereka ya~~


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote. Kalau berkenan silahkan tekan tombol like...like..like..like...like...like😁


__ADS_2