
"Sebentar, Ran!" ujar Darren sebelum ia memasuki mobil Darren mendekati Kiran dan juga Arka.
"Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Kiran ia menatap heran ke arah Darren.
"Besok atau lusa, ada seseorang babysitter yang akan membantumu."
"Lho, aku tidak memerlukannya, Mas. Aku bisa kok mengurus Arka sendirian." kata Kiran.
"Aku tahu, tapi aku tidak mau sampai kalau kamu kelelahan, Ran. jadi jangan menolak!"
Kiran menghembuskan napas panjang. Ia menggangguk pelan kemudian tersenyum tipis. " Baiklah kalau begitu terima kasih banyak karena kamu sudah sangat perhatian denganku, Mas."
"Itu sudah kewajibanku untuk selalu perhatian denganmu," balas Darren ia mengulas senyum lembut kemudian mengecup singkat bibir Kiran.
Hati Kiran menghangat ia merasa begitu bahagia. Dulu, ia tidak pernah membayangkan bisa hidup bahagia bersama dengan Darren. Bahkan, dirinya hampir putus asa dan menyerah. Namun, Tuhan begitu baik padanya hingga semua yang ia inginkan satu persatu mulai terwujud.
"Terus begini ya, Mas! Jangan berubah apalagi melirik wanita lain! Aku mencintaimu," ujar Kiran. Ia memeluk Darren tanpa menyakiti Arka yang berada dalam gendongannya.
"Aku tidak punya waktu untuk melirik wanita lain, Ran," balas Darren, ia terkekeh lalu mengecup pipi Arka.
"Baguslah. Aku harap kamu tetap setia meski sekarang aku tidak secantik dulu."
"Hei kata siapa kamu tidak cantik, hm? Kamu luar biasa, Sayang. Bahkan menurutku kamu adalah wanita paling cantik di muka bumi ini." balas Darren sambil menyentuh kedua pundak Kiran.
__ADS_1
Kiran mencebikkan bibirnya. " Dasar Gombal. Sudah sana berangkat!" ujar Kiran sambil mendorong Darren dengan satu tangan.
"Aku nggak gombal, Sayang. Aku bicara jujur," kata Darren penuh keyakinan. Matanya menatap begitu serius sehingga membuat Kiran pun menjadi gugup.
"I...Iya aku tahu. Tapi cepatlah berangkat! Jangan sampai terlambat." ucap Kiran gugup.
"Baiklah aku berangkat dulu ya! Kalau kamu rindu langsung telepon saja," gurau Darren sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar. Padahal dulu kamu selalu bersikap kasar dan dingin kepadaku, Mas. Tapi sekarang kenapa kamu manis sekali."
"Dulu aku masih tersesat, Ran. Tapi sekarang aku sudah bisa menemukan jalan pulang," bisik Darren ia yang tadi sudah berniat pergi, kini kembali mendekati Kiran dan mengecup keningnya.
Kiran tidak membalas apapun. ia hanya tersenyum sembari mengusap pipi Darren.
Setelah merasa puas bermesraan dengan Kiran, kini Darren benar - benar berangkat. Sepanjang perjalanan, senyum manis tidak kunjung pudar dari bibirnya.
***
"Mbak aku hari ini pulang ya," kata Citra sambil mendekat ke arah Kiran yang sedang duduk di sofa.
Kiran mendongak, ia menatap heran ke arah Citra yang sudah tampak rapi. " Lho bukannya kamu sudah janji mau menunggu sampai acara syukuran Arka selesai?" tanya Kiran.
"A...Aku tidak bisa berlama - lama disini, Mbak. Aku harus segera pulang," kata Citra tanpa menatap ke arah Kiran. Ia menunduk sembari meremas jari jemarinya sendiri.
__ADS_1
Kiran semakin heran, saat melihat tingkah Citra. Ia merasa jika saat ini Citra telah menyembunyikan sesuatu. Bahkan, ia bisa melihat pancaran ketakutan dari kedua manik mata Citra.
"Kenapa mendadak begini? memangnya kamu ada urusan penting di rumah?"
"Y..Ya aku masih ada urusan penting. Dan waktu cutiku sudah habis, Mbak. Jadi maaf kalau tidak bisa di sini terlalu lama."
"Sayang sekali. Tapi ya sudahlah kalau itu memang mau kamu. Hati - hati di jalan! Jangan lupa hubungi aku saat kamu sudah sampai di rumah!" ujar Kiran.
"Baik Mbak. Kalau begitu aku permisi ya. Aku harap Mbak Kiran dan Arka selalu sehat."
"Aamin, terima kasih banyak, Citra. Oh, iya kamu di antar Daniel, kan?"
Mendengar nama Daniel sontak wajah Citra berubah. Ia terlihat gugup dan juga salah tingkah.
"T...Tidak Mbak, aku pulang sendiri,"
"Eeeh jangan! Kamu 'kan belum tahu daerah sini. Kalau kamu nggak mau sama Daniel yang antar, biar sopir saja yang mengantarmu sampai bandara." Saran Kiran pad Citra.
"Memangnya tidak merepotkan, Mbak?"
"Tidak kok! Ya sudah kamu siap - siap dulu sana! Biar aku bicara dulu dengan sopirnya"
Citra menganggukan kepala. Setelah itu ia pun bergegas menuju kamar tamu. Namun, belum sempat ia sampai di kamar, seseorang sudah lebih dulu menarik tangannya.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa like, komen, dan vote.